Waspada, Konsumsi Karbohidrat Sahur Berlebih Picu Cepat Lapar dan Risiko Diabetes
Ahli gizi mengingatkan, konsumsi karbohidrat sahur dalam jumlah besar bukan strategi tepat menahan lapar saat puasa. Pola ini justru memicu cepat lapar dan berisiko diabetes. Simak penjelasannya.
Jakarta, 20/2 (ANTARA) - Dokter dan ahli gizi masyarakat, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, menegaskan bahwa konsumsi karbohidrat dalam jumlah besar saat sahur bukanlah strategi yang efektif untuk menahan rasa lapar selama berpuasa. Anggapan umum bahwa memperbanyak porsi nasi atau makanan manis akan membuat tubuh lebih kuat menjalani puasa, justru keliru.
Menurut ahli gizi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini, pola makan sahur seperti itu justru dapat memicu rasa lapar lebih cepat. Hal ini disebabkan oleh mekanisme tubuh dalam mencerna karbohidrat, terutama jenis karbohidrat sederhana.
Dr. Tan Shot Yen, yang dihubungi ANTARA pada Jumat, menjelaskan bahwa tubuh akan lebih cepat merasa lapar karena karbohidrat tersebut cepat dicerna menjadi gula darah. Kondisi ini sangat bergantung pada jenis karbohidrat yang dikonsumsi.
Mitos Karbohidrat Berlimpah Saat Sahur
Banyak masyarakat masih meyakini bahwa mengonsumsi karbohidrat dalam porsi besar, seperti nasi atau makanan manis, saat sahur dapat memberikan energi yang cukup untuk berpuasa seharian. Keyakinan ini seringkali menjadi alasan utama di balik porsi sahur yang berlebihan. Namun, pandangan ini perlu diluruskan agar tidak berdampak negatif pada kesehatan.
Dr. Tan Shot Yen menegaskan bahwa strategi ini justru kontraproduktif. Alih-alih menahan lapar lebih lama, tubuh justru akan mengalami lonjakan dan penurunan gula darah yang cepat. Ini kemudian memicu sinyal lapar datang lebih awal dari yang diharapkan.
Karbohidrat sederhana, seperti gula pasir dan sirup, adalah pemicu utama lonjakan gula darah ini. Ketika gula darah naik drastis, tubuh akan merespons dengan memproduksi insulin dalam jumlah besar. Insulin berfungsi menurunkan kadar gula darah tersebut, yang pada akhirnya menyebabkan gula darah turun kembali dengan cepat.
Bahaya Karbohidrat Sederhana untuk Gula Darah
Proses cepat cerna karbohidrat sederhana menjadi gula darah memiliki dampak signifikan pada tubuh. Peningkatan kadar gula darah yang cepat diikuti oleh penurunan drastis dapat menyebabkan tubuh merasa lemas dan lapar kembali dalam waktu singkat. "Yang pasti jadi gampang lapar karena cepat dicerna jadi gula darah. Tergantung juga dengan jenis karbonya,” kata Tan Shot Yen.
Jika kondisi lonjakan dan penurunan gula darah ini terjadi secara rutin dan sering, risiko kesehatan serius dapat muncul. Dr. Tan Shot Yen memperingatkan, "Jika sering terjadi dan rutin maka risiko diabetes muncul.” Ini menunjukkan bahwa pilihan jenis karbohidrat saat sahur sangat krusial, tidak hanya untuk kenyamanan berpuasa tetapi juga untuk kesehatan jangka panjang.
Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara jenis karbohidrat dan dampaknya pada tubuh. Mengutamakan karbohidrat yang dicerna perlahan dapat membantu menjaga stabilitas gula darah dan menghindari risiko komplikasi kesehatan.
Strategi Sahur Ideal: Pilih Karbohidrat Kompleks dan Serat
Untuk sahur yang lebih efektif dan sehat, Dr. Tan Shot Yen menyarankan masyarakat untuk memilih karbohidrat kompleks. Jenis karbohidrat ini, seperti nasi merah, ubi, atau jagung, dicerna lebih lambat oleh tubuh. Proses pencernaan yang lambat membantu menjaga kestabilan kadar gula darah sepanjang hari, sehingga rasa kenyang dapat bertahan lebih lama.
“Jika karbo kompleks seperti nasi merah, ubi, jagung, biasanya kita tidak mungkin makan banyak-banyak," ujarnya. Selain itu, karbohidrat kompleks umumnya memiliki indeks glikemik lebih rendah, yang berarti tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis.
Selain memperhatikan jenis karbohidrat, asupan serat yang cukup juga sangat penting saat sahur. Serat berperan dalam memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga gula darah tetap stabil. Sumber serat bisa didapatkan dari sayuran, buah-buahan, atau biji-bijian utuh.
Dr. Tan Shot Yen, yang aktif mengedukasi masyarakat mengenai pola makan sehat, mengingatkan bahwa sahur harus tetap mengikuti prinsip gizi seimbang. Ini berarti tidak hanya berfokus pada satu jenis makanan, tetapi memastikan adanya kombinasi nutrisi yang tepat. Dengan komposisi sahur yang seimbang, energi tubuh dapat terjaga stabil selama berpuasa tanpa membebani tubuh dengan lonjakan gula darah yang berulang.
Sumber: AntaraNews