Kapolrestabes Makassar: Insiden Bentrokan Mahasiswa UMI dan Ojol Sudah Terkendali
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana memastikan insiden bentrokan antara mahasiswa UMI dan pengemudi ojek online (ojol) di Kampus UMI telah berhasil dikendalikan pasca Bentrokan UMI Makassar.
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana menegaskan bahwa insiden unjuk rasa yang berujung pada bentrokan antara mahasiswa dengan pengemudi ojek online (ojol) di Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) pada Jumat (25/4) malam telah berhasil dikendalikan secara profesional. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kombes Pol Arya Perdana kepada wartawan di Mapolrestabes Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (26/4). Ia menjelaskan bahwa situasi di lapangan telah sepenuhnya berada dalam kendali aparat keamanan sejak awal kejadian.
Insiden Bentrokan UMI Makassar ini bermula ketika unjuk rasa mahasiswa memicu gesekan serius dengan para pengemudi ojol. Aksi tersebut, yang seharusnya menjadi bentuk penyampaian aspirasi, justru berujung pada kericuhan yang melibatkan dua kelompok massa. Pihak kepolisian segera turun tangan untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi konflik lebih lanjut di area kampus UMI.
Kombes Pol Arya Perdana juga menambahkan bahwa penanganan insiden ini dilakukan dengan prosedur yang tepat, mengutamakan keselamatan semua pihak yang terlibat. Langkah-langkah pengamanan diambil untuk memastikan tidak ada lagi bentrokan susulan. Seluruh proses pengamanan dan penanganan pasca-bentrokan telah berjalan sesuai standar operasional kepolisian.
Kronologi dan Pemicu Bentrokan UMI Makassar
Dugaan kuat pemicu terjadinya bentrokan antara mahasiswa UMI dan pengemudi ojol ini adalah aksi pemblokiran jalan protokol Urip Sumoharjo oleh mahasiswa UMI. Aksi tersebut dilakukan saat memperingati Hari April Makassar Berdarah (Amarah) dan berlangsung cukup lama. Akibat pemblokiran ini, kemacetan parah tak terhindarkan, memancing emosi pengendara lain, termasuk para pengemudi ojol.
Kombes Pol Arya Perdana menjelaskan bahwa penutupan jalan yang terlalu lama ini menjadi titik awal gesekan. "Karena itu (sebab), penutupan jalan yang terlalu lama sehingga mereka (ojol) masuk ke dalam (kampus) dan ada perseteruan di dalam, itu setelah seluruh mahasiswa masuk ke dalam (kampus)," ujarnya. Situasi memanas ketika massa ojol mencoba masuk ke dalam area kampus UMI untuk mengejar mahasiswa, yang kemudian merusak pintu gerbang kampus.
Melihat kondisi yang sudah tidak terkendali, aparat kepolisian segera bertindak untuk mengamankan situasi. Petugas meminta massa ojol untuk tidak bertindak anarkis dan melakukan penyisiran ke dalam kampus. Dalam upaya meredakan ketegangan dan mencegah bentrokan lebih luas, seratusan mahasiswa kemudian diamankan oleh pihak kepolisian.
Tindakan Pengamanan dan Klarifikasi Polisi
Setelah mengamankan situasi, pihak kepolisian mengumpulkan sekitar 108 mahasiswa di dalam kampus. Kombes Pol Arya Perdana menjelaskan bahwa Wakil Rektor UMI juga turut hadir dan memberikan pengarahan, bersama dirinya. Pengamanan ini bertujuan untuk menjaga kondusivitas, mengingat massa ojol masih berkumpul di depan kampus dan dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan berulang jika mahasiswa keluar satu per satu.
"Karena memang di depan masih ada ojol, (kita) khawatir ketika mereka keluar sendiri-sendiri, nanti takutnya ada bentrokan lagi atau ada hal-hal yang tidak diinginkan. Maka kami naikkan mereka ke dalam truk lalu bawa semua ke sini (polres), dari pihak ojol juga sudah membubarkan diri," kata Kapolrestabes. Seluruh mahasiswa yang diamankan kemudian dibawa ke Kantor Polrestabes Makassar untuk diamankan sementara.
Demi menjaga kondisi keamanan pasca-kejadian, seratusan mahasiswa tersebut dipulangkan pada Sabtu (25/4) sekitar pukul 05.30 WITA dalam keadaan sehat. Arya Perdana menegaskan bahwa selama berada di Polrestabes, tidak ada intimidasi maupun perlakuan tidak menyenangkan terhadap para mahasiswa. "Semua diantarkan sehat dan juga tidak ada tindakan fisik kepada yang bersangkutan," paparnya.
Terkait video viral yang menunjukkan adanya orang mengaku anggota TNI saat aparat menyisir kampus, Arya Perdana membantah tegas. Ia menyatakan bahwa tidak ada anggota TNI atau oknum TNI yang diamankan. "Saya sendiri saat di TKP, memang tidak dilaporkan, tidak mengetahui hal itu. Tetapi, setelah kami dalami, mereka hanyalah pelajar. Sudah kami lihat videonya, dilakukan profiling terhadap bersangkutan. Memang keduanya pelajar, dari KTP juga. Tidak ada anggota TNI diamankan," tegasnya. Semua yang diamankan adalah mahasiswa UMI yang terlibat dalam insiden tersebut.
Sumber: AntaraNews