Sektor Penyiaran Perlu Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Ancaman Siber
Lembaga penyiaran kini perlu waspada terhadap potensi serangan siber.
Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) bekerjasama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar Workshop Broadcasting Cyber Security di SCTV Tower, Senayan City, Jakarta.
Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari beberapa pertemuan sebelumnya antara ATVSI dan BSSN yang berfokus pada penguatan ketahanan siber di sektor penyiaran.
“Setelah beberapa kali pertemuan sebelumnya, workshop hari ini merupakan konkritisasi dari kesepakatan ATVSI dan BSSN untuk meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan penyelenggara penyiaran televisi atas kemungkinan kejahatan siber,” ungkap Sekretaris Jenderal ATVSI Gilang Iskandar dalam sambutannya.
Senada dengan itu, Nur Achmadi Salmawan Direktur Keamanan Siber dan Kripto ICT, Media, dan Transportasi BSSN menegaskan bahwa lembaga penyiaran kini menjadi salah satu target potensial serangan digital.
“Dalam kondisi seperti saat ini kita tidak boleh lengah untuk melakukan pengamanan siber termasuk di lembaga penyiaran. Kita tidak tahu kapan kejahatan itu datang. Insiden seperti data breach, defacement, ransomware maupun manipulasi konten digital dapat menjadi gangguan serius bagi reputasi, siaran, dan kepercayaan publik terhadap lembaga penyiaran,” ujar Salmawan.
Data dari Tim Security Operation Center (SOC) BSSN menunjukkan bahwa serangan siber terhadap sistem elektronik nasional terus meningkat dari tahun ke tahun.
Sepanjang Januari hingga Juli 2025 BSSN mencatat lebih dari 3,64 miliar anomali trafik yang berpotensi sebagai serangan siber.
Jika dihitung sejak 2020 hingga pertengahan 2025 jumlahnya mencapai lebih dari 6,7 miliar anomali dengan rata-rata sekitar 1,1 miliar aktivitas mencurigakan per tahun.
Jenis ancaman yang paling sering muncul meliputi penyebaran malware, kebocoran data, trojan, dan manipulasi konten digital.
Data BSSN ini menegaskan bahwa meski tidak semua anomali berujung pada serangan yang berhasil, angka tersebut menunjukkan tingginya intensitas ancaman dan meningkatnya risiko keamanan siber nasional.
Tren fluktuatif juga terlihat dalam laporan tahunan BSSN dimana pada tahun 2022 tercatat 976 juta anomali trafik, sempat turun menjadi 403 juta pada 2023. Namun melonjak tajam kembali pada 2025 seiring meningkatnya aktivitas digital masyarakat dan lembaga.
Harapan
Melalui kegiatan ini ATVSI berharap setiap stasiun televisi dan grup media mampu membangun sistem keamanan siber internal yang lebih tangguh baik untuk melindungi infrastruktur penyiaran maupun aset digital.
“Keamanan siber kini bukan lagi pilihan tetapi kebutuhan mendesak. Gangguan sekecil apapun di sistem digital bisa berdampak langsung pada reputasi dan kepercayaan publik terhadap lembaga penyiaran,” ujar Gilang Iskandar.
Workshop ini diikuti oleh personil bagian Information Technology (IT) dari 10 stasiun televisi anggota ATVSI. Tim dari BSSN menjadi narasumber. Terjadi diskusi yang produktif antara narasumber dan peserta. Menutup pernyataannya, Sekretaris Jenderal ATVSI mengatakan bahwa akan ada lanjutan dari workshop ini.
“ATVSI dan BSSN mengarah kepada terbentuknya gugus tugas Kemanan Siber Penyiaran sehingga tindakan preventif maupun korektif atas kejahatan siber penyiaran bisa dikomunikasikan, dikoordinasikan dan eksekusi melalui gugus tugas ini”.