Proses Identifikasi 16 Korban Bus ALS Terbakar Terkendala, Kondisi Jenazah Hangus hingga Tulang
Kebakaran hebat yang terjadi saat kecelakaan membuat tubuh korban rusak sangat parah, bahkan mencapai 99 persen.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumatra Selatan masih terus berupaya mengidentifikasi 16 korban kecelakaan maut antara bus ALS dan truk tangki di Musi Rawas Utara (Muratara). Proses identifikasi mengalami kendala berat karena sebagian besar kondisi korban sudah hangus terbakar.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang, Kombes Pol Budi Susanto, mengungkapkan bahwa kebakaran hebat yang terjadi saat kecelakaan membuat tubuh korban rusak sangat parah, bahkan mencapai 99 persen.
"Terbakar hangus dari kulit sampai ke tulang, bahkan giginya tidak berbentuk utuh tapi pecahan," ungkap Kepala RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang Kombes Pol Budi Santoso, Jumat (8/5).
Tim DVI Libatkan Dinkes Sumsel
Menghadapi kondisi jenazah yang sulit dikenali secara visual, Tim DVI Polda Sumsel menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatra Selatan untuk membantu proses identifikasi korban. Kolaborasi lintas instansi tersebut dilakukan guna mempercepat pengungkapan identitas para korban yang hingga kini belum berhasil dikenali.
Menurut Budi, metode identifikasi yang digunakan saat ini mengedepankan scientific identification atau identifikasi ilmiah. Proses tersebut meliputi pemeriksaan DNA, sidik jari, data gigi primer, hingga pencocokan data ante mortem dari keluarga korban.
Sampel DNA Dipilih Secara Hati-Hati
Tim DVI saat ini masih memilah bagian tubuh korban yang dinilai masih memungkinkan untuk dijadikan sampel pemeriksaan DNA. Proses itu dilakukan secara sangat hati-hati karena kondisi jenazah mengalami kerusakan berat akibat kebakaran.
Sampel yang berhasil diambil kemudian dikirim ke Laboratorium DNA Pusdokkes Polri melalui jalur protokol khusus agar proses pemeriksaan berjalan lebih cepat dan akurat.
Budi menjelaskan hasil pemeriksaan DNA diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu sekitar lima hingga 14 hari.
"Kami mohon doa, semoga tim kami bisa mengambil beberapa sampel yang layak dan mengandung unsur DNA," kata Budi.