Djarot PDIP Pada Peringatan Kudatuli: Jadi Pejabat Jangan Mandor Kawat, Kerja Kendor Makan Kuat
PDIP hari ini memperingati 29 tahun peristiwa Kerusuhan 27 Juli atau Kudatuli.
Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat menyebut Kudatuli menjadi tonggak awal reformasi, sehingga seluruh masyarakat bisa menjadi pemimpin di Tanah Air.
Meski begitu, ia mengaku miris karena rezim orde baru (Orba) yang telah berhasil ditumbangkan itu seolah kembali lagi. Pasalnya, kata dia saat ini praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme terang-terangan terjadi.
“Dulu waktu reformasi, dulu waktu 27 Juli, kita bersama-sama rakyat menghantam itu KKN. Betul nggak? Sekarang luar biasa. Balik lagi nih, malah terang-terangan. Terang-terangan nih. Nepotismenya terang-terangan. Betul nggak? Korupsi terang-terangan, kolusinya juga terang-terangan,” kata Djarot di DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (27/7/2025).
Keluar dari zona nyaman
Djarot menyampaikan, kondisi ini membuat PDIP harus merefleksikan diri. Terutama pada cara kader dalam memimpin partai.
“Apakah ada yang salah ya dalam perilaku kita ketika memimpin partai kita ini? Apakah kita sudah semakin jauh dari rakyat? Apakah kita yang sudah dapat jabatan itu sudah di zona nyaman?,” ujar Djarot.
“Kata orang tua saya, hati-hati, jabatan, jangan jadi mandor kawat. Tahu tidak mandor kawat apa? Kerja kendor, makan kuat. Orang Jawa mesti ngerti,” sambung dia.
Menurut Djarot, peristiwa Kudatuli mengingatkan kader dan simpatisan PDIP agar fokus pada kepentingan rakyat. Menurutnya, hal ini berkali-kali dilakukan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri.
“Bu Mega berkali-kali keluar dari zona nyaman. Rakyat itulah yang menjadi tujuan kita. Jangan kemudian PDIP perjuangan ini sama saja, PDIP Partai Kapitalis dan Partai Borjuis. Oh no. PDI Perjuangan adalah partai wong cilik, partainya, kaum marhen, partainya Bung Karno,” ujar dia.
Kekuasaan, lanjut Djarot boleh-boleh saja dikejar asalkan dicapai secara konstitusional dan secara demokrasi.