Beberapa hari yang lalu, terjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas matahari. Semburan surya, yang merupakan letupan dari permukaan matahari, mengeluarkan radiasi dan material superpanas ke luar angkasa, termasuk ke arah Bumi.
Menurut informasi dari Live Science yang dikutip pada Selasa, (20/5), peningkatan aktivitas matahari ini mulai terlihat sejak 13 Mei 2025. Pada tanggal tersebut, sebuah bintik matahari bernama AR4086 mengalami letusan yang menghasilkan semburan dengan kategori X1.2, yang merupakan salah satu jenis semburan paling kuat berdasarkan klasifikasi yang ada.
Kemudian, pada 14 Mei 2025, bintik matahari lain yang dikenal sebagai AR4087 mengeluarkan semburan yang lebih kuat lagi, yaitu M5.3, X2.7, dan M7.7. Letupan-letupan ini menyebabkan terjadinya pemadaman gelombang radio di area Bumi yang sedang terkena sinar matahari saat itu.
Wilayah yang terpengaruh mencakup Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika, Timur Tengah, serta Asia Tenggara. Pusat Prediksi Cuaca Antariksa NOAA menyatakan bahwa semburan ini dikategorikan dari kelas A (terlemah) hingga X (terkuat), dengan setiap huruf menunjukkan peningkatan energi sepuluh kali lipat.
Sebagai contoh, semburan kelas X2.0 memiliki kekuatan sepuluh kali lipat dibandingkan dengan kelas X0.2. Pada tahun 2025, semburan X2.7 termasuk dalam kategori tinggi, meskipun masih lebih lemah dibandingkan semburan X9 yang terjadi pada Oktober 2024.
Radiasi yang dihasilkan dari semburan surya, terutama sinar-X dan ultraviolet, sangat kuat sehingga dapat mengionisasi lapisan atmosfer bagian atas, terutama lapisan D ionosfer. Dalam kondisi normal, gelombang radio jarak jauh dapat memantul di ionosfer, namun saat terjadi semburan, lapisan ini justru menyerap sinyal.
Fenomena yang terjadi di matahari ini menyebabkan gangguan dalam komunikasi yang berdampak pada penerbangan, pelayaran, dan sistem navigasi GPS. Selain radiasi, letupan besar seperti yang terjadi baru-baru ini juga dapat disertai dengan pelontaran massa korona (coronal mass ejection atau CME), yang merupakan semburan partikel bermuatan dari permukaan matahari.
Berbeda dengan radiasi yang hanya memerlukan waktu delapan menit untuk mencapai Bumi, Coronal Mass Ejection (CME) membutuhkan waktu antara satu hingga beberapa hari untuk sampai ke planet kita. Ketika CME tiba di Bumi, partikel-partikelnya berinteraksi dengan medan magnet Bumi, yang dapat memicu terjadinya badai geomagnetik.
Dampak dari badai ini bisa berupa aurora yang terlihat di lintang rendah, gangguan pada sistem kelistrikan, hingga kerusakan pada satelit yang mengorbit. Badai geomagnetik sendiri diklasifikasikan dari G1 (ringan) hingga G5 (ekstrem). Menurut NOAA, badai dengan kategori G5 dapat membuat aurora terlihat hingga Florida dan Texas, serta dapat menyebabkan pemadaman total pada jaringan listrik di beberapa daerah.
Meskipun bintik matahari AR4087 mengeluarkan CME yang cukup besar, posisinya saat itu berada di tepi timur laut matahari, sehingga semburan tersebut tidak mengarah langsung ke Bumi. Model yang dibuat oleh NASA menunjukkan bahwa material dari CME tersebut justru akan menuju Mars dan diperkirakan akan menghantam atmosfer planet merah itu pada 18 Mei 2025, yang mungkin dapat menghasilkan aurora di sana. Namun, karena bintik matahari AR4087 kini bergerak perlahan-lahan menghadap langsung ke Bumi, para ilmuwan memperingatkan bahwa semburan berikutnya berpotensi memberikan dampak langsung kepada planet kita.