Misi Antariksa Katy Perry Picu Diskusi Ilmiah soal Botox & Implan Kosmetik
Diskusi ilmiah itu terkait dengan, bagaimana kondisi ekstrem luar angkasa memengaruhi prosedur kosmetik seperti implan payudara, Botox, dan filler wajah.
Peluncuran luar angkasa berawak penuh perempuan oleh Blue Origin, yang dipimpin Lauren Sánchez dan diikuti oleh nama-nama besar seperti Katy Perry dan Gayle King, turut memicu diskusi ilmiah.
Diskusi ilmiah itu terkait dengan, bagaimana kondisi ekstrem luar angkasa memengaruhi prosedur kosmetik seperti implan payudara, Botox, dan filler wajah.
Dr. Stanton Gerson, peneliti efek luar angkasa pada sel manusia, menjelaskan bahwa kecepatan peluncuran roket hingga 9.656 km/jam dapat menimbulkan stres geser, yakni tekanan yang membuat bagian material bergeser satu sama lain.
“Stres ini bisa memengaruhi kestabilan implan kosmetik seperti implan payudara atau filler bibir,” ujarnya dikutip dari NYPost, Selasa (15/4).
Isu ini bukan tanpa preseden. Studi dari Yale University tahun 2013 mencatat bahwa wanita dengan implan payudara kadang mengalami ketidaknyamanan saat penerbangan di ketinggian tinggi.
Diduga, perubahan tekanan menyebabkan akumulasi gas di sekitar implan. Namun, menurut Gerson, implan generasi terbaru lebih tahan terhadap perubahan tersebut karena dibuat dari gel kohesif dan dilapisi cangkang yang lebih kuat.
Efek lain yang perlu diperhatikan adalah perpindahan cairan tubuh ke bagian atas dalam kondisi tanpa gravitasi. Hal ini bisa menyebabkan wajah tampak bengkak sementara.
Meski begitu, Dr. Giselle Prado-Wright, ahli bedah kosmetik yang juga meneliti efek ruang angkasa terhadap filler dermal, menilai kekhawatiran ini berlebihan.
“Sebagian besar filler dibuat dari asam hialuronat yang menyatu dengan jaringan alami dan tetap stabil bahkan dalam penerbangan suborbital,” jelasnya.
Di sisi lain, misi ini juga mengundang kritik. Aktris Olivia Munn, misalnya, menyebut penerbangan ini “lebih mirip proyek kesombongan ketimbang eksplorasi ilmiah.”
Namun para ahli menilai justru dari misi-misi seperti ini kita bisa menggali pemahaman baru tentang bagaimana tubuh manusia bereaksi terhadap lingkungan ekstrem, tak hanya dari sisi fisiologi, tetapi juga interaksi dengan teknologi medis seperti implan dan filler.
“Jika kita serius ingin hidup di luar angkasa, kita juga perlu tahu bagaimana prosedur medis dan kosmetik bekerja di sana,” tambah Gerson.