Advertisement
Terlebih bagi astronot yang tinggal di luar angkasa terlampau lama.
Ada persoalan yang harus mereka selesaikan dan hadapi. Bukan urusan administrasi, tetapi perkara “kelangsungan hidup”.
Advertisement
Baik itu fisik maupun mental. Maka itu, mereka yang baru “turun dari langit” harus melakukan penyesuaian diri.
Advertisement
Hal ini terjadi karena tidak adanya gaya gravitasi di luar angkasa. Dengan tidak adanya gravitasi itu, maka akan memengaruhi struktur tulang dan juga keseimbangan dalam tubuh astronot.
Dr Jennifer Fogarty, Chief Scientific Officer, Baylor College of Medicine’s Translational Research Institute for Space Health, pun membenarkan hal itu.
“Astronot yang baru kembali dari luar angkasa akan memiliki masalah seperti berjalan dan berdiri. Karena kedua hal itu tidak dilakukan seorang astronot dalam waktu lama,”
Dr Jennifer Fogarty, Chief Scientific Officer, Baylor College of Medicine’s Translational Research Institute for Space Health dikutip dari Indy100, Selasa (3/10).
Advertisement
Advertisement
Penyebab pengeroposan tulang itu lantaran tidak adanya gaya gravitasi selama di luar angkasa. Oleh karena itu, tim medis mengatakan, kemungkinan besar Rubio memerlukan waktu yang lama untuk dapat menyesuaikan diri dengan kondisi di Bumi.
Advertisement
Advertisement
Para ilmuwan juga turut memeriksa keadaan kesehatan mental Rubio pasca misinya dari luar angkasa.
Mereka juga memeriksa kekebalan imun serta perubahan perubahan pada genetiknya.
Meskipun misi ke luar angkasa memerlukan banyak persiapan dan kemungkinan buruk lainnya, Fogarty mengatakan bahwa NASA sudah siap untuk menghadapi hal ini sebaik mungkin.
“Sebelumnya kami sudah melakukan penelitian dan memahami perbedaan situasi dan kondisi saat berada di luar angkasa, sehingga hal ini tidak akan membahayakan para astronot,"
Dr Jennifer Fogarty, Chief Scientific Officer, Baylor College of Medicine’s Translational Research Institute for Space Health.
Advertisement