Dibanding Laki-laki, Perempuan Lebih Tangguh kalau Jadi Astronot
Hasil ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami secara mendalam bagaimana perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan.
Terdapat bukti yang menarik bahwa perempuan mungkin memiliki keunggulan sebagai astronaut berdasarkan penelitian terbaru tentang respons tubuh terhadap penerbangan luar angkasa.
Penelitian tersebut menyoroti potensi bahwa wanita mungkin lebih toleran terhadap tekanan yang dihadapi di luar angkasa dibandingkan dengan pria.
Mengutip IFLScience, Jumat (28/6), studi yang dilakukan pada anggota Misi SpaceX Inspiration4 menemukan bahwa penerbangan luar angkasa dapat menyebabkan gangguan signifikan pada sistem kekebalan tubuh.
Dampak ini meliputi perubahan dalam ekspresi gen yang terkait dengan peradangan, penuaan, dan homeostasis otot yang menunjukkan adaptasi tubuh terhadap lingkungan antigravitasi dan radiasi di luar angkasa.
Menariknya, penelitian ini juga menyoroti perbedaan respons tubuh antara laki-laki dan perempuan.
Para peneliti menemukan bahwa laki-laki cenderung mengalami gangguan yang lebih besar dalam ekspresi gen pasca-penerbangan luar angkasa dibandingkan dengan perempuan.
Hal tersebut dapat mengindikasikan sistem kekebalan tubuh wanita mungkin lebih mampu menanggapi dan beradaptasi dengan stres fisik yang terkait dengan penerbangan luar angkasa.
Penemuan ini penting mengingat peran gender dalam penelitian respon fisiologis terhadap lingkungan ekstrem seperti luar angkasa masih minim dipahami dengan baik.
Hasil ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami secara mendalam bagaimana perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan dapat memengaruhi kesiapan dan pemulihan fisik pasca-misi luar angkasa.
Profesor Christopher Mason, penulis senior dalam penelitian ini, mengemukakan bahwa perbedaan tersebut mungkin terkait dengan karakteristik biologis yang unik pada tubuh wanita yang mungkin memberikan keuntungan dalam mengelola stres fisik seperti yang terjadi selama penerbangan luar angkasa.
Meskipun demikian, alasan pasti di balik perbedaan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Implikasi dari temuan ini dapat signifikan untuk masa depan eksplorasi luar angkasa.
Misalnya, jika perempuan memang lebih toleran terhadap kondisi ekstrem di luar angkasa, hal tersebut dapat memengaruhi pemilihan awak untuk misi-misi mendatang, termasuk misi ke bulan dan ke planet-planet lainnya.
Saat ini, perempuan hanya menyusun 11 persen dari jumlah total astronaut di seluruh dunia.
Temuan ini mendorong perlunya mempertimbangkan lebih banyak penelitian dan integrasi perempuan dalam program luar angkasa untuk memastikan bahwa semua potensi sumber daya manusia yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan optimal.
Reporter magang: Nanda Sekar Ayu Alifah