Ini yang Bakal Terjadi Pada Kuku Astronot kalau Terlalu Lama di Luar Angkasa
Berikut dampak pada kuku jika astronot terlalu lama berada di luar stasiun luar angkasa.
Berikut dampak pada kuku jika astronot terlalu lama berada di luar stasiun luar angkasa.
Ini yang Bakal Terjadi Pada Kuku Astronot kalau Terlalu Lama di Luar Angkasa
Perjalanan ke Luar Angkasa bukan hanya memakan waktu yang lama bagi para astronot, tetapi juga memberikan dampak tersendiri bagi tubuh mereka.
Ketika ke Luar Angkasa, tubuh astronot akan berhadapan dengan tekanan atmosfer dan gaya gravitasi yang berbeda. Apa efeknya?
Faktor ini yang kemudian menjadikan tubuh para astronot harus beradaptasi. Tak jarang menimbulkan efek tertentu pada tubuh mereka, seperti kehilangan kepadatan tulang dan otot karena terlalu lama pada tempat yang tidak mempunyai gaya gravitasi seperti di Bumi.
Bukan hanya itu saja, dampak yang lebih parah bisa terjadi pada astronot, khususnya ketika mereka sedang menjalankan extravehicular activity (EVA) atau berkegiatan di luar stasiun luar angkasa.
Saat tengah melakukan EVA, biasanya kuku para astronot bisa rontok dari jari-jarinya.
Pelepasan kuku pada astronot ini dikenal dengan istilah onikolisis, yang disebabkan oleh tekanan atmosfer yang berbeda.
“Cedera pada tangan sering terjadi pada astronot yang berlatih untuk aktivitas EVA,” jelas Jacqueline Charvat, ahli epidemiologi, dari Wyle Laboratories dalam makalah konferensi tahun 2015.
Pernah Diuji Coba
Mengutip Science Alert, Kamis, (30/11), seorang insinyur Lockheed Martin, Christopher Reid, pada awal tahun ini mempelajari peristiwa cedera onikolisis pada astronot, dan menemukan setidaknya terdapat 31 cedera onikolisis selama 27 kali latihan dari 4 aktivitas EVA.
Meskipun ketika sedang menjalankan EVA mereka diberikan sarung tangan khusus, tetapi benda ini yang ternyata membuat mereka mengalami cedera.
Sarung tangan mereka yang merupakan bagian dari pakaian luar angkasa, ternyata membatasi pergerakan kuku dan jari-jari mereka.
Sehingga hal ini memberikan tekanan yang lebih besar dan mengakibatkan berkurangnya aliran darah, kerusakan jaringan, serta onikolisis pada astronot.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh insinyur dari Lockheed Martin, cidera ini juga bisa jadi berasal dari desain sarung tangan yang mereka miliki.
Berdasarkan studi mereka, penggunaan sarung tangan ini memiliki resiko kehilangan kuku sebanyak 8,5 kali, dan paling sering terjadi di jari tengah dengan lebih banyak menyerang astronot perempuan dibandingkan laki-laki.
Oleh karena itu, untuk menghindari itu semua, saat ini sedang dibuat pakaian astronot terbaru di era artemis untuk menghindari risiko ini.