Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mencolok di Tengah Kota, Begini Kisah Menara Air Belanda di Pandeglang Peninggalan Tahun 1848

Mencolok di Tengah Kota, Begini Kisah Menara Air Belanda di Pandeglang Peninggalan Tahun 1848

Mencolok di Tengah Kota, Begini Kisah Menara Air Belanda di Pandeglang Peninggalan Tahun 1848

Walau sering direnovasi, namun bentuknya masih dibiarkan sesuai aslinya

Keberadaan sebuah menara air begitu mencolok di tengah Kabupaten Pandeglang, Banten.

Bentuknya lumayan usang, karena sudah ada sejak 1848. Pemerintah setempat masih melakukan perawatan sebagai salah satu daya tarik peninggalan era penjajahan.

Memiliki tinggi hingga 11 meter, menara air ini berdiri persis di simpang Jalan Masjid Agung Kebon Cau, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang.

Bagi yang melintas dari arah Kampung Salabentar maupun Jalan Bhayangkara, keberadaannya dapat dikenali dengan jelas karena bentuknya yang berbeda dari bangunan sekitar dan merupakan ciri khas peninggalan kolonial di masa lampau.

Keunikan konstruksi bangunan membuat siapapun yang melintas tertarik untuk berhenti sejenak demi berswafoto atau memotret keberadaannya.

Gambar: Youtube Mang Dhepi Channel

Mencolok di Tengah Kota, Begini Kisah Menara Air Belanda di Pandeglang Peninggalan Tahun 1848
Dikenal dengan Nama Water Toren Pandeglang

Dikenal dengan Nama Water Toren Pandeglang

Bagi warga setempat, menara air ini jadi bangunan yang akrab dan menjadi identitas di wilayah Kebon Cau.

Di sekelilingnya terdapat pagar pembatas dengan jalan raya berwarna putih yang sekaligus menjadi penghiasnya.

Mengutip Youtube sejarah dan budaya di Banten, Mang Dhepi Channel, warga Pandeglang biasa menyebut menara air ini sebagai Water Toren Pandeglang. Toren sendiri dalam bahasa Indonesia adalah tempat penampungan air berukuran besar.

Bentuknya Khas Kolonial Belanda

Sisi menarik bangunan ini bukan hanya posisinya yang dibangun di tengah jalan, namun desainnya juga khas peninggalan kolonial Belanda.

Di bagian bawah sampai tengah bangunan, strukturnya disusun melalui tumpukan batu sungai berwarna hitam yang berbentuk bulat. Lalu sela-selanya diberi perekat lapisan semen dan kapur dari zaman tersebut.

Pada sisi atas, sudah diplester menggunakan semen sehingga bentuknya menyerupai tembok yang dicat putih.

Bentuk yang unik lainnya ada pada pintunya yang dibuat dengan bentuk setengah kubah, dan memakai pintu kayu khas zaman dulu. Walau sudah berusia 176 tahun, bangunan menara air ini masih kokoh dan jadi daya tarik di Kabupaten Pandeglang.

Terdapat Kursi Taman

Terdapat Kursi Taman

Walau bukan sebagai tempat wisata utama, namun spot ini selalu didatangi oleh warga yang kebetulan melintas di kawasan tersebut.

Tak sedikit di antara mereka yang datang untuk mengagumi keindahan bangunan lawas itu.

Banyak di antara pengunjung juga yang melakukan swafoto di sana, dengan latar menara air Belanda sebagai background objek.

Di sana juga disediakan beberapa bangku putih yang berada di halaman menara air, dan bisa digunakan oleh pengunjung untuk melihat bangunan penampungan air zaman Belanda itu.

Kisah di Balik Menara Air Belanda di Pandeglang

Jika melihat tulisan di salah satu sudut bangunan itu, tertulis peran menara ini sebagai pemasok utama sumber air bagi lingkungan sekitar di masa silam.

Kala itu di abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda tengah menggencarkan pembangunan tata kota di wilayah yang mereka kuasai, termasuk Pandeglang. Agar permukiman di sana betah ditinggali, maka dibangunlah sumber penyalur air bagi warga kota.

Saat itu, menara ini berfungsi untuk menyalurkan air melalui pipa-pipa yang ditanam ke rumah-rumah warga. Kemudian, air juga dialirkan ke kantor-kantor pemerintahan Belanda karena sumber utama air di sana cukup jauh.

Adapun sumber air di dalam toren air ini dialirkan dari kawasan Ciwasiat yang tak jauh dari kawasan tersebut. Selain itu, toren air ini juga membantu menyediakan air untuk kebutuhan industri kopra sebagai komoditas utama saat itu di wilayah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.

Sementara itu disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang, Yana Heryana, keberadaan menara air ini telah dilindungi lewat Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang benda cagar budaya.

Meski sudah dilakukan beberapa kali pemugaran, namun Pemerintah Kabupaten Pandeglang menginginkan agar bentuk asli bangunan tersebut dipertahankan.

Untuk mendistribusikan air, digunakan mesin pompa asal Jerman kala itu. Ini karena hanya Jerman yang memiliki teknologi mesin pendorong air yang mutakhir dan mampu mengalirkan air sampai kabupaten tetangga yakni Lebak.

Mencolok di Tengah Kota, Begini Kisah Menara Air Belanda di Pandeglang Peninggalan Tahun 1848
Melihat Menara Air Peninggalan Kolonial di Kota Tegal, Bukti Kecanggihan Belanda dalam Mengelola Air Tanpa Mesin
Melihat Menara Air Peninggalan Kolonial di Kota Tegal, Bukti Kecanggihan Belanda dalam Mengelola Air Tanpa Mesin

Jalur airnya dibuat menggunakan pipa dari baja yang didatangkan langsung dari negeri Belanda.

Baca Selengkapnya
Bendungan Megah Peninggalan Belanda Ini Punya 70 Pintu Air, Dulu jadi Andalan Kini Terbengkalai
Bendungan Megah Peninggalan Belanda Ini Punya 70 Pintu Air, Dulu jadi Andalan Kini Terbengkalai

Awalnya jadi sumber pengairan sawah, lalu berubah jadi lokasi mencari pasir.

Baca Selengkapnya
Menguak Jejak Bangunan Tua Peninggalan Belanda di Semarang, Kini Hilang Tak Berbekas
Menguak Jejak Bangunan Tua Peninggalan Belanda di Semarang, Kini Hilang Tak Berbekas

Keberadaan bangunan tua itu tersembunyi di balik keriuhan pertokoan di kawasan Kranggan.

Baca Selengkapnya
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Menguak Fakta Bendungan Pucang Gading, Pintu Air Tua Peninggalan Belanda yang Masih Berfungsi Hingga Kini
Menguak Fakta Bendungan Pucang Gading, Pintu Air Tua Peninggalan Belanda yang Masih Berfungsi Hingga Kini

Bangunan bendungan masih tampak kokoh walau beberapa bagiannya sudah tampak tergerus arus air

Baca Selengkapnya
Gandeng TNI AL, Bea Cukai Perketat Pengawasan Wilayah Perairan Indonesia
Gandeng TNI AL, Bea Cukai Perketat Pengawasan Wilayah Perairan Indonesia

Bea Cukai terus melakukan inovasi guna optimalkan pelayanan dan pengawasan

Baca Selengkapnya
Kisah Gedung Karesidenan Banten yang Bergaya Kerajaan Belanda, Saksi Bisu Runtuhnya Pemerintahan Sultan
Kisah Gedung Karesidenan Banten yang Bergaya Kerajaan Belanda, Saksi Bisu Runtuhnya Pemerintahan Sultan

Dari bangunan megah berbentuk kerajaan Belanda ini dapat dilihat perubahan pemerintahan Banten dari kesultanan menjadi karesidenan.

Baca Selengkapnya
Bintara Polisi Masih Bujangan saat Kenaikan Pangkat, Komandan Langsung Siram Air 'Ben Laku'
Bintara Polisi Masih Bujangan saat Kenaikan Pangkat, Komandan Langsung Siram Air 'Ben Laku'

Momen lucu Bintara Polisi bujangan dan komandannya saat kenaikan pangkat. Disiram air supaya cepat laku. Begini ulasannya.

Baca Selengkapnya
Melihat Mata Air Benoyo di Kota Salatiga, Airnya Sangat Jernih Walau di Tengah Perkampungan Penduduk
Melihat Mata Air Benoyo di Kota Salatiga, Airnya Sangat Jernih Walau di Tengah Perkampungan Penduduk

Konon pada zaman dahulu mata air tersebut digunakan untuk mandi para tentara.

Baca Selengkapnya
Alam Ganjar: Pembangunan Bandara di Bali Utara Harus Dukung Pemerataan
Alam Ganjar: Pembangunan Bandara di Bali Utara Harus Dukung Pemerataan

Ketum PDIP Megawati juga menolak keras pembangunan bandara baru di Bali tersebut

Baca Selengkapnya