Mitos atau Fakta: Benarkah Penderita Diabetes Tak Boleh Makan Gula?
Apakah benar penderita diabetes dilarang total mengonsumsi gula? Simak penjelasan dari Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) soal ini.
Pengidap diabetes disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis agar kadar gula darah tetap terkontrol. Dari pemahaman tersebut, muncul anggapan bahwa mereka tidak boleh mengonsumsi gula sama sekali. Namun, Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Prof Em Yunir menjelaskan bahwa anggapan ini adalah mitos. “Mitos. Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi gula, tetapi dengan batasan gula dalam jumlah kecil (misalnya 1 sendok teh) masih diperbolehkan. Pasien juga bisa menggunakan pemanis rendah kalori. Gula dalam masakan juga diperbolehkan selama masih dalam jumlah aman,” kata Em Yunir dalam temu media di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Walaupun demikian, ia tetap menyarankan agar pasien menghindari minuman manis yang mengandung gula tinggi, seperti teh manis, kopi manis, atau minuman kemasan.
“Kopi tetap dianjurkan dengan sajian kopi tanpa gula, karena ini memiliki manfaat proteksi terhadap kesehatan jantung,” ujarnya. Dengan demikian, penting bagi pengidap diabetes untuk memahami bahwa mereka masih bisa menikmati gula, asalkan dalam batas yang wajar dan dengan pilihan yang lebih sehat.
Apakah Faktor Genetik?
Di tengah masyarakat, terdapat anggapan bahwa diabetes diturunkan melalui faktor genetik. Meskipun hal ini dianggap sebagai fakta, "fakta, namun belum tentu seseorang yang memiliki genetik diabetes langsung terkena diabetes. Pemicu utamanya tetaplah gaya hidup," katanya. Ia menjelaskan bahwa diabetes memang berkaitan erat dengan faktor genetik. Dalam hal ini, jika ada riwayat diabetes dalam keluarga, maka kemungkinan seseorang untuk mengalami penyakit ini menjadi lebih tinggi.
"Ketika kedua orangtua sama-sama memiliki riwayat diabetes, risiko pada anak akan meningkat lebih tinggi," ungkap dia.
Namun, ia juga menekankan bahwa gaya hidup memainkan peran yang sangat signifikan. Pola makan yang tidak sehat, konsumsi kalori berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, serta obesitas adalah beberapa faktor yang dapat memicu diabetes. "Memiliki gen dengan diabetes itu memperbesar risiko, tetapi gaya hidup adalah pemicu utama," ujarnya.
Dengan kata lain, meskipun genetik berkontribusi terhadap kemungkinan terkena diabetes, perubahan dalam gaya hidup dapat membantu mengurangi risiko tersebut secara signifikan.
Kasus Diabetes Semakin Meningkat
Diabetes tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan paling signifikan di Indonesia. Pada tahun 2024, jumlah penderita diabetes diperkirakan mencapai 20,4 juta orang, menjadikan Indonesia berada di urutan kelima di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan diabetes memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak.
Selain itu, tren peningkatan jumlah kasus diabetes terus berlanjut dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini menegaskan pentingnya intervensi yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes yang diukur melalui pemeriksaan gula darah pada individu di atas usia 15 tahun mencapai 11,7 persen. Ini berarti ada sekitar 30 juta penderita diabetes di Indonesia, namun hanya 10-15 juta di antaranya yang baru terdiagnosis. Peningkatan jumlah penderita diabetes tidak hanya terjadi di kalangan orang lanjut usia, tetapi juga mulai menjangkiti individu berusia produktif hingga anak-anak.
Perubahan gaya hidup menjadi salah satu penyebab utama yang berkontribusi terhadap kondisi ini. Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko diabetes. Oleh karena itu, edukasi masyarakat menjadi langkah krusial dalam pengendalian penyakit ini.