DeepSeek Enggak Mau Cari Untung, Ini Fokus yang Bakal Mereka Lakukan
Mengapa DeepSeek lebih mengutamakan penelitian dibandingkan dengan pendapatan?
Chatbot AI asal Tiongkok, DeepSeek, memilih untuk mengutamakan penelitian dibandingkan dengan fokus pada pendapatan. Keputusan ini diambil oleh pendirinya yang merupakan seorang miliarder, yang tidak ingin mengikuti langkah-langkah pesaing di Silicon Valley yang memanfaatkan lonjakan penjualan yang mendadak.
Menurut laporan Financial Times yang dikutip pada Rabu (19/3), pendapatan yang diperoleh DeepSeek sudah cukup untuk menutupi seluruh biaya operasional, berdasarkan informasi dari dua sumber yang mengetahui perkembangan chatbot AI tersebut.
Dalam sebuah unggahan di platform X, DeepSeek menunjukkan bahwa layanan online mereka memiliki "margin laba biaya" yang mencapai 545 persen. Namun, perlu dicatat bahwa margin tersebut dihitung berdasarkan 'pendapatan teoritis'.
Perusahaan ini menjelaskan lebih lanjut mengenai angka-angka tersebut dalam sebuah posting yang lebih panjang di GitHub, di mana mereka menguraikan strategi untuk mencapai throughput yang lebih tinggi dan latensi yang lebih rendah.
DeepSeek juga mencatat bahwa jika penggunaan model V3 dan R1 selama 24 jam ditagih menggunakan tarif R1, Chatbot AI mereka akan menghasilkan pendapatan harian sebesar USD 562.027 atau setara dengan Rp 9,2 miliar.
Di sisi lain, seperti yang dikutip dari TechCrunch, biaya sewa GPU (unit pemrosesan grafis) yang diperlukan hanya sebesar USD 87.072, yang kira-kira setara dengan Rp 1,4 miliar.
Perusahaan ini mengakui bahwa pendapatan yang sebenarnya 'jauh lebih rendah' karena sejumlah faktor, termasuk diskon yang diberikan pada malam hari dan tarif yang lebih rendah untuk model V3. Selain itu, hanya sebagian kecil dari layanan yang dimonetisasi, sementara akses web dan aplikasi tetap tersedia secara gratis.