China Bangun Stasiun Riset Bawah Laut Terdalam di Dunia
China berencana membangun stasiun riset laut dalam di Laut China Selatan, jadi pusat penelitian ekosistem unik dan potensi energi metana hidrata.
China kembali membuat gebrakan dengan mengumumkan rencana pembangunan stasiun riset bawah laut di kedalaman sekitar 6.000 kaki di Laut China Selatan.
Fasilitas ambisius ini ditargetkan selesai pada 2030 dan mampu menampung hingga enam ilmuwan dalam satu misi selama sebulan penuh.
Proyek ini difokuskan untuk meneliti ekosistem "cold seep"—lingkungan unik yang kaya akan kehidupan laut serta menyimpan cadangan metana hidrata yang melimpah.
Metana hidrata, yang dikenal sebagai es metana, disebut-sebut sebagai sumber energi masa depan yang potensial.
Menurut laporan South China Morning Post, Selasa (4/3), fasilitas ini akan dilengkapi sistem pendukung kehidupan canggih yang memungkinkan para peneliti bertahan di tekanan ekstrem selama berminggu-minggu.
Selain itu, stasiun ini akan memiliki jaringan pemantauan permanen untuk memantau kadar metana, perubahan ekologi, hingga aktivitas tektonik.
Dikendalikan dari Darat dan Dukung Riset Global
Untuk memperkuat fungsinya, stasiun bawah laut ini akan bekerja sama dengan kapal riset tak berawak, kapal permukaan, serta observatorium dasar laut yang terhubung membentuk sistem pemantauan "empat dimensi".
Dengan kolaborasi ini, China ingin menciptakan pusat penelitian laut dalam yang terintegrasi, modern, sekaligus mampu mendukung riset ilmuwan global.
Namun, proyek ini tak lepas dari kontroversi. Laut China Selatan selama ini dikenal sebagai kawasan sengketa yang melibatkan China, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei.
Pengumuman ini datang bersamaan dengan laporan aktivitas militer China di sekitar Taiwan, yang mempertegas ketegangan di kawasan.
Bukan hanya soal geopolitik, Laut China Selatan juga diperebutkan karena kandungan sumber daya alamnya yang melimpah.
Menurut South China Morning Post, kawasan ini diperkirakan menyimpan cadangan metana hidrata sebesar 70 miliar ton—setara separuh cadangan minyak dan gas China saat ini. Belum lagi, kekayaan mineral berharga seperti kobalt dan nikel yang turut menggiurkan.
Bersaing dengan Proyek Amerika Serikat
Langkah China ini juga disebut sebagai respons terhadap proyek serupa yang dipimpin Amerika Serikat. Dua tahun lalu, NOAA dan Proteus Ocean Group mengumumkan rencana membangun stasiun bawah laut modern di lepas pantai Curacao, Karibia.
Stasiun tersebut dirancang sebagai habitat bawah laut bagi ilmuwan, inovator, dan komunitas global untuk meneliti ekosistem laut secara berkelanjutan.
Baru-baru ini, proyek tersebut juga menjalin kemitraan dengan Mirpuri Foundation di Portugal untuk membentuk platform teknologi kelautan pintar (Smart Ocean Tech Platform).
Fokusnya tidak hanya riset ilmiah, tapi juga mitigasi perubahan iklim, pengelolaan polusi laut, konservasi ekosistem, hingga pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.
China dan Amerika Serikat kini sama-sama berlomba menciptakan "stasiun luar angkasa di dasar laut", yang kelak bisa menjadi standar baru eksplorasi bawah laut global.
Dengan teknologi mutakhir dan dukungan kolaborasi ilmiah internasional, proyek-proyek ini diproyeksikan membawa dampak besar bagi ilmu pengetahuan dan geopolitik kelautan di masa depan.