Dinkes OKU Distribusikan 18 Alat Fogging ke Puskesmas, Perkuat Pencegahan DBD di Musim Hujan
Dinas Kesehatan OKU mendistribusikan 18 unit alat fogging ke puskesmas untuk memperkuat upaya Pencegahan DBD OKU. Langkah antisipatif ini diambil menyusul lonjakan kasus DBD.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, telah mendistribusikan 18 unit alat fogging. Alat-alat ini diserahkan kepada seluruh puskesmas di wilayah setempat sebagai langkah proaktif. Inisiatif ini bertujuan utama mencegah penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) secara efektif.
Kepala Dinkes OKU, Dedi Wijaya, mengonfirmasi bahwa setiap puskesmas kini dilengkapi satu unit alat fogging. Distribusi ini merupakan respons cepat dinas kesehatan menghadapi potensi lonjakan kasus DBD. Terutama saat memasuki musim hujan yang menjadi periode rawan perkembangan nyamuk Aedes aegypti.
Langkah strategis ini diambil mengingat angka penderita DBD di OKU yang mencapai 136 kasus sepanjang Januari-Oktober 2025. Meskipun fogging bukan metode pencegahan utama, namun dianggap efektif membasmi nyamuk dewasa. Upaya pengasapan akan dilakukan bertahap di daerah rawan untuk menekan angka kasus DBD.
Strategi Distribusi Alat Fogging untuk Pencegahan DBD OKU
Dedi Wijaya, Kepala Dinas Kesehatan OKU, menjelaskan bahwa pendistribusian 18 unit alat fogging ini merupakan bagian dari strategi komprehensif. Setiap puskesmas di Kabupaten OKU kini memiliki kemampuan untuk melakukan pengasapan nyamuk secara mandiri. Ini mempercepat respons terhadap potensi wabah di wilayah kerjanya masing-masing, mendukung Pencegahan DBD OKU.
Pembagian alat fogging ini didasari oleh inisiatif cepat Dinkes OKU dalam mengantisipasi lonjakan kasus DBD. Terutama dengan datangnya musim hujan yang dikenal sebagai periode puncak penyebaran penyakit ini. Langkah ini diharapkan dapat menekan angka kasus DBD di OKU secara signifikan dan melindungi masyarakat.
Meskipun fogging bukan satu-satunya metode pencegahan, Dedi Wijaya menegaskan efektivitasnya dalam membasmi nyamuk Aedes aegypti dewasa. "Alat fogging ini kami distribusikan ke 18 puskesmas yang ada di Kabupaten OKU," ujarnya. Ia menambahkan bahwa upaya pengasapan akan dilakukan bertahap di daerah-daerah rawan DBD untuk hasil optimal.
Pentingnya Peran Masyarakat dan Pemantauan Jentik dalam Pencegahan DBD OKU
Selain upaya fogging, Dinkes OKU juga terus mengingatkan masyarakat akan pentingnya penerapan pola 3M. Pola 3M, yaitu Menguras, Menutup, dan Mendaur Ulang, masih menjadi cara paling ampuh dalam kehidupan sehari-hari untuk terhindar dari penyebaran DBD. Edukasi ini menjadi kunci keberhasilan Pencegahan DBD OKU secara berkelanjutan dan partisipasi aktif warga.
Dedi Wijaya juga mendorong setiap rumah tangga untuk memiliki juru pemantau jentik (jumantik) mandiri. "Kami juga mendorong agar setiap rumah memiliki juru pemantau jentik supaya Kabupaten OKU benar-benar bebas dari DBD," tegasnya. Keberadaan jumantik di setiap rumah diharapkan dapat memastikan lingkungan bebas dari jentik nyamuk secara konsisten.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan OKU, Andi Prapto, memaparkan data terkini terkait kasus DBD. Selama periode Januari-Oktober 2025, tercatat sebanyak 136 kasus penderita DBD di wilayah OKU. Angka ini menunjukkan perlunya kewaspadaan dan upaya Pencegahan DBD OKU yang lebih masif dari semua pihak.
Andi mengungkapkan bahwa penyakit DBD menyerang semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Meskipun belum ada korban jiwa, beberapa pasien sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat akibat penyakit demam berdarah. Hal ini menggarisbawahi urgensi tindakan pencegahan terpadu dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.
Sumber: AntaraNews