Waspada! Kasus DBD OKU Melonjak 25 dalam Sebulan, Total Capai 161 Pasien
Dinas Kesehatan mencatat lonjakan 25 kasus DBD di OKU selama November 2025, menambah total menjadi 161 pasien. Peningkatan Kasus DBD OKU ini dipicu musim hujan dan memerlukan kewaspadaan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, mencatat adanya penambahan signifikan dalam Kasus DBD OKU. Selama periode November 2025, terjadi lonjakan sebanyak 25 kasus demam berdarah dengue (DBD) yang berhasil ditangani oleh pihak berwenang. Angka ini menambah total penderita DBD di wilayah tersebut menjadi 161 pasien.
Peningkatan Kasus DBD OKU ini menjadi perhatian serius, terutama karena dipicu oleh musim hujan yang sedang berlangsung. Musim hujan menciptakan banyak genangan air, kondisi ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Situasi ini menuntut kewaspadaan lebih dari masyarakat dan pemerintah daerah.
Meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, para pasien yang terjangkit DBD sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat. Untuk mengantisipasi penyebaran lebih lanjut, Dinas Kesehatan OKU terus mengintensifkan upaya pencegahan. Sosialisasi pola 3M menjadi fokus utama dalam menghadapi ancaman DBD.
Peningkatan Signifikan Kasus DBD di OKU
Sebelumnya, data selama periode Januari hingga Oktober 2025 menunjukkan jumlah penderita DBD di Kabupaten OKU tercatat sebanyak 136 kasus. Namun, dalam kurun waktu satu bulan terakhir, angka kasus DBD bertambah sebanyak 25 kasus, sehingga totalnya kini mencapai 161 pasien. Peningkatan ini menunjukkan tren yang memerlukan perhatian khusus dari semua pihak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan OKU, Andi Prapto, menjelaskan bahwa kasus DBD di wilayahnya terus meningkat. Peningkatan ini merupakan dampak dari musim hujan karena banyak terdapat genangan air tempat nyamuk berkembang biak. Kondisi lingkungan yang lembap memfasilitasi perkembangbiakan nyamuk pembawa virus dengue.
Penderita DBD yang teridentifikasi menyerang semua kalangan, mulai dari pasien anak-anak hingga dewasa. Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, pasien-pasien tersebut sempat memerlukan perawatan intensif di rumah sakit setempat. Hal ini mengindikasikan tingkat keparahan penyakit yang memerlukan penanganan medis segera.
Gencarkan Pencegahan dengan 3M dan Distribusi Alat Fogging
Untuk menekan angka penyebaran Kasus DBD OKU, pihak Dinas Kesehatan OKU terus menggencarkan sosialisasi. Sosialisasi ini berfokus pada pentingnya menerapkan pola 3M, yaitu mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak penampungan air secara rutin. Pola 3M dianggap sebagai langkah efektif dalam memutus siklus hidup nyamuk.
Andi Prapto menegaskan, "Pola 3M ini masih menjadi cara yang sangat efektif untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar terhindar dari DBD." Pernyataan ini menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Penerapan 3M secara konsisten dapat mengurangi risiko penularan DBD secara signifikan.
Selain sosialisasi 3M, Dinas Kesehatan OKU juga mengambil langkah proaktif lainnya. Belum lama ini, Dinkes OKU mendistribusikan 18 unit alat fogging ke seluruh puskesmas di wilayah setempat. Setiap puskesmas kini dilengkapi dengan satu unit alat fogging untuk melakukan pengasapan nyamuk di area masing-masing.
Pembagian alat fogging ini merupakan inisiatif dan respons cepat Dinkes OKU untuk mengantisipasi lonjakan Kasus DBD OKU menghadapi musim hujan tahun ini. Andi Prapto menjelaskan, "Meskipun fogging bukan metode pencegahan utama, tetapi dianggap efektif untuk membasmi nyamuk Aedes aegypti dewasa dengan cepat." Langkah ini diharapkan dapat mengurangi populasi nyamuk dewasa secara instan di daerah rawan.
Sumber: AntaraNews