Orang Indonesia Pakai DeepSeek Aman Enggak ya? Ini Kata Ahli
Apakah penggunaan DeepSeek aman bagi masyarakat Indonesia? Berikut adalah penjelasan dari Alfons Tanujaya, Pakar Keamanan Siber dan IT dari Vaksincom.
Belakangan ini, AI DeepSeek telah menarik perhatian publik dan mengguncang posisi dominan OpenAI dalam dunia kecerdasan buatan. DeepSeek diklaim memiliki biaya pengembangan yang sepuluh kali lebih murah dibandingkan dengan model multimodal ChatGPT.
Meskipun keduanya mampu memberikan jawaban yang menyerupai manusia, DeepSeek dikatakan lebih akurat dan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang informasi faktual serta pertanyaan yang kompleks.
Namun, tak lama setelah menjadi perbincangan hangat, DeepSeek mengalami serangan siber. Situasi ini membuat banyak negara menjadi waspada, terutama karena startup ini menyimpan data pengguna di server yang berlokasi di Tiongkok dan mengelola data tersebut sesuai dengan hukum setempat.
Pertanyaannya, apakah DeepSeek aman untuk digunakan oleh orang Indonesia? Mengenai hal ini, Alfons Tanujaya, seorang pakar keamanan siber dan IT dari Vaksincom, berpendapat bahwa kekhawatiran tersebut terkesan aneh.
Dia mengatakan, "Kekhawatiran ini agak aneh, mengapa ketika menggunakan ChatGPT, Google Maps, Instagram, dan Whatsapp tidak pernah ditanyakan keamanan data pengguna? Servernya juga bukan di Indonesia dan datanya berada di bawah penguasaan perusahaan dan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang setiap saat bisa meminta akses data tersebut."
Alfons juga mempertanyakan apakah data yang dibawa ke AS lebih aman dibandingkan jika disimpan di China.
"Harusnya secara logika bahayanya sama," tambahnya.
Lebih jauh, Alfons menegaskan bahwa seharusnya pengguna DeepSeek di AS justru harus lebih khawatir dibandingkan dengan pengguna di Indonesia, namun kenyataannya DeepSeek tetap menjadi aplikasi terpopuler di AppStore dan Play Store di AS.
"Agak berlebihan jika kita sebagai pengguna menghindari DeepSeek hanya karena servernya berada di China," ujarnya. Sebagai tambahan, ketika menggunakan produk dari China seperti ponsel, mobil listrik, drone, dan perangkat IoT, data pengguna juga sering kali disimpan di server yang berlokasi di China.
Pahami keterbatasan dan kekurangan kecerdasan buatan
Alfons menjelaskan bahwa data yang diperoleh dari DeepSeek tidak sebanyak data yang diambil dari aplikasi populer lainnya. Aplikasi lain mengumpulkan informasi yang jauh lebih banyak, seperti data lokasi, kebiasaan penggunaan aplikasi, minat pengguna, serta pencarian yang dilakukan.
Ia menekankan bahwa inilah data yang seharusnya lebih menjadi perhatian kita, bukan data dari chatbot asisten AI.
"Sebaliknya, jika kita terlalu khawatir dan akhirnya takut menggunakan AI, maka Indonesia akan mengalami kerugian besar. Negara kita sudah tertinggal jauh dalam pengembangan dan penerapan aplikasi AI," ungkapnya. Sementara negara lain telah melaju pesat dalam bidang AI.
Alfons mengimbau agar masyarakat Indonesia tidak merasa takut terhadap AI dan sebaliknya harus memanfaatkan teknologi ini secara optimal untuk kepentingan kita.
"Dengan adanya Asisten AI open source, kita memiliki peluang emas untuk mengejar ketertinggalan. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk memperbarui diri dengan AI dan membiasakan diri menggunakannya, sambil tetap menyadari batasan dan kelemahan yang ada pada AI," jelasnya.
Namun, ia juga mengingatkan agar tidak sepenuhnya percaya pada AI, karena tidak ada jaminan bahwa informasi yang dihasilkan sepenuhnya akurat.
Lima negara ini memperingatkan dan melarang penggunaan DeepSeek
Startup asal Tiongkok, DeepSeek, telah menjadi sorotan dalam dunia teknologi berkat inovasi chatbot dan modul AI yang mereka luncurkan.
Keberadaan DeepSeek membuat perusahaan-perusahaan teknologi di Amerika Serikat merasa khawatir, terutama karena mereka menawarkan biaya yang jauh lebih rendah dan hasil pengujian yang mengungguli ChatGPT.
Tokoh-tokoh penting dalam industri teknologi, termasuk Mark Zuckerberg dan Sam Altman, serta mantan Presiden AS, Donald Trump, turut memberikan komentar mengenai DeepSeek AI. Dalam waktu singkat, aplikasi ini berhasil menduduki posisi teratas di App Store dan Google Play Store di Amerika Serikat serta 51 negara lainnya.
Namun, ketenaran DeepSeek tidak berlangsung lama karena aplikasi ini mengalami serangan siber. Situasi ini membuat beberapa negara mulai waspada terhadap DeepSeek, terutama karena startup ini menyimpan data pengguna di server yang berada di Tiongkok dan mengelola data tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tersebut. Dalam waktu singkat, sejumlah negara telah mengambil langkah untuk membatasi atau bahkan melarang penggunaan DeepSeek. Mari kita lihat beberapa negara yang telah bertindak demikian, seperti yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Italia
Otoritas perlindungan data di Italia, Garante, telah mengumumkan pemblokiran terhadap DeepSeek, sebuah model kecerdasan buatan (AI) yang berasal dari Tiongkok. Menurut berita dari CNA, pemblokiran ini dilakukan karena perusahaan tersebut tidak memberikan informasi yang cukup mengenai penggunaan data pribadi. Sejak Rabu, 27 September 2025, DeepSeek tidak lagi dapat diakses melalui Apple App Store maupun Google Play Store di Italia. Langkah ini diambil setelah Garante meminta penjelasan mengenai data pribadi yang dikumpulkan, sumbernya, tujuan pengumpulan, dasar hukum yang digunakan, serta tempat penyimpanan data tersebut, apakah di China atau tidak.
Garante menilai bahwa informasi yang disediakan oleh penyedia layanan chatbot AI DeepSeek sangat tidak memadai. Dalam pernyataan resmi yang dirilis di situs mereka, dinyatakan bahwa keputusan pemblokiran ini diambil untuk melindungi data pengguna di Italia. Garante juga menegaskan bahwa keputusan ini "berlaku segera" dan mereka akan melanjutkan investigasi untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai isu ini.
Amerika Serikat
Departemen Pertahanan Amerika Serikat, termasuk Angkatan Laut AS, telah mengambil langkah untuk memblokir dan melarang pemakaian DeepSeek. Larangan ini bukan tanpa alasan, karena Departemen Pertahanan, yang sering dikenal sebagai Pentagon, melarang akses ke DeepSeek setelah beberapa karyawannya terhubung dengan server yang berlokasi di Tiongkok.
Menurut informasi yang dirilis oleh Tech Crunch, ketentuan layanan DeepSeek secara jelas menyebutkan bahwa mereka menyimpan data pengguna di server yang berada di Tiongkok dan mengelola data tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku di China.
Hukum yang ada di sana mewajibkan adanya kerja sama dengan badan intelijen negara tersebut. Di sisi lain, Angkatan Laut AS telah melarang penggunaan DeepSeek oleh karyawannya sejak tanggal 24 Januari lalu. Keputusan ini diambil karena adanya kekhawatiran terkait aspek keamanan dan etika.
Taiwan
Kementerian Digital Taiwan mengungkapkan bahwa penggunaan layanan AI DeepSeek sebaiknya dilarang oleh pemerintah karena adanya masalah terkait keamanan.
Menurut pernyataan Menteri Urusan Digital Taiwan, kementerian-kementerian di negara itu dilarang untuk menggunakan layanan DeepSeek AI guna mencegah potensi risiko yang dapat membahayakan keamanan.
Sementara itu, hingga saat ini, belum ada larangan resmi yang diterapkan untuk penggunaan DeepSeek oleh masyarakat umum.
Korea Selatan dan Prancis
Dilansir dari Reuters, Korea Selatan belum secara resmi melarang penggunaan DeepSeek. Namun, otoritas pengawas privasi informasi di Korea Selatan berencana untuk mengajukan pertanyaan kepada DeepSeek mengenai cara pengelolaan informasi pribadi pengguna.
Sementara itu, pengawas privasi di Prancis juga menyatakan bahwa mereka akan melakukan hal serupa, dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai cara kerja sistem yang diterapkan oleh startup AI ini serta potensi risiko terhadap privasi penggunanya.
5. Australia
Mengacu pada laporan dari The Guardian, Telstra, salah satu perusahaan yang beroperasi di Australia, mengungkapkan bahwa mereka memiliki prosedur ketat dalam mengevaluasi semua perangkat, kemampuan, dan penggunaan AI dalam operasional bisnis mereka.
Saat ini, penggunaan DeepSeek di Telstra tidak disetujui dan tidak dianjurkan. Meskipun demikian, DeepSeek belum diblokir secara resmi oleh perusahaan tersebut. Telstra lebih memilih untuk menggunakan MS Copilot sebagai solusi AI.
Di sisi lain, Katherine Mansted, seorang direktur intelijen siber di CyberCX, sebuah perusahaan keamanan siber di Australia, mengungkapkan bahwa banyak pelanggan yang menghubungi mereka untuk menanyakan tentang keamanan penggunaan DeepSeek.
Mansted juga merekomendasikan agar organisasi, termasuk lembaga pemerintah, mempertimbangkan untuk membatasi akses ke DeepSeek, terutama pada perangkat yang digunakan untuk pekerjaan. Hingga saat ini, pemerintah Australia belum mengeluarkan larangan resmi terkait penggunaan DeepSeek.