Warga Tukka Senang, Akses Jalan Desa Terisolir Cepat Dibuka Pasca Bencana
Warga Desa Sigiring-Giring, Kecamatan Tukka, Tapanuli Utara, menyambut gembira percepatan pembukaan akses jalan desa terisolir pasca bencana hidrometeorologi yang mengisolasi wilayah mereka.
Warga Desa Sigiring-Giring, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Utara, menyambut gembira percepatan pembukaan akses jalan desa terisolir Tukka dan pembangunan jembatan. Upaya ini dilakukan oleh prajurit TNI bersama pemerintah pascabencana hidrometeorologi pada 25 November 2025. Akses jalan ini sangat vital bagi mobilitas dan pemulihan ekonomi warga terdampak.
Kepala Desa Sigiring-Giring, Harapa Polha Sitompul, mengungkapkan rasa terima kasih atas respons cepat tersebut. Pembukaan akses jalan ini diharapkan segera rampung agar kendaraan dapat melintas dengan lancar. Ini akan mempermudah warga mengangkut hasil panen dan mengunjungi rumah mereka yang rusak.
Bencana hidrometeorologi tersebut menyebabkan 30 rumah rusak berat dan ringan di Desa Sigiring-Giring. Saat ini, sebagian besar warga telah mengungsi ke rusunawa atau menumpang di rumah keluarga. Akses jalan ini juga krusial bagi desa-desa lain yang masih terisolir.
Kecepatan Penanganan Bencana dan Harapan Warga
Kepala Desa Sigiring-Giring, Harapa Polha Sitompul, menyampaikan apresiasi mendalam atas kecepatan penanganan pascabencana. "Kami masyarakat Desa Sigiring-Giring berterima kasih karena pembukaan akses jalan ini termasuk cepat," katanya di Sigiring-Giring, Jumat. Percepatan ini menjadi angin segar bagi masyarakat yang terdampak.
Polha Sitompul berharap akses jalan ini dapat segera diselesaikan secara menyeluruh. Tujuannya agar kendaraan dapat kembali beroperasi normal dan mendukung aktivitas ekonomi warga. Terutama dalam distribusi hasil panen serta akses menuju permukiman.
Sebanyak 30 unit rumah di desa tersebut mengalami kerusakan parah akibat bencana hidrometeorologi. Kondisi ini memaksa warga untuk mengungsi ke lokasi hunian sementara atau menumpang di tempat kerabat. Pembukaan akses jalan ini menjadi langkah awal pemulihan.
Upaya Prajurit TNI Membuka Isolasi Wilayah
Prajurit TNI terus berupaya keras membuka akses jalan desa terisolir Tukka yang belum dapat dilalui kendaraan. Bencana hidrometeorologi menyebabkan 13 titik longsor dan merusak infrastruktur vital. Fokus utama adalah mengembalikan konektivitas antar desa.
Komandan Detasemen Zeni Bangunan (Den Zibang) Kodam I Bukit Barisan, Mayor Czi Johan Sianturi, menjelaskan progres pekerjaan. "Ada 13 titik longsor dan kami membangun enam jembatan untuk menghidupkan akses dari Desa Hutanabolon ke Desa Sigiring-Giring yang masih terputus saat ini," ujarnya di Hutanabolon, Jumat. Enam jembatan baru sedang dibangun, sementara jembatan permanen lainnya diperbaiki.
Selain Desa Sigiring-Giring, jalan yang sedang diperbaiki ini juga menghubungkan Desa Hutanabolon dengan Desa Sait Kalangan II dan Desa Saur Manggita. Daerah-daerah ini sebelumnya terisolir akibat timbunan longsor dan jembatan yang rusak. Saat ini, pembangunan jembatan keempat sedang dalam pengerjaan.
Pentingnya Aksesibilitas untuk Pemulihan Komunitas
Meskipun Desa Sigiring-Giring saat ini telah kosong, dengan warga yang pindah ke rusunawa atau menumpang, kebutuhan akan akses jalan tetap mendesak. Akses ini tidak hanya untuk warga Sigiring-Giring tetapi juga desa-desa lain di sekitarnya. Misalnya Desa Sait Kalangan II dan Desa Tapian Nauli Saur Manggita yang masih dihuni.
Pembukaan akses jalan desa terisolir Tukka ini sangat penting untuk mendukung pemulihan pascabencana. Ini akan memungkinkan pengiriman bantuan logistik dan material pembangunan. Selain itu, memfasilitasi warga untuk kembali ke rumah dan lahan pertanian mereka.
Masyarakat sangat berharap agar seluruh pekerjaan pembukaan akses jalan dan pembangunan jembatan dapat segera rampung. Kelancaran transportasi merupakan kunci utama dalam mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak. Ini juga akan mengembalikan roda perekonomian lokal.
Sumber: AntaraNews