Khofifah: Layanan Seamless Corridor Percepat Debarkasi Jamaah Haji Surabaya
Gubernur Khofifah mengapresiasi layanan Seamless Corridor yang percepat pemeriksaan imigrasi jamaah haji Debarkasi Surabaya, kurangi antrean, tingkatkan kenyamanan dengan teknologi iris mata.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyoroti efektivitas layanan seamless corridor yang diterapkan pada kedatangan kelompok terbang (kloter) pertama jamaah haji Debarkasi Surabaya. Layanan inovatif ini secara signifikan mempercepat proses pemeriksaan keimigrasian, menghilangkan kebutuhan jamaah untuk mengantre lama setibanya di Tanah Air. Inisiatif digital ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan bagi para tamu Allah.
Khofifah, yang juga menjabat sebagai Koordinator Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya, menjelaskan bahwa ekosistem digital yang disiapkan oleh pihak imigrasi sangat luar biasa. Para jamaah tidak perlu lagi mengantre panjang; mereka hanya perlu melihat kamera, dan iris mata mereka akan terbaca tanpa perlu paspor dicap. Proses ini sangat memudahkan, terutama bagi jamaah yang telah menempuh perjalanan panjang dan menjalani rangkaian ibadah haji yang menguras tenaga.
Gubernur wanita pertama di Jawa Timur ini mengaku baru pertama kali menyaksikan layanan keimigrasian yang mampu mempercepat proses pemeriksaan bagi penumpang dalam jumlah besar seperti ini. Beliau juga mengungkapkan rasa syukurnya melihat jamaah kloter pertama yang tiba dalam kondisi segar setelah menunaikan ibadah haji. Diharapkan seluruh ibadah haji mereka mabrur dan mabrurah, serta perjalanan mereka senantiasa dipermudah oleh Allah SWT.
Efisiensi Proses Imigrasi dengan Layanan Seamless Corridor
Penerapan layanan seamless corridor telah membawa dampak positif yang besar dalam mempercepat alur kedatangan jamaah haji. Sistem ini memungkinkan identifikasi jamaah secara cepat dan akurat, mengurangi waktu tunggu yang signifikan dibandingkan metode manual. Gubernur Khofifah secara langsung mengamati bagaimana teknologi ini mempermudah proses debarkasi.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Timur, Novianto Sulastono, menjelaskan bahwa Immigration Seamless Process Corridor Gate memanfaatkan identifikasi iris mata. Sistem ini mencocokkan data penumpang dengan manifes penerbangan secara otomatis. Dengan demikian, jamaah hanya perlu memegang paspor, dan data perlintasan mereka sudah tercatat dalam sistem digital.
Novianto menambahkan, layanan ini terbukti sangat efisien. Sebanyak 378 jamaah haji dalam satu penerbangan dapat diproses dalam waktu kurang dari 40 menit. Angka ini jauh lebih cepat dibandingkan sistem manual pada tahun sebelumnya, yang memerlukan dua hingga tiga jam untuk memeriksa jamaah haji dalam satu kloter.
Teknologi Iris Mata dan Akurasi Data Imigrasi
Teknologi identifikasi iris mata menjadi kunci utama keberhasilan layanan seamless corridor ini. Sistem canggih ini memastikan tingkat akurasi yang tinggi dalam pencocokan data jamaah dengan manifes penerbangan. Hal ini tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga meningkatkan keamanan dan validitas data.
Menurut Novianto Sulastono, tingkat akurasi sistem mencapai 99,9 persen. Dari total 378 jamaah yang diperiksa, hanya dua hingga tiga orang yang tidak terbaca oleh sistem, sehingga mereka perlu menjalani pemeriksaan secara manual. Akurasi yang tinggi ini menunjukkan keandalan teknologi yang digunakan.
Penerapan sistem ini juga membantu pencocokan data penumpang secara akurat, memastikan seluruh jamaah yang masuk ke Indonesia terdata dengan baik. Novianto menyebutkan bahwa Surabaya menjadi debarkasi pertama yang menerapkan sistem ini di Asrama Haji, setelah sebelumnya berhasil dioperasikan di Bandara Soekarno-Hatta.
Dampak Positif bagi Kenyamanan Jamaah Haji
Layanan seamless corridor tidak hanya tentang kecepatan, tetapi juga tentang peningkatan kenyamanan bagi jamaah haji. Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan dari Tanah Suci, proses imigrasi yang cepat dan tanpa antrean panjang sangat berarti. Hal ini memungkinkan jamaah untuk segera beristirahat dan berkumpul dengan keluarga.
Khofifah Indar Parawansa menekankan bahwa kemudahan ini sangat membantu jamaah, terutama mengingat rangkaian ibadah haji yang menguras fisik dan mental. Kondisi segar yang terlihat pada jamaah kloter pertama yang tiba menjadi bukti nyata manfaat dari layanan ini. Ini adalah wujud pelayanan prima yang diberikan pemerintah.
Inovasi seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan diterapkan di berbagai titik kedatangan internasional lainnya. Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik dan efisien bagi seluruh warga negara Indonesia, khususnya mereka yang baru kembali dari ibadah atau perjalanan penting lainnya.
Sumber: AntaraNews