Terungkap, Cara Astronot Buang Air Besar di Luar Angkasa dan Kemana Kotorannya Dibuang
Jika astronot dapat buang air besar di luar angkasa, ke mana perginya limbah mereka?
Kehidupan seorang astronot di luar angkasa menarik jadi pembahasan. Terutama bagaimana mereka mengatasi saat ingin buang air besar (BAB), salah satu kebutuhan dasar manusia. Seperti diketahui, ruang angkasa merupakan ruang hampa udara.
Tidak ada oksigen dan gravitasi membuat segalanya yang ada melayang. Termasuk para astronot. Astronot tidak dapat menggunakan toilet biasa, karena kotoran yang tidak terkelola dengan baik dapat melayang dan mencemari kabin.
Untuk mengatasi masalah ini, NASA telah merancang toilet khusus yang bekerja dengan sistem aliran udara. Astronot akan duduk di kursi kecil yang dilengkapi sabuk pengaman untuk menjaga kestabilan tubuh, seperti yang dikutip dari laman Mentalfloss, Sabtu (30/8/2025).
Toilet ini menggunakan kantong sekali pakai yang terhubung dengan sistem vakum, sehingga kotoran dapat langsung tersedot dan terkumpul tanpa menimbulkan kekacauan.
Selanjutnya, kantong yang berisi kotoran tersebut disegel dengan rapat dan disimpan dalam wadah bersama sampah lainnya dari ISS. Proses ini dilakukan dengan sangat hati-hati, mengingat ruang di stasiun sangat terbatas dan kebersihan adalah hal yang krusial untuk kesehatan para kru.
Apa yang Terjadi dengan Kotoran Astronot?
Di luar angkasa, tidak ada sistem pembuangan seperti yang ada di Bumi. Oleh karena itu, semua sampah, termasuk kotoran manusia, akan dikirim keluar dari ISS menggunakan kapsul kargo yang sudah terisi penuh. Setelah kapsul tersebut dilepaskan ke orbit Bumi, ia akan memasuki kembali atmosfer. Dalam proses ini, kotoran astronot akan terbakar habis akibat panas yang sangat tinggi, mirip dengan meteor yang jatuh.
Mitos sering muncul bahwa kotoran astronot bisa berubah menjadi "bintang jatuh". Namun, NASA menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Dari pandangan permukaan Bumi, benda yang terbakar di atmosfer memang terlihat seperti cahaya meteor, tetapi sebenarnya itu hanyalah sampah yang hancur sebelum sampai ke tanah.
Penelitian Sistem Pencernaan Astronot
Dalam misi yang berlangsung selama satu tahun antara 2015 hingga 2016, astronot NASA Scott Kelly menghasilkan sekitar 81 kilogram kotoran. Selain itu, tubuhnya mengalami berbagai perubahan, seperti penurunan massa tubuh, pergeseran cairan tubuh ke bagian atas, dan penurunan drastis dalam keragaman mikroba di ususnya.
Hal ini menunjukkan bahwa hidup di luar angkasa tidak hanya menghadapi tantangan teknologi, tetapi juga masalah kesehatan. Kotoran manusia menjadi salah satu sumber data yang penting bagi para ilmuwan untuk mempelajari dampak jangka panjang dari kehidupan di luar Bumi.
Proses buang air besar di ruang angkasa bukanlah hal yang mudah. Dengan menggunakan teknologi toilet berbasis vakum dan sistem pembuangan yang khusus, para astronot dapat menjaga kebersihan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sekaligus memastikan kesehatan kru. Pada akhirnya, kotoran yang dihasilkan oleh astronot tidak pernah kembali ke Bumi, melainkan terbakar di atmosfer, menjadi jejak samar di langit malam yang kadang terlihat seperti meteor.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3538910/original/096555200_1628819759-210811_content_spesial_26_Satelit_Milik_Indonesia_P2.jpg)