El Nino Godzilla: Apakah Virus Campak Dapat Bertahan Dalam Suhu Panas?
Kasus campak mengalami penurunan seiring dengan kedatangan El Nino Godzilla. Namun, bagaimana ketahanan virus tersebut dalam kondisi cuaca panas?
Fenomena El Nino yang diperkirakan akan melanda Indonesia antara April hingga Oktober 2026 menimbulkan berbagai dampak, salah satunya adalah musim kemarau yang lebih panas, kering, dan ekstrem. Fenomena ini dikenal dengan sebutan El Nino Godzilla, yang memunculkan pertanyaan mengenai pengaruh cuaca panas ekstrem terhadap daya hidup virus penyebab campak.
Dokter spesialis anak, Elsye Souvriyanti, memberikan penjelasan terkait hal ini dengan menyatakan bahwa virus penyebab campak termasuk dalam kelompok Paramyxovirus yang memiliki daya tahan rendah.
"Organisme ini tidak memiliki daya tahan yang tinggi sebetulnya, jadi kalau di luar tubuh di suhu kamar dia tiga sampai lima hari itu daya infektivitasnya, daya untuk membuat infeksinya akan turun menjadi 60 persen," kata Elsye kepada Health Liputan6.com dalam diskusi daring bersama Rumah Sakit YARSI, Senin (20/4).
Virus penyebab campak ini mudah dihancurkan oleh sinar ultraviolet dan tidak tahan terhadap panas. "Makanya perlu kalau ada pengidap campak di rumah, ditempatkan di kamar isolasi yang sinar mataharinya bisa masuk ke dalam kamar, supaya virus-virus yang keluar itu bisa mati," tambah dia.
Sebaliknya, pada kondisi dingin, virus ini dapat bertahan lebih lama, sehingga penting untuk memperhatikan pengaturan lingkungan bagi penderita campak.
Potensi Kemunculan Penyakit Lain
Kemampuan virus campak untuk menginfeksi cenderung menurun saat cuaca panas ekstrem, namun ada kemungkinan munculnya penyakit lainnya. Kehadiran fenomena El Nino Godzilla menyebabkan Indonesia mengalami peningkatan suhu antara 1,5 hingga 2 derajat Celsius.
Hal ini mengakibatkan berkurangnya proses rain washing, sehingga polutan udara tidak dapat tersapu oleh hujan dan lebih cenderung terakumulasi akibat udara yang stagnan, lapisan inversi, serta angin yang lemah. Selain itu, kondisi ini diperparah dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan kabut asap, seperti yang disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman.
Peningkatan suhu dan perubahan lingkungan juga dapat memicu penyakit yang ditularkan oleh vektor, seperti dengue dan malaria, yang berkembang biak di genangan air.
"Serta memperburuk kualitas air dan sanitasi yang berpotensi meningkatkan kasus diare, tifoid, kolera, dan leptospirosis," ungkap Aji dalam pesan tertulisnya beberapa waktu lalu. Dengan demikian, perubahan iklim yang terjadi akibat fenomena ini tidak hanya berdampak pada virus campak, tetapi juga dapat memperburuk kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Imbauan dari Kementerian Kesehatan
Aji juga memberikan penjelasan mengenai dampak El Nino dengan menerapkan protokol kesehatan untuk melindungi diri. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
- Memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau website;
- Mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menutup ventilasi rumah, kantor, sekolah, atau tempat umum saat polusi udara meningkat;
- Menggunakan penjernih udara di dalam ruangan;
- Menghindari sumber polusi dan asap rokok;
- Menggunakan masker saat polusi udara tinggi;
- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menjaga daya tahan tubuh agar tetap fit.
Aji menambahkan, "Melakukan konsultasi daring/luring dengan tenaga medis/kesehatan jika muncul keluhan kesehatan khususnya masalah pernapasan." Dengan mengikuti langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat dapat melindungi diri dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh El Nino, terutama yang berkaitan dengan kesehatan pernapasan. Kesadaran dan tindakan preventif sangat penting untuk menjaga kesehatan di tengah kondisi lingkungan yang tidak menentu.