Ilmuwan Dibuat Bingung Ukuran Matahari, Berkali-kali Dihitung Hasilnya Berbeda
Sudah berkali-kali ilmuwan menghitungnya. Setiap kali diukur hasilnya tak sama.
Sudah berkali-kali ilmuwan menghitungnya. Setiap kali diukur hasilnya tak sama.
Ilmuwan Dibuat Bingung Ukuran Matahari, Berkali-kali Dihitung Hasilnya Berbeda
Para peneliti masih dibuat bingung dengan ukuran matahari yang sesungguhnya.
Sebab, setiap kali diukur hasilnya selalu menunjukan angka yang berbeda-beda. Bahkan, ini terjadi pada ilmuwan terdahulu. Mengapa bisa terjadi?
Pada awalnya International Astronomical Union, memperkirakan jari-jari matahari sebesar 695.700 kilometer (432.288 mil).
Hal ini didapatkan berdasarkan pengamatan pada fotosfer dan lapisan atmosfer dalam matahari.
Namun, para peneliti kemudian mulai menduga bahwa luas matahari sebetulnya radiusnya masih lebih luas dibandingkan dengan perhitungan tersebut. Akhirnya, ilmuwan lain kembali mencoba menghitung kembali.
Mengutip IFL Science, Jumat, (24/11), peneliti yang bernama Takata dan Gough dari Tokyo University, menguji lagi luas matahari berdasarkan asteroseismology, yaitu dengan melacak pergerakan gelombang dalam bintang dan memperkirakan sifat umum matahari, serta gelombang suara yang disebut gelombang f dan membandingkannya dengan gelombang p.“Ini merupakan metode yang berbeda. Saya tidak bilang bahwa hasilnya akan lebih baik, sebab ini tetap memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan. Mode-P menggunakan gelombang suara dan merambat di Matahari, sehingga akan memberikan ukuran keseluruhan dari Matahari. Sedangkan mode-F adalah gelombang yang digunakan untuk mengukur permukaan,” jelas Gough.
Oleh karena itu, dalam studi mereka ukuran matahari lebih kecil 80 kilometer dibandingkan dengan ukuran yang dikeluarkan secara resmi, yaitu 695.780 kilometer (432.340 mil). Meskipun perbedaan terlihat kecil, namun ini mempengaruhi tingkat presisi Matahari yang sebenarnya.
Siklus Matahari
Namun, hal ini dapat dijelaskan secara ilmiah, yaitu perhitungan dari Tanaka dan Gough ini kemungkinan berkaitan dengan siklus matahari dan variasi aktivitas yang dialami oleh bintang setiap 11 tahun sekali.
Siklus ini kemungkinan mempengaruhi hasil dari perhitungan dan kecerahan matahari, sehingga mengubah pengukuran yang digunakan dalam mode-f dan fotosfer, dan juga perhitungan pada gelombang P.
Oleh sebab itu, Takata dan Gough menegaskan bahwa studi mengenai ukuran Matahari masih menyimpan berbagai misteri yang belum terpecahkan.
Terlebih, jika ditemukan fakta yang lebih kompleks lagi maka ini akan sangat mempengaruhi dasar pada disiplin ilmu pengetahuan astronomi atau bahkan fisika nuklir sekalipun.
Sebab, jika Fluks Matahari terbukti lebih kecil atau lebih besar maka akan sangat berpengaruh pada sebuah teori.