Penjelajahan luar angkasa telah meningkat tahun demi tahunnya. Para peneliti dari berbagai bidang telah memastikan bahwa manusia akan semakin dekat ke dalam penjelajahan luar angkasa yang lebih maju.
Meskipun belum jelas kapan manusia akan mulai hijrah dari Bumi, tetapi kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan telah jelas menyatakan bahwa hal ini akan terjadi di masa depan.
Advertisement
Ini disebabkan manusia adalah makhluk yang dilahirkan dan hidup di Bumi, karenanya tubuh manusia juga dikembangkan untuk hidup di Bumi.
Di sinilah peran ilmu medis sangat penting untuk memperlihatkan bagaimana tubuh manusia dapat menghadapi lingkungan luar angkasa yang sama sekali berbeda dengan di Bumi.
Berdasarkan laporan dari Space, Sabtu (27/1), inilah beberapa penemuan yang dapat membantu manusia bertahan di luar angkasa:
Advertisement
Ini mungkin pertanyaan yang paling banyak ditanyakan orang-orang. Perlu diketahui, ketika astronot tinggal di luar angkasa mereka tinggal di dalam rumah yang terbatas dan luar biasa ekstrem. Apakah lingkungan semacam ini aman bagi manusia?
Penelitian pada bulan Agustus menyatakan bahwa Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) memiliki konsentrasi kimia yang setara dengan rata-rata rumah di seluruh Bumi.
Tetapi, beberapa dari kontaminan ini dapat membahayakan manusia.
Seperti mikroba yang menumpang yang dapat membuat astronot sakit, dan penelitian tentang jamur di ISS.
Advertisement
Sel T yang merupakan sel darah putih pelawan sel tumor dan infeksi ternyata tidak berfungsi secara maksimal ketika berada dalam gayaberat mikro.
Melalui analisis darah yang dilakukan sebelum, pada hari ke-7, hari ke-14, hari ke-21, dan setelah percobaan, ditemukan bahwa Sel T akan mulai menyerupai apa yang disebut “sel T naif”.
Sel T menjadi lebih lama untuk diaktifkan sehingga kurang efektif dalam melawan infeksi-infeksi yang ada. Untungnya, perilaku asli Sel T mulai kembali sekitar pada hari ke-21.
Advertisement
Penelitian yang berhubungan dengan ambisi Elon Musk dalam membuat koloni di Mars menghasilkan hasil yang menarik.
Para ilmuwan menemukan bahwa setidaknya 22 orang dibutuhkan untuk menciptakan suatu pemukiman Mars yang berfungsi.
Dari 22 orang ini, dibutuhkan sebanyak mungkin orang yang memiliki sifat kepribadian yang “menyenangkan” untuk meminimalisir kemungkinan stress dan depresi akibat isolasi dalam lingkungan Mars.
Advertisement
Hasil penelitian pada bulan Juni lalu menyatakan bahwa rongga otak yang dikenal sebagai ventrikel dapat membesar sebesar 25 persen tergantung pada berapa lama organ tersebut terkena gayaberat mikro.
Tanpa gravitasi yang cukup, otak mulai bergeser ke atas di tengkorak, menciptakan tekanan pada ventrikel dan memaksanya mengembang.
Namun, akibat dari pengembangan ini belum diketahui secara pasti.
Advertisement
Hibernasi dalam perjalanan luar angkasa telah diperlihatkan di film layar lebar. Namun, ternyata ilmuwan di dunia nyata pun mengatakan bahwa hibernasi mungkin adalah pilihan terbaik bagi ketahanan hidup manusia di luar angkasa.
Butuh waktu sekitar enam sampai sembilan bulan bagi manusia untuk dapat bertahan di perjalanan ke Mars. Ini memerlukan biaya yang besar.
Dengan melakukan hibernasi selama berbulan-bulan dalam perjalanan ke Mars seperti yang dilakukan hewan-hewan pada musim dingin, manusia dapat menghemat energi dan menghabiskan waktu saat melakukan perjalanan luar angkasa.
Untuk mencapai tujuan ini, NASA telah mengumumkan untuk mempelajari metode hibernasi tupai Arktik.