Startup Ini Ingin Manusia Lahir dan Tinggal di Dasar Samudra pada 2050
Proyek ini disebut-sebut sebagai “SpaceX versi samudra” dan ditujukan untuk membuka era baru eksplorasi bawah laut.
Startup teknologi kelautan asal Inggris, DEEP, tengah menyiapkan proyek ambisius untuk membangun hunian manusia permanen di dasar laut pada tahun 2027.
Proyek ini disebut-sebut sebagai “SpaceX versi samudra” dan ditujukan untuk membuka era baru eksplorasi bawah laut, di tengah kenyataan bahwa 90 persen wilayah laut Bumi masih belum terpetakan.
“Kami ingin memberi dampak seperti SpaceX — membuat laut kembali seksi,” kata Presiden DEEP, Sean Wolpert, dalam wawancara dengan Euronews dikutip dari Popular Mechanic, Selasa (13/5).
Hunian pertama bernama Vanguard akan dibangun menggunakan teknologi pencetakan logam tahan tekanan tinggi. Struktur ini dirancang untuk kedalaman hingga 100 meter dan dapat menampung tiga orang untuk misi penelitian bawah laut. Selanjutnya, DEEP akan memperkenalkan unit lanjutan bernama Sentinel, yang dirancang untuk ditempati hingga 28 hari di kedalaman 200 meter.
Meskipun upaya manusia untuk tinggal di bawah laut telah dilakukan sejak 1960-an lewat proyek seperti Sealab dan Conshelf, semua masih bersifat sementara. Terbaru, rekor dihuni bawah laut selama 100 hari dicatatkan oleh Dr. Joseph Dituri di Florida pada 2023. Namun risiko seperti dekompresi dan perubahan fisiologis masih menjadi tantangan besar untuk hunian jangka panjang.
Selain tekanan biologis, tantangan psikologis juga mencuat. Dr. Dituri mengaku sangat merindukan sinar matahari saat berada di bawah laut. “Saya makhluk yang butuh cahaya matahari,” katanya kepada NPR.
DEEP menargetkan 10 lokasi hunian bawah laut pada 2035 dan bahkan berharap dapat menyaksikan kelahiran manusia pertama di bawah laut pada 2050. Namun, proyek ini juga memicu kekhawatiran ekologis, terutama soal dampak pembangunan struktur logam terhadap ekosistem laut yang rentan.
“Menjaga laut punya nilai luar biasa untuk masa depan umat manusia,” tegas Wolpert dalam wawancara terpisah dengan Oceanographic.
Apabila berhasil, proyek ini tak hanya menjadi lompatan teknologi, tetapi juga membuka babak baru hubungan manusia dengan lautan—bukan sekadar tempat eksplorasi, tapi tempat tinggal.