Cerita Pilu Ayah Sopir Cadangan Bus ALS yang Kecelakaan, 3 Tahun Tak Bertemu Malah Diambil DNA
Gusti Pulungan (66) tak kuasa menahan kesedihan setelah mendengar anak sulungnya, Zulham Effendi alias Maleh (42), menjadi salah satu korban meninggal dunia.
Gusti Pulungan (66) tak kuasa menahan kesedihan setelah mendengar anak sulungnya, Zulham Effendi alias Maleh (42), menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan bus ALS-truk tangki di Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatra Selatan. Maleh merupakan sopir cadangan bus nahas tersebut.
Gusti Pulungan tiba di Palembang setelah melalui perjalanan darat dari kampungnya di Bogor, Jawa Barat, Jumat (8/5) pagi. Awalnya dia mengutus anak keduanya ke Palembang untuk memastikan nasib Maleh.
Namun tim DVI memerlukan tes DNA dari ayah kandung korban sehingga Gusti Pulungan harus menyusul ke RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang. Dia telah diambil sampel DNA berupa urine dan air liur untuk proses identifikasi.
"Sudah diambil (DNA) pagi tadi, kata dokter hasilnya dua minggu lagi," kata Gusti Pulungan, Jumat (8/5).
Firasat dalam Sepekan
Gusti mengaku seminggu ini ia memiliki firasat yang dianggapnya hanya perasaan lumrah ayah kepada anak. Dia selalu teringat dan merasa kerinduan mendalam kepada Maleh setelah tiga tahun tak bertemu.
"Enggak tahu juga kenapa, seminggu ini saya ingat Maleh terus, biasanya enggak, ini lagi makan keingat, pas tidur juga kebawa mimpi," kata Gusti.
Gusti bercerita Maleh adalah sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Sejak lulus SMA, Maleh mencari pekerjaan dan akhirnya diterima sebagai kernet bus ALS rute Semarang-Medan.
Berkat kegigihannya, Maleh diangkat menjadi sopir cadangan. Maleh kemudian menikah dan tinggal di Medan.
Terakhir Bertemu 3 Tahun Lalu
Gusti mengaku terakhir bertemu dengan Maleh tiga tahun lalu, itu pun secara tak sengaja. Kebetulan Maleh sedang makan di rumah makan di Bogor hingga mereka makan bersama.
"Itu kenangan terakhir saya bertemu dengan Maleh," kenang Gusti.
Firasat Gusti ternyata merupakan petunjuk perpisahan dengan Maleh untuk selamanya. Dia mendapat kabar dari keluarga di Lampung bahwa Maleh mengalami kecelakaan bersama bus ALS di Muratara.
"Tak terbayang bagaimana perasaan saya mendapat kabar itu. Ternyata ini kenapa saya selalu teringat kepadanya," kata Gusti.
Gusti berharap dokter forensik segera mengidentifikasi anaknya agar dapat dimakamkan. Dia tak ingin keluarga, terutama dan dua anak Maleh, terlalu lama menanggung kesedihan mendalam menunggu kepastian jenazah korban.
"Keluarga memutuskan bakal dimakamkan di Medan. Semoga jenazah cepat kami terima, kasihan istri dan anak-anaknya," tutup Gusti.