Kehadiran Prabowo di KTT Gaza di Mesir dan Sinyal Positif Menuju Perdamaian Dunia
Langkah diplomatik Prabowo selama ini menunjukkan konsistensi dan keberanian politik yang jarang ditunjukkan pemimpin negara berkembang.
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza yang digelar di Mesir pada Senin 13 Oktober 2025. KTT Gaza di Mesir ini menjadi momentum penting dalam sejarah diplomasi global. Sebab, di tengah krisis kemanusiaan berkepanjangan di Jalur Gaza, kehadiran Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, membawa harapan baru, bukan hanya bagi rakyat Palestina, tetapi juga bagi masa depan perdamaian dunia.
KTT yang dipimpin bersama oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi itu dihadiri lebih dari 20 kepala negara. Dalam pertemuan ini, sorotan dunia akan tertuju pada figur Prabowo. Karena di antara para pemimpin besar dunia, Prabowo hadir bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai simbol moral dan suara keadilan yang konsisten dari Asia, hal itu telah dibuktikannya dalam Sidang Umum PBB, pidatonya yang berapi-api menggetarkan forum yang dihadiri perwakilan 193 negara dan disiarkan televisi di seluruh dunia pada 23 September 2025 lalu.
Langkah diplomatik Prabowo selama ini menunjukkan konsistensi dan keberanian politik yang jarang ditunjukkan pemimpin negara berkembang. Dalam berbagai forum, Prabowo bukan hanya berbicara soal perdamaian, tetapi menyiapkan langkah konkret, termasuk kesiapan Indonesia mengirim 2.000 pasukan perdamaian ke Gaza jika diminta dunia internasional. Ini adalah bentuk nyata diplomasi aktif Indonesia, dari pernyataan menjadi aksi.
Sebelum keberangkatannya ke Mesir hari ini, Prabowo telah meminta TNI mempersiapkan diri jika KTT menghasilkan kesepakatan damai dan membutuhkan kehadiran pasukan penjaga perdamaian Indonesia.
Sikap ini menegaskan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinannya bukan hanya penonton, melainkan pelaku aktif perdamaian dunia, sebagaimana amanat konstitusi negara Indonesia: yaitu 'ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.'
Prabowo telah menempatkan dirinya dalam peta diplomasi global sebagai pemimpin yang berani menantang standar ganda kemanusiaan Barat. Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB ke-80, ia dengan tegas menyebut tragedi Gaza sebagai 'katastropi kemanusiaan.'
Purnawirawan Jenderal TNI tersebut menggugat kemunafikan sebagian negara Barat yang gencar berbicara tentang HAM, namun bungkam ketika Israel menghancurkan Gaza.
Sikap berani ini mengguncang forum internasional dan menggeser opini global, dari apatisme menuju empati. Negara-negara besar mulai membuka ruang dialog, sementara Israel perlahan kehilangan dukungan moral internasional. Di sinilah pengaruh Prabowo terasa, ia tidak mengandalkan kekuatan senjata, melainkan kekuatan nurani dan argumentasi moral.
Selain itu, Prabowo juga berhasil menembus sekat perpecahan di antara negara-negara Islam. Dalam berbagai forum seperti D-8 dan G20, ia menyerukan agar dunia Islam bersatu dalam membela keadilan bagi Palestina.
Diplomasi shuttle-nya ke Yordania, Mesir, dan Qatar menunjukkan keseriusan Indonesia dalam memainkan peran jembatan antarnegara Islam yang selama ini sering berselisih.
Lebih dari sekadar diplomasi Timur Tengah, kehadiran Prabowo di KTT Gaza memiliki makna strategis yang lebih luas. Dunia kini melihat Indonesia sebagai kekuatan moral baru yang mampu menembus kebuntuan geopolitik.
Gagasan Two State Solution
Solusi dua negara (two state solution) yang disampaikan Prabowo pada Sidang Umum PBB lalu merupakan bentuk yang paling mungkin saat ini untuk mencapai solusi kedua belah pihak (win win solution). Hal ini agar pertikaian kedua belah pihak bisa segera selesai tidak ada korban jiwa lagi.
Sebab, konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023 ini, menurut media Associated Press rangkuman data dari Kementerian Kesehatan Gaza, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Komite Internasional Palang Merah (ICRC), dan Lembaga, hingga Maret 2025, tercatat sekitar 14 persen penduduk Gaza telah terbunuh atau terluka.
Secara terperinci, lebih dari 67.000 orang tewas dan 170.000 orang terluka, dimana diantaranya yang terbunuh adalah 8.430 anak-anak dan 9.735 perempuan.
Kita mengerti, agresi brutal Israel di jalur Gaza adalah bentuk kejahatan perang yang nyata. Tapi menghukum Israel dengan meniadakannya sebagai sebuah negara yang berdiri juga hal yang sangat sulit untuk saat ini. Kita ketahui, Israel adalah negara kecil di Timur Tengah yang telah lama menjadi proxy kekuatan AS dan sekutunya di sana.
Sehingga menyikapi Israel tidak semudah yang dibayangkan. Berhadapan langsung dengan Israel artinya berhadapan dengan kekuatan AS dan negara-negara barat secara langsung juga.
Tidak sedikit kemudian yang membandingkan sikap Indonesia dengan Iran yang dianggap bertolak belakang menyikapi konflik Israel dengan Palestina. Iran dengan tegas mengatakan bahwa Israel harus tiada di Timur Tengah. Dengan kata lain, Palestina harus menjadi negara merdeka seutuhnya tanpa berbagi wilayah dengan Israel.
Yang perlu kita pahami lebih jauh adalah, Iran dapat melakukan itu karena Iran merupakan negara yang telah lama bermusuhan secara langsung dengan Israel dan AS.
Sebelum terjadinya revolusi Islam Iran Tahun 1979, Iran melalui Presiden Shah Mohammad Reza Pahlavi menjadi negara Muslim kedua (setelah Turki) yang mengakui Israel sebagai negara berdaulat pada Tahun 1950. Titik balik terjadi pada revolusi Islam Iran pada tahun 1979.
Pemimpin revolusi Iran yang sangat spiritualis, Ayatollah Khomeini, menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah “setan besar” dan Israel adalah “setan kecil”, lalu Iran memutus hubungan diplomatik dengan Israel.
Kedutaan besar Israel di Teheran langsung ditutup pada 18 Februari 1979. Pasca ini hubungan Iran dengan AS-Israel terus memanas, puncaknya adalah ketika Iran diembargo oleh AS Bersama sekutunya.
Pada Tahun 1983 embargo senjata AS dan barat dan Tahun 1987 sanksi dari AS untuk barang dan jasa.
Menurut pengalaman pribadi, yang pernah mewakili Indonesia dan Presiden Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara (Association of South East Islamic Students) pada tahun 2014 berkunjung selama lima hari ke Iran, singgah di kota Tehran, Qomm, dan Razavi Khorasan dalam acara dialog lintas Mazhab Sunni-Syiah dunia. Hal yang dirasakan selama dialog dengan penduduk Iran, nuansa kebatinan mereka secara umum amat sangat tidak menyukai AS dan Israel.
Indonesia Dalam Prospek Perdamaian Dunia
Pasca perjanjian perdamaian Israel-Palestina, Langkah selanjutnya yang mungkin dapat dilakukan adalah menuju perundingan perdamaian antara Russia dengan Ukraina.
Prabowo dengan hubungan baiknya bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, dan sejarah persahabatan Indonesia dengan Russia serta komunikasi yang terbuka antara Prabowo dengan blok Barat, Indonesia berpotensi menjadi magnet dalam upaya mendamaikan Rusia dan Ukraina.
Jika diplomasi Prabowo berhasil membawa sinyal positif dalam perdamaian Israel–Palestina, bukan mustahil dunia juga akan menantikan peran Indonesia dalam memediasi konflik Rusia–Ukraina. Dunia memerlukan figur yang dipercaya kedua belah pihak, dan Prabowo memenuhi kriteria itu: militer yang memahami geopolitik, sekaligus negarawan yang memiliki gagasan, keberanian dan mendambakan kedamaian.
Peran aktif Indonesia di bawah Prabowo menunjukkan bahwa kekuatan moral dan keseimbangan diplomasi bisa menjadi senjata paling ampuh di dunia yang terbelah. Dari Kairo hingga Kyiv, dari Gaza hingga Donbas, suara Indonesia kini kembali bergema, menyerukan kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian abadi.
Sejarah mungkin akan mencatat, bahwa dari KTT Gaza di Mesir inilah babak baru diplomasi global dimulai dengan Indonesia, dan Prabowo Subianto, sebagai salah satu arsiteknya. Dunia menunggu.!
Penulis: Puji Hartoyo, Presiden Persatuan Pemuda Islam Asia Tenggara (PEPIAT) 2014-2017