Jangan Remehkan Batuk Anak! Kenali Tanda Pneumonia Sejak Dini
Tidak semua batuk dan pilek pada anak bersifat ringan; beberapa di antaranya bisa menjadi indikasi awal pneumonia yang harus segera diwaspadai.
Batuk pilek sering kali dianggap sebagai kondisi yang ringan dan dapat sembuh dengan istirahat serta pengobatan sederhana. Namun, tidak semua kasus batuk pilek pada anak sebaiknya dianggap remeh.
Terkadang, gejala yang terlihat seperti batuk pilek biasa dapat menjadi indikasi awal pneumonia, yaitu infeksi serius pada paru-paru yang memerlukan perhatian medis segera. Menurut dokter spesialis anak, Kanya Ayu Paramastri, orangtua perlu memahami perbedaan antara batuk pilek biasa dan yang lebih berbahaya agar tidak mengambil langkah yang salah.
"Ini batuk pilek biasa atau batuk pilek yang membahayakan," ujarnya dalam acara Media Session World Pneumonia Day 2025 dengan tema "Unlocking Every Breath: Together Against Pneumonia", di Jakarta Pusat, Senin (10/11).
Kanya menjelaskan bahwa pneumonia memiliki gejala klinis yang terdiri dari empat hal: demam, batuk, sesak napas, dan kekurangan oksigen.
"Jadi harus ada empat kata dulu, bukan semua batuk pilek demam biasa disebut sebagai pneumonia," tegasnya.
Jika anak tidak mengalami sesak napas dan tidak menunjukkan tanda kekurangan oksigen, kemungkinan besar itu hanya batuk pilek biasa. Anak mungkin bernapas melalui mulut karena hidungnya tersumbat atau ada lendir, tetapi selama tidak ada tanda-tanda sesak, kondisi tersebut masih dianggap wajar.
"Mungkin dia batuk pilek biasa, tapi napasnya susah karena hidungnya mampet, napasnya pakai mulut, mungkin ada upilnya, tapi tanda sesaknya harus ada, barulah kita bilang sebagai pneumonia," jelasnya.
Kapan batuk dan pilek bisa menjadi tanda pneumonia?
Pneumonia berbeda dari batuk pilek biasa, karena merupakan infeksi atau radang pada paru-paru. Salah satu penyebab utama penyakit ini adalah bakteri Streptococcus pneumoniae. Meskipun dapat menyerang siapa saja, anak-anak lebih rentan terhadap penyakit ini, mengingat sistem imun mereka belum sepenuhnya berkembang.
Gejala yang muncul pada pneumonia meliputi demam, kesulitan bernapas, nyeri di dada, batuk, nyeri kepala, penurunan nafsu makan, serta rasa lemas dan lesu pada tubuh. Ciri khas pneumonia yang membedakannya dari batuk pilek biasa adalah adanya sesak napas. "
Tanda kegawatannya adalah sesak dalam artian napasnya bunyi, mungkin bisa mengi, bisa tidak. Napas cepat, perut dan dada kembang kempis, dan ada tarikan di dinding dada yang disebut retraksi," jelasnya.
Selain itu, jika cuping hidung anak tampak kembang kempis, itu juga menunjukkan bahwa mereka berjuang untuk bernapas. Terkadang, anak terlihat masih bisa bermain atau tersenyum, tetapi sebenarnya mereka mengalami sesak napas.
"Itu yang orang tua harus aware, jangan sampai ketipu, tapi anaknya masih santai-santai, padahal mah bengek, sesak," ujarnya.
Jika Anda melihat satu tanda saja, seperti napas cepat, retraksi pada dada, atau cuping hidung yang kembang-kempis, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Langkah sederhana
Kanya menjelaskan bahwa pneumonia dapat dicegah dengan beberapa langkah sederhana. Pertama, penting untuk memastikan anak mendapatkan nutrisi seimbang agar sistem imun tubuhnya mampu melawan infeksi dengan baik. Kedua, istirahat yang cukup sangat membantu dalam proses pemulihan dan memperkuat daya tahan tubuh anak. Selain itu, menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) juga merupakan langkah krusial untuk mencegah penularan penyakit, termasuk pneumonia. Beberapa kebiasaan yang perlu diterapkan antara lain:
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin.
- Gunakan masker saat sakit atau berada di tempat ramai.
- Terapkan etika batuk, seperti menutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku bagian dalam saat batuk atau bersin.
Langkah berikutnya adalah melakukan imunisasi PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine). Vaksin pneumokokus ini berfungsi untuk melindungi dari infeksi bakteri Streptococcus Pneumoniae yang bisa menyebabkan pneumonia. Vaksinasi ini sangat dianjurkan untuk:
- Bayi pada usia 12 minggu dan 1 tahun (pada atau setelah satu tahun pertama).
- Orang dewasa yang berusia 65 tahun ke atas.
- Anak-anak dan orang dewasa dengan kondisi kesehatan jangka panjang tertentu, seperti penyakit jantung atau ginjal yang serius.