DVI Andalkan Sampel Tulang untuk Identifikasi Korban Tabrakan Maut di Muratara
Tim DVI Pusdokkes Polri berupaya keras mengidentifikasi 17 jenazah korban tabrakan bus ALS dan truk tangki BBM di Muratara, mengandalkan sampel tulang untuk pemeriksaan DNA.
Sebanyak 17 jenazah korban tabrakan maut antara bus ALS dan truk tangki BBM di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, kini dalam proses identifikasi. Insiden tragis ini terjadi pada Sabtu, 9 Mei, menyebabkan sebagian besar korban sulit dikenali karena kondisi jenazah.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri telah diturunkan untuk menangani identifikasi korban. Mereka menghadapi tantangan besar karena kondisi jenazah yang tidak utuh akibat panas api saat kecelakaan.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim DVI Pusdokkes Polri mengandalkan pemeriksaan deoxyribonucleic acid (DNA) dari sampel tulang. Metode ini menjadi pilihan utama mengingat kerusakan parah pada jaringan lunak dan properti pribadi korban.
Tantangan Identifikasi Konvensional
Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri, Komisaris Besar Polisi Wahyu Hidayati, menjelaskan bahwa proses identifikasi korban melalui ciri fisik maupun properti pribadi mengalami kendala. Sebagian besar barang milik korban terlepas dari tubuh saat insiden, mempersulit pencocokan awal.
Selain itu, metode identifikasi melalui data gigi, yang umumnya menjadi pembanding utama dalam kasus kebakaran, juga sulit dilakukan. Kondisi gigi korban sudah rapuh dan hancur akibat suhu panas yang sangat tinggi dari kobaran api.
Tim DVI sebelumnya berharap identifikasi dapat dilakukan melalui pemeriksaan gigi, sebagaimana pada sejumlah kasus kebakaran sebelumnya. Namun, besarnya kobaran api dalam kecelakaan bus dengan truk tangki BBM itu menyebabkan kerusakan berat pada sebagian besar tulang korban, termasuk gigi.
Metode DNA Tulang Merah Jadi Harapan
Dalam kondisi jenazah yang sulit dikenali, tim DVI memilih untuk mengambil sampel dari bagian tulang. Mereka secara spesifik mencari tulang yang masih berwarna kemerahan, yang diperkirakan masih mengandung DNA yang dapat diekstraksi.
Komisaris Besar Polisi Wahyu Hidayati menegaskan pentingnya memilih tulang yang tepat untuk analisis DNA. "Kita juga memilih tulang yang masih merah, yang kira-kira masih ada DNA-nya. Karena kalau tulangnya sudah jadi arang, tidak bisa," jelasnya.
Pendekatan ini menjadi krusial karena jaringan lunak korban sudah tidak utuh akibat panas api saat kecelakaan terjadi. Sampel tulang yang masih utuh menjadi satu-satunya harapan untuk mendapatkan profil DNA yang akurat.
Proses dan Harapan Identifikasi DNA
Proses pemeriksaan DNA diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, paling cepat lima hari, untuk memperoleh profil DNA yang akurat. Durasi ini diperlukan untuk memastikan hasil identifikasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hingga saat ini, tim DVI telah menerima 15 sampel antemortem dari keluarga korban. Sampel-sampel ini sangat penting sebagai data pembanding untuk mencocokkan dengan profil DNA yang diekstraksi dari jenazah.
Sampel antemortem dari keluarga diharapkan dapat membantu mengungkap identitas 16 jenazah korban kecelakaan bus ALS, termasuk satu korban anak-anak. Tim DVI memohon doa agar semua profil DNA dapat segera muncul dan membantu proses identifikasi.
Sumber: AntaraNews