Waspada! Ini Dampak Buruk Berpura-pura Berpikiran Positif Bagi Kesehatan Mental
Berpura-pura selalu positif atau 'toxic positivity' dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan yang membuat kita merasa lelah, stres, dan cemas. Namun, norma sosial seringkali mendorong kita untuk menyembunyikan emosi yang sebenarnya dan menampilkan kesan positif. Kita mungkin mendengar nasihat seperti, "Berpura-puralah sampai kamu berhasil," atau "Fokus saja pada hal-hal positif, dan masalahmu akan hilang."
Meskipun berpikir positif dapat membantu mengatasi kesulitan, terus-menerus berpura-pura bahagia justru dapat merusak kesehatan mental dan menghalangi kita untuk mengatasi akar masalah. Lalu, apa saja dampak buruk berpura-pura berpikiran positif? Mengapa kita harus waspada terhadap 'toxic positivity' ini?
Berikut adalah tiga alasan mengapa terus tersenyum bukanlah solusi yang tepat, berdasarkan penelitian yang ada:
1. Menekan Emosi yang Sebenarnya
Tidak mungkin bagi seseorang untuk selalu jujur dan otentik tentang apa yang mereka rasakan. Waktu, tempat, dan situasi seringkali menentukan apakah ekspresi kita pantas atau tidak. Dalam beberapa kasus, kita mungkin perlu melindungi perasaan orang lain atau menghormati ruang mereka.
Menahan diri dan menyembunyikan emosi yang sebenarnya dengan senyuman demi kebaikan yang lebih besar adalah keterampilan yang baik. Namun, selalu tersenyum untuk menghindari ketidaknyamanan diri sendiri bisa menjadi tanda pola 'toxic positivity' yang lebih dalam.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Academy of Management Journal menemukan bahwa pekerja yang mencoba memalsukan emosi mereka melaporkan kondisi emosional yang memburuk seiring waktu. Tersenyum untuk menjaga citra diri hanya menunda masalah yang tak terhindarkan. Meskipun terkadang kita perlu tersenyum melewati masa sulit, terus-menerus menjauhkan diri dari perasaan yang sebenarnya lebih berbahaya secara psikologis.
2. Memicu Keyakinan yang Tidak Realistis
Keyakinan umum mengatakan bahwa semakin banyak orang tersenyum, semakin positif perasaan mereka, dan perasaan positif ini meningkatkan kesejahteraan. Namun, sebuah artikel yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Psychology menantang keyakinan populer ini.
Artikel tersebut menemukan bahwa sering tersenyum justru dapat menjadi bumerang. Bukan tindakan tersenyum itu sendiri yang meningkatkan kebahagiaan atau kesejahteraan, tetapi interpretasi senyuman sebagai cerminan kebahagiaan yang lebih penting. Sederhananya, keyakinan "Saya bahagia karena saya tersenyum" bisa menjadi kontraproduktif dibandingkan dengan "Saya tersenyum karena saya bahagia."
Keyakinan lain yang tidak membantu dan dapat menyebabkan ekspektasi tidak realistis serta membahayakan kesejahteraan adalah:
- "Saya tak terkalahkan; tidak ada yang menyakitiku" versus "Saya cukup kuat untuk mengatasi rintangan ini."
- "Hidupku sempurna" versus "Saya bahagia dengan keadaan saya saat ini, dan saya akan berusaha membuat hidup yang lebih baik untuk diri saya sendiri."
- "Saya yang paling cantik di antara teman-teman saya" versus "Saya menyukai penampilan saya dan senang berusaha untuk penampilan saya."
Afirmasi yang tidak selaras dengan nilai-nilai internal seseorang dapat menyebabkan penolakan tambahan, menciptakan kepuasan diri, dan mengurangi akuntabilitas atas kebahagiaan diri sendiri.
3. Memberikan Kesan yang Tidak Benar
Dalam upaya untuk meyakinkan diri sendiri tentang kebahagiaan, Anda juga pasti memberikan kesan yang sama kepada teman dan orang yang dicintai, yang mendorong mereka untuk memperlakukan Anda dengan cara tertentu. Sementara representasi diri yang positif pasti dapat mendorong pandangan yang lebih positif, representasi diri yang jujur memenuhi kebutuhan seseorang akan dukungan sosial.
Sebuah studi tentang perilaku daring individu di Facebook menemukan bahwa pengungkapan diri yang tulus memainkan peran penting dalam menandakan kebutuhan seseorang akan dukungan sosial. "Meskipun bersembunyi di balik topeng Facebook yang tersenyum, seseorang mungkin masih merasa bahagia," kata penulis utama studi tersebut, psikolog Junghyun Kim. "Namun, kebahagiaan seperti itu mungkin tidak berakar pada dukungan sosial yang berarti yang diberikan oleh teman-teman Facebook."
Singkatnya, terus-menerus berpura-pura bahagia dan positif dapat menyebabkan kesalahan representasi keadaan emosi Anda yang sebenarnya. Ini dapat menyebabkan kebingungan emosional, dan dapat memengaruhi orang lain untuk berinteraksi dengan Anda dengan cara yang tidak membantu. Yang terpenting, hal itu dapat menghalangi Anda untuk mendapatkan bantuan dan dukungan kesehatan mental yang Anda butuhkan.
Oleh karena itu, penting untuk diingat bahwa menerima dan memproses semua emosi, baik positif maupun negatif, adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Mencari dukungan dari orang-orang terdekat dan profesional kesehatan mental juga sangat penting untuk menjaga kesejahteraan mental.