Paparan BPA dari Galon Guna Ulang Disebut Perlu Diwaspadai Sejak Perencanaan Kehamilan
Pencegahan perlu dilakukan sejak tahap awal untuk mengurangi risiko gangguan hormon dan reproduksi pada anak di kemudian hari.
Pencegahan pubertas dini pada anak dinilai perlu dimulai sejak tahap perencanaan kehamilan, termasuk dengan mengurangi paparan Bisphenol A (BPA) dari galon dan kemasan plastik makanan-minuman yang digunakan ulang.
Menurut pakar obstetri dan ginekologi, Budi Wiweko, kehamilan tidak seharusnya terjadi tanpa persiapan, melainkan perlu direncanakan secara matang, termasuk dari sisi kesehatan lingkungan.
"Perencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Enggak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan," kata Prof. Budi yang akrab disapa Prof. Iko dikutip Selasa (26/5).
Ia menjelaskan, paparan zat pengganggu hormon atau endocrine disrupting chemicals perlu dihindari sejak sebelum kehamilan hingga masa awal kehamilan. Salah satu zat yang menjadi perhatian adalah BPA atau Bisphenol A.
"Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu," ujarnya.
Menurut Prof. Iko, perhatian terhadap BPA tidak hanya berkaitan dengan pola konsumsi anak, tetapi juga kesiapan keluarga sejak sebelum anak lahir. Ia menilai pencegahan perlu dilakukan sejak tahap awal untuk mengurangi risiko gangguan hormon dan reproduksi pada anak di kemudian hari.
BPOM RI sendiri telah menetapkan batas migrasi BPA maksimal sebesar 0,6 bagian per juta atau mg/kg dalam kemasan pangan.
Prof. Iko juga menyinggung program POGI bertajuk Selamatkan Perempuan Indonesia yang menekankan pentingnya perlindungan kesehatan perempuan sejak tahap awal kehidupan reproduksi.
"Selamatkan Perempuan Indonesia mulai dari hulu sampai ke hilir, mulai dari perencanaan kehamilan," ujarnya.
Ia menambahkan, perhatian terhadap kesehatan reproduksi seharusnya tidak hanya dimulai setelah bayi lahir.
"Seribu hari pertama kehidupan saya kurang setuju, harusnya mulai seratus hari sebelum hamil itu sudah disiapkan, termasuk BPA, termasuk endocrine disrupting chemical (zat kimia pengganggu hormon) lainnya," katanya.
Menurut dia, paparan zat pengganggu hormon pada masa awal kehamilan dapat berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan reproduksi di masa depan, seperti kista endometriosis, PCOS, hingga kanker.
Dari sisi psikologi, psikolog Ratih Zulhaqqi menilai pencegahan pubertas dini juga berkaitan erat dengan kesiapan menjadi orang tua.
"Pubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas aja, justru dari sebelum-sebelumnya kan, ketika mereka mau jadi orang tua," ujar Ratih.
Pola Hidup Anak Sejak Dini
Ia menekankan pentingnya perhatian terhadap pola hidup anak sejak dini, termasuk pola tidur, pola makan, dan konsumsi sehari-hari.
Menurut Ratih, orang tua perlu memahami kebutuhan dasar anak secara menyeluruh, termasuk memperhatikan potensi paparan zat tertentu dari makanan dan minuman.
Penggunaan Galon
Karena itu, kewaspadaan terhadap penggunaan galon dan kemasan plastik guna ulang dinilai perlu menjadi bagian dari upaya pencegahan jangka panjang dalam menjaga kesehatan hormon dan reproduksi anak sejak masa perencanaan kehamilan.