Fakta Unik Sehat Mental: Psikolog Ungkap Bukan Berarti Selalu Bahagia, Tapi Mampu Kelola Stres

Psikolog klinis menegaskan bahwa sehat mental bukanlah tentang kebahagiaan abadi, melainkan kemampuan mengelola stres dan tetap produktif. Pahami definisi sebenarnya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik Sehat Mental: Psikolog Ungkap Bukan Berarti Selalu Bahagia, Tapi Mampu Kelola Stres
Psikolog klinis menegaskan bahwa sehat mental bukanlah tentang kebahagiaan abadi, melainkan kemampuan mengelola stres dan tetap produktif. Pahami definisi sebenarnya! (AntaraNews)

Psikolog klinis dewasa Natasya meluruskan pandangan umum tentang kesehatan mental. Ia menegaskan bahwa sehat mental tidak berarti seseorang harus selalu merasa bahagia. Diskusi di Yogyakarta ini bertujuan mengubah persepsi tersebut.

Menurut Natasya, sehat mental lebih merujuk pada kapasitas individu untuk tetap produktif. Ini juga mencakup kemampuan mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman ini sangat penting untuk kesejahteraan psikologis.

Pernyataan ini disampaikan dalam acara "Ruang Cerita: Ngobrol Santai Tentang Kesehatan Mental" di Yogyakarta. Acara tersebut membahas berbagai aspek penting terkait kondisi mental. Natasya menekankan bahwa mengelola stres adalah kunci utama.

Natasya menjelaskan bahwa banyak orang masih keliru memahami kesehatan mental. Mereka sering beranggapan bahwa kondisi ini berarti selalu bahagia. Padahal, definisi sebenarnya jauh lebih kompleks dan mendalam.

Sehat mental sebenarnya adalah kondisi kesejahteraan psikologis. Individu yang sehat mental mampu berkontribusi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga memiliki kapasitas untuk menghadapi tantangan.

Seseorang dikatakan sehat mental bukan karena tidak pernah mengalami stres. Melainkan, karena mereka mampu mengelola stres tersebut dengan baik. Kemampuan ini mencegah stres berkembang menjadi gangguan psikologis.

"Kita mungkin tidak bisa menghindari dari stres. Yang utama adalah bagaimana kita bisa mengelola stres itu dengan baik agar tidak berkelanjutan menjadi gangguan psikologis dan bukan malah menghindarinya dan terus menganggap tidak ada," ujar Natasya. Ini menunjukkan pentingnya pengelolaan aktif.

Natasya menambahkan bahwa sehat secara mental tidak selalu berarti bahagia. Ini juga berarti mampu berproses dari setiap pengalaman hidup, termasuk hal-hal tidak menyenangkan. Menerima emosi adalah bagian dari proses ini.

"Sehat mental bukan berarti tidak pernah merasa sedih, marah, atau kecewa. Namun, bagaimana kita bisa menghadapi dan memaknai perasaan itu agar tidak menjadi hambatan di kemudian hari," kata Natasya. Mengenali emosi menjadi langkah krusial.

Menekan perasaan negatif justru dapat memperburuk kondisi psikologis. Hal ini bisa membuat seseorang semakin tertekan dan kehilangan keseimbangan. Oleh karena itu, ekspresi emosi yang sehat sangat diperlukan.

"Ketika kita menolak atau menekan emosi, itu tidak membuat masalahnya hilang, justru bisa menumpuk dan menjadi beban. Maka, penting untuk punya ruang aman untuk mengekspresikan diri," ujarnya. Ruang aman bisa berupa teman atau profesional.

Psikolog Patricia Melati Rosari dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta menyoroti pentingnya mengenali tanda mental butuh istirahat. Ada tiga tanda utama yang perlu diperhatikan. Tanda-tanda ini berkaitan dengan pikiran, emosi, dan perilaku.

Tanda pertama adalah kesulitan fokus atau produktivitas menurun. "Kalau mengerjakan tugas kampus atau pekerjaan yang seharusnya selesai 30 menit, tapi jadi molor karena tidak bisa fokus, itu sudah menjadi tanda awal sebelum masuk ke fase stres yang lebih berat," ujar Patricia.

Tanda kedua adalah perubahan emosi menjadi lebih sensitif. Misalnya, mudah tersinggung atau marah karena hal kecil. "Misalnya, ketika ditanya 'sudah kumpul tugas belum?' langsung kesal. Itu perlu disadari sebagai sinyal bahwa tubuh dan pikiran kita butuh jeda," jelasnya.

Tanda ketiga melibatkan perubahan pola aktivitas sehari-hari, terutama tidur dan makan. Perubahan drastis dalam pola tidur atau makan bisa menjadi indikasi. "Biasanya tidur jam sembilan malam, tapi sekarang jam sebelas masih terjaga menatap langit-langit, atau pola makan yang berubah drastis. Itu tanda yang perlu diperhatikan," tambah Patricia.

Tanda-tanda yang disebutkan Patricia berfungsi sebagai deteksi dini untuk mencegah kelelahan mental yang lebih parah. Dukungan dari lingkungan sekitar juga krusial, meskipun kesadaran diri tetap menjadi faktor utama.

Patricia sepakat dengan Natasya bahwa menerima emosi negatif adalah bagian normal dari kehidupan. Manusia dikaruniai berbagai perasaan, sehingga wajar merasakan sedih, marah, atau kecewa. Ini adalah bagian dari fitrah manusia.

Stigma negatif terhadap kesehatan mental di Indonesia masih menjadi tantangan. Banyak orang enggan mengakui perasaan negatifnya karena takut dianggap lemah. "Sering kali kalau kita bilang capek atau sedih, dianggap lebay atau kurang bersyukur," kata Patricia.

Menerima dan menyadari emosi negatif bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, ini adalah bagian dari proses mengenali diri secara utuh. "Selama hidup akan selalu ada stres, dan itu adalah proses untuk menjadi individu yang lebih baik," tutur Patricia Melati.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi