Jakarta, 14 Maret 2026 – PT Bank Saqu Indonesia mengimbau seluruh nasabahnya agar lebih berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan digital, terutama menjelang perayaan Idul Fitri 2026. Periode ini seringkali menjadi waktu di mana aktivitas transaksi digital masyarakat mengalami peningkatan signifikan, sehingga berpotensi menjadi target empuk bagi pelaku kejahatan siber.
Sebagai respons terhadap ancaman ini, Bank Saqu meluncurkan inisiatif kampanye edukatif bertajuk "Awas Hantu Cyber". Kampanye ini merupakan bagian dari komitmen Bank Saqu untuk terus mendampingi nasabah, memastikan mereka dapat bertransaksi secara aman dan nyaman di tengah pesatnya perkembangan era digital.
Angela Lew Dermawan, Chief Digital & Retail Business Officer Bank Saqu, menegaskan bahwa kejahatan siber di dunia digital seringkali datang tanpa disadari dan tidak selalu terlihat jelas. Namun, dampak yang ditimbulkan bisa sangat nyata dan merugikan bagi masyarakat, sehingga kewaspadaan menjadi kunci utama.
Advertisement
Advertisement
Data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan adanya ratusan juta anomali trafik siber yang terjadi setiap tahun di Indonesia, yang berpotensi mengarah pada berbagai serangan digital. Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa ancaman siber merupakan isu serius yang harus diwaspadai oleh setiap individu dan institusi.
Sementara itu, laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa kerugian yang dialami masyarakat akibat penipuan digital, termasuk social engineering dan penyalahgunaan OTP, diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,5 triliun pada tahun 2024. Angka fantastis ini menggambarkan betapa rentannya masyarakat terhadap kejahatan siber jika tidak memiliki literasi dan kewaspadaan yang memadai.
Laporan industri lainnya juga mencatat bahwa sepanjang November 2024 hingga September 2025, terdapat lebih dari 274 ribu laporan penipuan finansial di Indonesia. Estimasi kerugian publik dari kasus-kasus ini bahkan mencapai lebih dari Rp6 triliun, menyoroti urgensi edukasi dan penguatan sistem keamanan digital.
Advertisement
Advertisement
Untuk mengatasi peningkatan risiko ini, Bank Saqu meluncurkan kampanye "Awas Hantu Cyber" yang akan disebarkan melalui berbagai kanal digital, termasuk media sosial dan platform lainnya. Kampanye ini dirancang untuk menjangkau masyarakat luas dengan informasi yang mudah dicerna dan relevan.
Melalui serial konten edukasi ini, masyarakat akan diajak untuk mengenali berbagai karakter "hantu cyber" yang merepresentasikan modus penipuan yang sering terjadi. Pendekatan storytelling yang ringan dan mudah dipahami digunakan agar pesan-pesan keamanan dapat tersampaikan secara efektif.
Angela Lew Dermawan menjelaskan bahwa Bank Saqu ingin membantu masyarakat tidak hanya mengenali modus penipuan, tetapi juga memahami langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melindungi diri. Hal ini sejalan dengan tujuan Bank Saqu untuk menciptakan ekosistem keuangan digital yang lebih aman bagi semua.
Advertisement
Advertisement
Selain fokus pada edukasi masyarakat, Bank Saqu juga terus memperkuat sistem keamanan internalnya serta meningkatkan upaya perlindungan transaksi digital. Langkah-langkah ini diambil untuk memberikan pengalaman perbankan yang aman dan terpercaya bagi seluruh nasabah.
Sebagai bank yang merupakan bagian dari Astra Financial dan WeLab, Bank Saqu tidak hanya berinovasi dalam layanan keuangan, tetapi juga aktif mendorong peningkatan literasi keuangan digital bagi masyarakat. Komitmen ini menunjukkan bahwa Bank Saqu memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar penyedia layanan perbankan.
"Bank Saqu ingin menjadi lebih dari sekadar penyedia layanan perbankan. Kami ingin hadir sebagai mitra finansial yang membantu nasabah merasa lebih aman dan percaya diri dalam menjalani aktivitas finansial di dunia digital," ujar Angela. Ini menunjukkan visi Bank Saqu untuk menjadi pendamping setia nasabah dalam menghadapi tantangan dunia digital.
Advertisement
Sumber: AntaraNews