Sebanyak 4 dari 100 siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 11 mengundurkan diri dari program pendidikan di Politeknik Kesejahteraan Sosial (Polteksos) Bandung. Padahal, program tersebut baru berjalan sekitar dua pekan sejak dimulai pada 14 Juli 2025.
Kepala SRMA 11, Tintin Sri Suprihatin, menjelaskan bahwa keempat siswa tersebut mundur karena tidak sanggup menjalani sistem asrama (boarding).
“Kalau anak-anaknya sebenarnya betah. Tapi dari awal memang ada empat orang yang tidak sanggup boarding, karena belum siap jauh dari orang tuanya,” ujar Tintin saat ditemui di Polteksos Bandung, Senin (28/7).
Menurutnya, dari 4 siswa yang mengundurkan diri, 3 merupakan perempuan dan 1 laki-laki.
“Mereka masih ingin tidur bersama orang tuanya, jadi belum terbiasa. Betul-betul homesick,” lanjutnya.
Meski demikian, pihak sekolah telah mengganti keempat siswa tersebut dengan pelajar lain. Proses penggantian dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Bandung melalui sistem Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Kami hanya menerima nama penggantinya dari dinas,” ujar Tintin.
SRMA 11 telah menetapkan jadwal kunjungan orang tua setiap hari Minggu. Hal ini sesuai arahan Presiden agar anak tetap bisa bertemu dengan keluarganya.
“Ketika ada orang tua yang datang di luar jadwal, tetap kami fasilitasi. Tapi untuk ketertiban, jadwal resmi kami tetapkan di hari Minggu sesuai kelas masing-masing,” jelas Tintin.
Advertisement
Kegiatan Belajar Terstruktur dan Ketat
Tintin menjelaskan bahwa aktivitas siswa di SRMA 11 dibagi ke dalam tiga jenis pembelajaran yakni intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler.
Kegiatan di kelas dimulai pukul 07.00 hingga 15.15 WIB, dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler, sesi kokurikuler di asrama, pembinaan dengan wali asuh, serta ibadah Magrib dan Isya.
“Anak-anak juga tidak diperbolehkan meninggalkan lingkungan Polteksos tanpa izin. Kecuali jika ada keperluan khusus, seperti menghadiri pernikahan keluarga. Itu pun harus disertai surat izin,” terang Tintin.
Advertisement
Fasilitas Pembelajaran Masih Diproses
Terkait seragam dan perlengkapan belajar, Tintin mengakui bahwa belum semua siswa memiliki fasilitas yang seragam. Beberapa item seperti laptop dan laboratorium masih dalam proses pengadaan dari pemerintah pusat.
“Kelengkapan seperti seragam, laptop pribadi, dan peralatan lab memang belum sampai. Kami masih menunggu dari Jakarta,” ungkapnya.
SRMA 11 merupakan bagian dari program pendidikan yang dirancang pemerintah untuk siswa dari latar belakang sosial ekonomi tertentu, dengan sistem boarding dan kurikulum yang menggabungkan pendidikan formal dan karakter.