Dinkes Palembang Tangani 48 Kasus Demam Berdarah Sepanjang Januari 2026
Dinas Kesehatan Palembang melaporkan 48 kasus demam berdarah dengue (DBD) terjadi hingga 23 Januari 2026. Angka ini relatif menurun, namun masyarakat tetap diimbau waspada dan galakkan 3M untuk pencegahan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, Sumatera Selatan, mencatat 48 kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak awal Januari hingga 23 Januari 2026. Penanganan kasus ini menjadi prioritas utama Dinkes Palembang untuk menjaga kesehatan masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Palembang, Yudhi Setiawan, mengonfirmasi data tersebut pada Jumat, 23 Januari 2026. Ia menyatakan bahwa jumlah ini masih dapat bertambah seiring berjalannya bulan Januari.
Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama pada awal tahun 2025, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Dinkes Palembang terus menggalakkan berbagai upaya pencegahan untuk menekan kasus demam berdarah.
Perkembangan Kasus Demam Berdarah di Palembang
Data terbaru dari Dinkes Palembang menunjukkan adanya 48 kasus demam berdarah dengue (DBD) yang telah ditangani hingga 23 Januari 2026. Angka ini memberikan gambaran awal mengenai penyebaran penyakit ini di Kota Palembang pada awal tahun.
Yudhi Setiawan mengungkapkan bahwa jumlah kasus demam berdarah tersebut relatif menurun jika dibandingkan dengan periode awal tahun 2025. Pada tahun sebelumnya, kasus DBD sempat menyentuh angka lebih dari 70 di waktu yang sama.
Meskipun ada penurunan, Dinkes Palembang tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. Masih ada beberapa hari tersisa di bulan Januari, sehingga potensi peningkatan kasus demam berdarah tetap harus diwaspadai secara serius.
Strategi Pencegahan Dinkes Palembang Melawan DBD
Dalam menghadapi ancaman demam berdarah, Dinkes Palembang telah mengimplementasikan strategi pencegahan yang komprehensif. Fokus utama adalah menggalakkan program 3M Plus di seluruh wilayah kota.
Program 3M mencakup menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat-tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menghilangkan potensi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.
Selain itu, Dinkes Palembang juga menyediakan layanan bubuk abate gratis di setiap puskesmas. Warga yang ingin mendapatkan layanan tersebut bisa langsung ke puskesmas terdekat.
Yudhi Setiawan menegaskan bahwa pencegahan melalui program 3M merupakan kunci utama dalam penanganan kasus demam berdarah. Partisipasi aktif masyarakat sangat diharapkan untuk keberhasilan program ini.
Peran Aktif Masyarakat dalam Pemberantasan Nyamuk Aedes aegypti
Keberhasilan upaya penanganan demam berdarah sangat bergantung pada peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Gotong royong dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi esensial untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Warga diimbau untuk rutin membersihkan lingkungan sekitar rumah dan tempat tinggal mereka. Memastikan tidak ada genangan air yang bisa menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti adalah langkah konkret yang bisa dilakukan setiap individu.
Dengan menjaga kebersihan secara kolektif, jentik-jentik nyamuk tidak akan memiliki kesempatan untuk berkembang biak. Hal ini akan secara signifikan mengurangi risiko penularan virus demam berdarah di Kota Palembang.
Sumber: AntaraNews