Menteri Meutya Sebut Pidato Prabowo di PBB Punya Pesan Kuat
Sikap tegas tersebut lahir dari pengalaman panjang bangsa Indonesia yang pernah merasakan pahitnya penjajahan dan ketidakadilan.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menyebut pidato Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (23/9), sebagai salah satu pernyataan paling berani Indonesia di panggung dunia.
Dalam forum internasional itu, Presiden menegaskan kesiapan Indonesia mengirim hingga 20.000 pasukan perdamaian ke Gaza maupun wilayah konflik lain jika diputuskan PBB.
“Presiden ingin menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bicara soal perdamaian. Kita siap ikut menanggung beban itu dengan prajurit kita, bahkan dengan dukungan dana. Pesan ini kuat sekali: Indonesia tidak akan diam,” kata Meutya di Jakarta, Rabu (24/9).
Kebenaran Harus Berdiri di Atas Kekuasaan
Meutya menilai sikap tegas tersebut lahir dari pengalaman panjang bangsa Indonesia yang pernah merasakan pahitnya penjajahan dan ketidakadilan.
“Karena itu ketika Presiden mengatakan ‘kekuasaan tidak bisa menjadi kebenaran, kebenaranlah yang harus menjadi kebenaran’, dunia patut mendengarnya,” ujarnya.
Menurutnya, pesan itu mempertegas bahwa Indonesia, meski sebagai negara berkembang, mampu mengambil peran penting dalam menyuarakan keadilan di level global.
Indonesia Ambil Peran Aktif
Meutya menegaskan, langkah Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menunggu, melainkan aktif menawarkan solusi konkret untuk perdamaian.
“Indonesia tidak menunggu. Kita menawarkan solusi. Kita ingin menjadi bangsa yang memberi harapan, bukan hanya untuk Palestina, tapi untuk kemanusiaan,” kata Meutya.
Lebih jauh, ia menegaskan pernyataan Presiden juga meneguhkan posisi Indonesia dalam mendukung solusi dua negara: Palestina yang merdeka berdampingan dengan Israel yang aman.