Kasus DBD di Jakarta Meningkat Selama Musim Hujan
Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengungkapkan ada peningkatan kasus DBD selama musim hujan kali ini.
Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat adanya kenaikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah ibu kota selama awal tahun 2026. Hal ini juga diperparah seiring masuknya musim penghujan.
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menyatakan, merujuk laporan data kasus DBD di DKI Jakarta selama antarpekan ada kenaikan kasus dari akhir 2025 ke awal 2026. Meski begitu, lonjakan kasus disebut tidak setinggi periode yang sama pada Januari tahun lalu.
“Kalau dilihat tren mingguan sudah ada kenaikan kasus apabila dibandingkan antara minggu 53 tahun 2025 (69 kasus) ke minggu ke 1 tahun 2026 (83 kasus),” kata Ani dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).
Lingkungan Lebih Lembab
Ani merinci bahwa secara keseluruhan kasus DBD di wilayah DKI Jakarta pada awal 2026 ini masih terkendali. Namun, diakui Ani lonjakan kasus DBD di awal tahun menjadi sinyal untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di musim penghujan dengan curah yang tinggi.
“Update data kasus Tahun 2026 sampai tanggal 19 Januari sebanyak 143 kasus,” ucap dia.
Ani menjelaskan, musim penghujan menjadi faktor utama yang memicu peningkatan kasus DBD. Sebab, pada musim hujan sampah yang dibuang sembarangan cenderung tidak dikelola dengan baik. Selain itu, lingkungan juga menjadi lebih lembab, sehingga menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk penyebar DBD.
Tanaman Hias Tertentu
“Sampah yang tidak dikelola dan tanaman hias tertentu yang dapat menampung air ditambah dengan tingginya curah hujan, dapat mengakibatkan banyaknya tempat-tempat penampungan air yang terbentuk, yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sehingga meningkatkan populasi nyamuk,” jelas Ani.
Oleh sebab itu, guna menekan penyebaran DBD di musim penghujan, Dinkes DKI dan organisasi perangkat daerah terkait (OPD) terus melakukan langkah-langkah antisipasi. Upaya-upaya yang dilakukan berfokus pada pemberantasan sarang nyamuk dan edukasi menyeluruh kepada masyarakat.
Juru Pemantau Jentik
“Melakukan sosialisasi mengenai pentingnya melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Menguras, Menutup dan Mendaur Ulang tempat-tempat yang dapat menampung air (PSN 3M), baik melalui media sosial maupun secara langsung ke masyarakat,” kata Ani.
Selain itu, Dinkes DKI juga bekerja sama dengan aparat di tingkat wilayah kota administrasi seperti lurah dan camat untuk secara rutin melakukan monitoring pelaksanaan PSN ke masyarakat bersama Jumantik (Juru Pemantau Jentik).
“Juga meningkatkan intensitas pemantauan jentik menjadi 2 kali seminggu yang dilakukan oleh Jumantik,” ujarnya.