Teleskop matahari paling canggih di dunia, Daniel K. Inouye, milik Amerika Serikat, telah merilis citra paling rinci dari permukaan Matahari. Gambar tersebut menampilkan bintik matahari raksasa berukuran sebanding benua dengan resolusi mencapai 10 kilometer per piksel.
Citra ini diambil menggunakan instrumen baru bernama Visible Tunable Filter (VTF). Teknologi ini dinilai sebagai langkah besar dalam memahami aktivitas Matahari yang berpotensi mengancam sistem teknologi di Bumi.
Gambar tersebut memperlihatkan daerah padat aktivitas magnetik di atmosfer dalam Matahari. Area yang diyakini sebagai pemicu solar flare dan lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME), dua fenomena yang dapat menyebabkan gangguan listrik dan komunikasi global.
“Badai surya pada 1800-an bahkan sempat menyebabkan kebakaran di kantor telegraf. Kita perlu memahami pemicunya, karena ini bisa berdampak langsung pada kehidupan modern,” kata Friedrich Woeger, ilmuwan program instrumen di Teleskop Surya Inouye dikutip dari CNN, Rabu (30/4).
Rilis gambar ini bertepatan dengan meningkatnya aktivitas Matahari menjelang puncak siklus 11 tahunannya yang dikenal sebagai solar maximum, periode ketika jumlah bintik matahari mencapai puncak dan medan magnet Matahari membalik kutubnya.
“Sunspot seperti sumbatan magnetik,” ujar Mark Miesch, ilmuwan dari Universitas Colorado Boulder.
Ia menjelaskan bahwa bintik matahari tampak gelap karena panas dari dalam Matahari tidak mencapai permukaan, walau tetap jauh lebih panas dari oven apa pun di Bumi.
Berbeda dengan kamera biasa, VTF bekerja dengan menyaring cahaya hanya pada satu panjang gelombang menggunakan dua pelat kaca mikroskopik, mirip prinsip peredam bising.
Dalam beberapa detik, alat ini mampu mengambil ratusan citra dari berbagai lapisan atmosfer dan menggabungkannya menjadi tampilan tiga dimensi.
“VTF bisa disebut sebagai jantung teleskop Inouye yang kini mulai berdetak,” kata Dr. Matthias Schubert dari Institut Fisika Surya.
Instrumen VTF dirakit di Jerman dan dikirim melintasi dua samudra sebelum akhirnya dipasang di puncak gunung Haleakalā, Hawaii. “Seperti membangun kapal di dalam botol,” ujar Woeger. Teleskop ini diproyeksikan akan beroperasi penuh pada 2026.
Citra dari Inouye akan melengkapi data dari misi lain seperti Solar Orbiter (ESA-NASA) dan Parker Solar Probe milik NASA dalam upaya global memetakan dan memahami fenomena cuaca antariksa yang dapat berdampak signifikan pada kehidupan manusia di Bumi.