Musim Hujan, Laporan Ular Masuk Rumah di Kotim Melonjak Tajam
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotim mencatat lonjakan laporan ular masuk rumah hingga 30% saat musim hujan, dipicu habitat yang tergenang.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotawaringin Timur (Kotim) menghadapi peningkatan signifikan laporan ular masuk rumah warga. Fenomena ini terjadi seiring tingginya curah hujan yang melanda wilayah tersebut sejak Februari 2026. Kepala Bidang Pencegahan Disdamkarmat Kotim, Hery Wahyudi, mengungkapkan adanya lonjakan laporan harian.
Sebelumnya, Disdamkarmat Kotim rata-rata menerima tiga laporan penyelamatan per hari. Namun, kini jumlah laporan meningkat drastis menjadi 10 hingga 15 laporan setiap hari. Khusus untuk kasus ular masuk rumah, rata-rata mencapai lima laporan per hari, bahkan lebih.
Peningkatan laporan ular masuk rumah ini mencapai sekitar 30 persen dibandingkan kondisi normal. Kondisi ini dipicu oleh habitat alami ular yang tergenang air hujan, memaksa reptil tersebut mencari tempat berlindung yang lebih hangat dan aman. Rumah warga menjadi sasaran utama bagi ular-ular ini.
Peningkatan Laporan dan Penyebab Utama Ular Masuk Rumah
Curah hujan yang intens di Sampit dan sekitarnya sejak Februari 2026 menjadi faktor utama di balik fenomena ini. Air hujan menggenangi sarang dan tempat persembunyian ular di alam liar. Akibatnya, ular-ular tersebut bergerak mencari lokasi baru yang kering dan hangat untuk bertahan hidup.
Hery Wahyudi menjelaskan bahwa ular secara naluriah akan mencari tempat perlindungan yang nyaman. “Karena hewan itu mencari tempat yang hangat, makanya ular masuk ke rumah warga,” ujarnya. Ini menjelaskan mengapa rumah-rumah warga seringkali menjadi pilihan utama bagi reptil ini.
Laporan penyelamatan yang ditangani Disdamkarmat Kotim tidak hanya terbatas pada ular, tetapi juga evakuasi hewan lain dan penanganan kondisi darurat. Namun, peningkatan paling mencolok terlihat pada kasus ular masuk rumah, yang membutuhkan respons cepat dari petugas.
Wilayah Rawan dan Ancaman Ular Kobra di Permukiman
Kecamatan Baamang di Kotim menjadi salah satu wilayah dengan laporan evakuasi ular tertinggi. Area ini, khususnya kawasan Wengga Metropolitan, seringkali menjadi lokasi penemuan ular. Pembangunan permukiman baru di area bekas habitat ular diduga kuat menjadi penyebab kemunculan reptil.
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa laporan di Wengga Metropolitan melibatkan ular kobra. Ular jenis ini dikenal memiliki bisa yang mematikan dan sangat berbahaya bagi manusia. Petugas Disdamkarmat bahkan beberapa kali harus mengevakuasi ular kobra dari permukiman warga di sana.
“Di wilayah Wengga Metropolitan cukup sering ditemukan ular kobra. Kemungkinan karena kawasan itu dulunya habitat mereka,” kata Hery Wahyudi. Hal ini menunjukkan bahwa ekspansi permukiman manusia ke area alami hewan dapat memicu konflik antara manusia dan satwa liar.
Peran Lingkungan dan Pencegahan Ular Masuk Rumah
Selain faktor cuaca, kondisi lingkungan yang kurang terawat juga berkontribusi pada peningkatan keberadaan ular di permukiman. Tumpukan barang bekas, rumput yang dibiarkan tinggi, serta saluran drainase yang kotor menjadi tempat persembunyian ideal bagi ular. Lingkungan seperti ini menyediakan tempat berlindung dan berburu mangsa bagi reptil.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk rutin membersihkan halaman rumah dan lingkungan sekitar. Menjaga kebersihan area tempat tinggal dapat meminimalkan potensi ular bersarang atau berlindung. Langkah pencegahan ini sangat penting dilakukan, terutama selama musim hujan masih berlangsung.
Disdamkarmat Kotim menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dengan lingkungan yang bersih dan terawat, risiko ular masuk rumah dapat diminimalisir secara signifikan. Ini adalah upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seluruh warga.
Sumber: AntaraNews