Pada 2024 ini Jakarta genap berusia 497 tahun. Beratus-ratus tahun lamanya kota ini terus berkembang, hingga menjadi sebuah metropolitan yang diincar banyak orang.
Di balik gegap gempitanya, terdapat sejarah masa lalu yang mewarnai setiap sudut daerahnya. Dahulu, rentang abad ke-15 Jakarta masih terikat dengan kerajaan Pajajaran yang menguasai seluruh pemerintahan di sisi barat Pulau Jawa.
Namanya pun belum memakai Jakarta maupun Batavia dan masih dikenal sebagai Sunda Kelapa. Sejarah mencatat, bahwa Sunda Kelapa menjadi penyokong utama perekonomian kerajaan yang sempat dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi itu.
Sayangnya, kekuasaan Pajajaran membuat penjajah Portugis leluasa masuk. Perekonomian pun terancam lewat monopoli dagang yang dinilai merugikan masyarakat sekitar. Melihat ini, kerajaan Cirebon tak tinggal diam dan berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan penjajah Eropa.
Kabarnya, momen tersebut bisa kembali dirasakan melalui pariwisata Jakarta-Cirebon yang dijalankan oleh pemerintah daerah masing-masing.
(Gambar: Pelabuhan Sunda Kelapa/Wikipedia)
Advertisement
Advertisement
Mengutip laman Jakita yang dikelola Pemprov Jakarta, konsep wisata tersebut diketahui bernama Edu Heritage Jakarta-Cirebon.
(Gambar: Liputan6)
Wisata ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan Jakarta dan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Cirebon Jawa Barat.
Terkait tema, wisata tersebut akan fokus mengangkat pembebasan Jakarta dari penjajah Portugis yang dibantu oleh Cirebon.
“Ada transportasi khusus Jakarta – Cirebon, maupun sebaliknya. Pemerintah Kota Cirebon yang menyiapkan akomodasinya,” terang Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana.
Advertisement
Wisata yang dihadirkan tersedia dalam bentuk paket yang bisa dinikmati oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Akan ada beberapa rute yang dilalui, sesuai tema yang diangkat dari wisata antar kota tersebut.
Menurut Iwan, rute utama yang dipersiapkan yakni Sunda Kelapa – Keraton Kasepuhan Cirebon, ataupun Museum Fatahillah / Museum Sejarah Jakarta – Makam Sunan Gunung Jati.
“Destinasi utamanya adalah Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah dan Makam Sunan Gunung Jati,” tambahnya.
Advertisement
Titik-titik lokasi wisata akan disesuaikan dengan sejarah dari kedua daerah. Di sepanjang Jakarta sampai Cirebon misalnya, terdapat sejumlah peninggalan bahkan sejak zaman Kerajaan Tarumanegara yang pernah berkuasa di Jawa Barat.
Kerajaan ini berdiri pada abad ke-4 dan runtuh di abad ke-7 masehi silam. Salah satu peninggalannya adalah Candi Batujaya di Karawang, Jawa Barat yang terbuat dari tumpukan batu bata merah.
Sebelumnya wisata sendiri telah di-launching pada 21 April 2024 lalu dan menarik minat para pencinta sejarah serta budaya dari masing-masing kota.
Advertisement
Untuk harga paket eduwisata Jakarta-Cirebon dipatok sebesar Rp1,2 juta.
(Gambar: Makam Sunan Gunung Jati/Wikipedia)
Biaya tersebut termasuk tiket perjalanan Jakarta - Cirebon pulang pergi, kunjungan wisata dan beberapa fasilitas lainnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya mengatakan bahwa wisata ini nantinya akan membantu mengangkat pariwisata, budaya hingga kuliner yang ada di kedua wilayah.
Hal ini juga tidak menutup kemungkinan membuka peluang wisata di kota-kota satelit Cirebon seperti Kuningan, Majalengka hingga Indramayu.
“Program inisiasi bersama Pemkot Cirebon dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini, diharapkan mampu mendatangkan wisatawan lebih banyak. Khususnya kunjungan turis dari Jakarta ke Cirebon,” terangnya, mengutip ANTARA.
Advertisement
Advertisement
Hadirnya eduwisata heritage ini menjadi salah satu penguat hubungan antara Jakarta dengan Cirebon sebagaimana dalam sejarah perebutan dari bangsa Portugis di masa silam.
Mengutip situs jalurrempah.kemdikbud.go.id, Jakarta sejak masa lampau telah dikenal sebagai jalur rempah strategis nusantara yang kesohor. Akibatnya, para saudagar dari seluruh dunia memadati pelabuhan Sunda Kelapa sebagai lokasi perputaran ekonomi pada saat itu.
Fatahillah yang ditugaskan Sunan Gunung Jati untuk menghalau Portugis merupakan upaya agar negara Indonesia tidak dimonopoli oleh bangsa asing yang menginginkan hasil kekayaan alam Indonesia yang melimpah.
(Gambar: Pelabuhan Sunda Kelapa masa silam/Kemdikbud)