7 dari 10 siswa SMA Enggan ke Ruang BK untuk Melakukan Konseling
Sebagian besar siswa SMA yang terlibat dalam penelitian ini lebih memilih teman sebagai tempat untuk berkonsultasi dibandingkan dengan guru di sekolah.
Menurut sebuah penelitian, sebanyak 70% pelajar SMA di Jakarta tidak tertarik untuk mengunjungi ruang Bimbingan Konseling (BK) di sekolah mereka guna membahas masalah kesehatan mental yang dihadapi. Penelitian ini dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC), Fokus Kesehatan Indonesia (FKI), dan Yayasan BUMN, yang menunjukkan bahwa saat berada di lingkungan sekolah, responden lebih memilih untuk berkonsultasi dengan teman sebaya daripada dengan guru mengenai masalah kesehatan mental mereka.
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, Peneliti Utama HCC, menyatakan, "Bahkan hampir 7 dari 10 (67 persen) pelajar SMA terbukti tidak ingin mengunjungi ruang BK, terlebih untuk melakukan konseling, padahal guru sadar akan risiko gangguan emosional dan kesehatan jiwanya." Hal ini menunjukkan bahwa teman sebaya dapat berperan sebagai konselor dalam mengatasi masalah kesehatan mental di sekolah. Dalam konteks ini, peran teman sebagai peer counselor dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi masalah kesehatan mental di kalangan pelajar.
Di kesempatan yang sama, Prof. Nila Moeloek dari Fokus Kesehatan Indonesia (FKI) mengingatkan bahwa pendekatan ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. "Pelajar usia remaja tetap merupakan individu yang masih perlu bimbingan, sehingga konsultasi antar sesama tetap harus disiasati ruang lingkup sebagai saluran bercerita saja dan bukan untuk dilakukan sebagai upaya mitigasi konseling," tuturnya. Dengan demikian, penting untuk memastikan bahwa dukungan yang diberikan oleh teman sebaya tidak menggantikan peran profesional yang dibutuhkan dalam menangani masalah kesehatan mental.
Menteri Kesehatan periode 2014-2019, Nila, menjelaskan pentingnya bimbingan dalam konseling teman sebaya. "Karena nantinya akan ada kemungkinan potensi saran yang tidak akurat sebab mereka tetap harus dibimbing, dan ini juga merupakan tugas orangtua, keluarga, serta guru di sekolah," jelas Nila. Penelitian yang dilakukan menghasilkan rekomendasi untuk institusi pendidikan yang dikenal dengan nama Zona Mendengar Jiwa. "Harapannya dapat diterapkan oleh pihak sekolah terutama pelaksanaan skrining kesehatan mental, identifikasi masalah dan konseling berbasis sekolah, dan konseling sebaya serta integrasi layanan kesehatan dengan sekolah," ungkap Heru Komarudin, Program Manager Health and Wellbeing Yayasan BUMN.
Heru menegaskan bahwa program ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan generasi muda yang sehat baik secara fisik maupun mental dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045. Selain itu, penelitian ini merekomendasikan perlunya intervensi dan promosi kesehatan mental yang terstruktur di tingkat SMA, melibatkan peran aktif guru, teman sebaya, dan orang tua agar lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang mendukung kesehatan mental siswa. Langkah ini sangat penting karena sekolah memiliki potensi besar sebagai lokasi utama permasalahan kesehatan mental. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah melakukan rebranding pada ruang Bimbingan Konseling (BK) agar tidak menimbulkan stigma bagi siswa yang ingin berkonsultasi di tempat tersebut.
Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh HCC, FKI, dan Yayasan BUMN melalui inisiatif Mendengar Jiwa Institute, ditemukan fakta yang sangat memprihatinkan mengenai kesehatan mental di kalangan remaja Jakarta. Studi ini mengungkapkan bahwa 30% pelajar sering menunjukkan perilaku agresif dan terlibat dalam perkelahian akibat masalah kesehatan mental yang mereka alami. Penelitian ini melibatkan 741 siswa SMA di Jakarta dan dipimpin oleh Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi sebagai Peneliti Utama HCC, Bunga Pelangi SKM, MKM selaku Direktur Program HCC, serta Prof. Nila F. Moeloek yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif FKI. Hasil dari penelitian ini menjadi landasan untuk pengembangan Program Zona Mendengar Jiwa, yang bertujuan untuk membangun sistem dukungan, meningkatkan kesadaran, memberikan edukasi, serta menawarkan intervensi berbasis data mengenai kesehatan mental remaja, khususnya di lingkungan pendidikan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4364114/original/005662700_1679241030-230319_JOURNAL_Salah_Persepsi_pada_Self_Diagnosis_S3.jpg)