Menelusuri Tangga Seratus Sibolga, Ada Gua Buatan Peninggalan Tentara Jepang
Sebuah peninggalan sejarah berupa anak tangga yang berjumlah ratusan kini menjadi salah satu objek wisata di Sibolga, Sumatra Utara.
Sebuah peninggalan sejarah berupa anak tangga yang berjumlah ratusan kini menjadi salah satu objek wisata di Sibolga, Sumatra Utara.
Menelusuri Tangga Seratus Sibolga, Ada Gua Buatan Peninggalan Tentara Jepang
Apa jadinya jika menuju sebuah lokasi tertentu harus melewati rintangan yang cukup menguras fisik? Tempat itu ada di Sibolga yang bernama Tangga Seratus. Meski namanya demikian, pada aslinya anak tangga tersebut berjumlah 298 buah.
Tangga Seratus yang terletak di Kelurahan Pasar Baru, Kota Sibolga, Sumatra Utara itu tak hanya menjadi salah satu objek wisata saja, akan tetapi terdapat bangunan sejarah peninggalan zaman kolonial.
Meski harus menaiki anak tangga yang jumlah tidak sedikit, semua rasa lelah akan terbayarkan ketika berhasil mencapai puncak. Pemandangan alam luas Sibolga disajikan dari pucuk bukit Tangga Seratus.
Simak penelusuran Tangga Seratus di Sibolga yang dirangkum dari situs indonesia.go.id berikut ini.
Panorama Alam Kota Sibolga
Tangga Seratus merupakan akses jalan menuju puncak bukit yang menyajikan pemandangan alam Kota Sibolga sekaligus bisa melihat lautan eksotis dengan kapal-kapal nelayan yang sedang melaut.
Tak mudah untuk menaiki anak tangga sebanyak 298, tetapi rasa lelah seketika hilang ketika berhasil mencapai pucuknya. Beberapa pengunjung juga memanfaatkannya untuk berolahraga khususnya atlet Kota Sibolga dan sebagai lokasi mengalirkan air bersih.
Jangan khawatir, di sisi kanan kiri anak tangga telah terpasang penopang untuk berpegangan. Kondisinya kini sudah semakin terawat tanpa menghilangkan unsur-unsur keaslian sejarah di tempat ini.
Peninggalan Sejarah
Selain menyajikan pemandangan alam Kota Sibolga, sisi lain dari Tangga Seratus ini terdapat sebuah bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda dan Jepang. Ketika sedang menaiki anak tangga, pengunjung bisa melihat sebuah gua Jepang untuk memantau pergerakan musuh dari kejauhan.
Dalam gua tersebut, terdapat satu pintu masuk dan ada dua jalur di dalamnya dengan bentuk menyerupai huruf Y. Ketika zaman Agresi Militer Belanda II, Tangga Seratus kembali digunakan oleh tentara kolonial untuk memantau aktivitas di laut wilayah Sibolga untuk memantau akses kapal berlayar.
Konon, usia Tangga Seratus ini sudah mencapai 100 tahun lebih. Awal mula tempat ini dibangun hanya berupa kayu dan bambu yang diikat dengan tali tanpa penopang untuk berpegangan di bagian kiri dan kanannya.
Selain itu, di Tangga Seratus terdapat gedung perusahaan air minum buatan Belanda yang berdiri pada tahun 1929. Di dekat gedung terdapat sebuah sirine yang saat itu berfungsi untuk memanggil para pekerja perusahaan air minum. Hingga saat ini, sirine tersebut masih berfungsi untuk penanda waktu berbuka puasa di Sibolga.
Sisi Gelap Tangga Seratus
Meski sekarang masyarakat luas bisa menikmati Tangga Seratus, perlu dikenang pula ketika proses pembangunan tempat ini. Ya, dulunya masyarakaat Sibolga "dipaksa" oleh Belanda untuk bekerja membangun Tangga Seratus.
Usut punya usut, dalam proses pembangunan Tangga Seratus itu sempat menimbulkan korban jiwa akibat kerja paksa yang diterapkan oleh pemerintah Belanda.
Sekarang, Tangga Seratus sudah terdaftar dan ditetapkan oleh Pemerintah Sibolga sebagai bagian dari situs Cagar Budaya Daerah.