Fokus Pemerintah: Kebijakan Energi dan Stimulus Ekonomi Jaga Stabilitas Nasional
Pemerintah terus memperkuat Kebijakan Energi dan Stimulus Ekonomi untuk menjaga stabilitas harga, daya beli masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menghadiri rapat pembahasan kebijakan energi dan stimulus ekonomi di Jakarta pada Jumat (27/3). Rapat penting ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Tujuannya adalah menjaga stabilitas harga dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah. Langkah ini untuk memastikan ketersediaan energi dan menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, mendorong keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.
Dalam rapat tersebut, turut hadir Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro.
Strategi Pemerintah Hadapi Dinamika Global
Rapat tersebut membahas dan menyepakati rencana kebijakan pemerintah. Fokus utamanya pada sektor energi dan stimulus ekonomi. Ini menjadi instrumen utama menjaga stabilitas nasional.
Pemerintah memastikan stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga. Ini sangat penting di tengah ketidakpastian global. Eskalasi geopolitik dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan menjadi perhatian utama.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto sebelumnya mengatakan. Fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat dan resilien. Hal ini ditopang oleh beberapa faktor utama.
Indikator Ekonomi Kuat dan Resilien
Stabilitas makroekonomi Indonesia tetap terjaga dengan baik. Pertumbuhan ekonomi 2025 diproyeksikan mencapai 5,11 persen (yoy). Inflasi berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Dari sisi domestik, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan. Ini didukung stimulus fiskal dan bantuan sosial yang diberikan pemerintah. Aktivitas manufaktur juga mencatat Purchasing Managers Index (PMI) sebesar 53,8.
Angka PMI tersebut menunjukkan fase ekspansi yang positif. Ini menandakan geliat sektor industri terus berlanjut. Ketahanan fiskal negara juga tetap kuat.
Penerimaan pajak hingga Februari 2026 tumbuh 30,4 persen (yoy). Hal ini didukung reformasi perpajakan dan digitalisasi melalui sistem Coretax.
Penguatan Ketahanan Pangan dan Energi Nasional
Pemerintah juga memperkuat ketahanan pangan dan energi. Upaya ini termasuk swasembada sejumlah komoditas penting. Selain itu, surplus produksi energi berbasis biodiesel.
Langkah-langkah ini menjadi bantalan penting. Ini untuk menghadapi gejolak global yang mungkin terjadi. Produksi energi berbasis biodiesel menunjukkan kemandirian energi Indonesia.
Ke depan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia. Targetnya dapat mencapai sekitar 5,4 persen pada tahun 2026. Ini akan dicapai dengan tetap menjaga stabilitas.
Reformasi struktural juga akan terus dilanjutkan. Ini termasuk hilirisasi industri, penguatan investasi, dan percepatan digitalisasi.
Sumber: AntaraNews