Kementerian PU Pastikan Akses Jalan Sumut Pasca-Bencana Berangsur Fungsional
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat memastikan akses jalan Sumut pasca-bencana longsor dan banjir berangsur fungsional kembali, memulihkan logistik dan mobilitas warga.
Penanganan Cepat Dampak Bencana di Sumatera Utara
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan akses jalan di Sumatera Utara (Sumut) berangsur fungsional kembali setelah wilayah tersebut dilanda bencana longsor dan banjir. Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan bahwa kementeriannya bergerak cepat untuk memulihkan logistik dan mobilitas warga. Penanganan ini terus dipercepat, dengan data terbaru hingga 6 Januari 2026 pukul 20.00 WIB menunjukkan kemajuan signifikan di 12 kabupaten/kota terdampak.
Kementerian PU telah menunjukkan respons cepat dalam menangani dampak bencana longsor dan banjir yang melanda 12 kabupaten/kota di Sumatera Utara. Sebanyak 263 titik longsoran tebing telah berhasil ditangani sepenuhnya hingga 6 Januari 2026. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memulihkan infrastruktur vital.
Selain longsoran tebing, terdapat 19 titik jalan putus, 65 titik jalan amblas, 7 titik jembatan putus/rusak, serta 28 titik genangan banjir yang memerlukan penanganan. Data terkini menunjukkan bahwa 14 titik jalan putus telah fungsional kembali, seluruh 65 titik jalan amblas telah tertangani, dan semua jembatan yang rusak telah difungsikan. Genangan banjir di 28 titik juga telah surut, memperlancar kembali akses jalan Sumut pasca-bencana.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa keselamatan pengguna jalan adalah prioritas utama dalam setiap penanganan. Kondisi lapangan dan stabilitas lereng selalu diperhatikan untuk memastikan keamanan jangka panjang. Pengerahan 137 unit alat berat menjadi kunci dalam percepatan pemulihan ini.
Akses Jalan Utama Menuju Sibolga dan Jalur Alternatif
Meskipun sebagian besar titik telah tertangani, masih ada satu segmen jalan yang terputus, yaitu Simpang Rampa-Sibolga via Batu Lubang. Kondisi ini disebabkan oleh longsoran lereng dan tebing di lima lokasi dengan tanah yang belum stabil. Penanganan darurat belum memungkinkan di segmen ini, sehingga Kementerian PU merencanakan penanganan permanen melalui pengalihan trase jalan.
Untuk menjaga konektivitas, akses Tarutung–Sibolga tetap dapat dilalui melalui jalur Tarutung-Rampa-Poriaha. Namun, jalur ini diberlakukan pembatasan untuk kendaraan kecil demi keselamatan. Ini menunjukkan upaya berkelanjutan untuk memastikan akses jalan Sumut pasca-bencana tetap tersedia.
Sementara itu, koridor Tarutung-Sipirok sepanjang 68 km telah terhubung sepenuhnya, meski masih ada penyempurnaan jalan sementara (detour) demi keselamatan pengguna jalan. Koridor Batangtoru-Singkuang juga telah terhubung dan dapat dilalui kendaraan ringan, meskipun memerlukan penimbunan, perbaikan, dan pemadatan agregat akibat kondisi cuaca yang kerap hujan.
Perbaikan Jembatan dan Ruas Terdampak Paling Parah
Di koridor Sibolga-Batangtoru, perbaikan signifikan telah dilakukan dengan pemasangan jembatan bailey. Jembatan bailey bentang 33 meter di Jembatan Aek Garoga 2 dan jembatan bailey bentang 44 meter di Sungai Garoga 3 telah selesai dan berfungsi penuh. Pemasangan jembatan ini sangat krusial untuk memulihkan akses jalan Sumut pasca-bencana.
Akses menuju Kota Sibolga kini dapat ditempuh melalui beberapa alternatif jalan nasional dan provinsi, meskipun sebagian masih terbatas untuk kendaraan kecil. Ini menunjukkan fleksibilitas dalam penanganan darurat.
Ruas yang paling terdampak parah adalah Batas Kota Tarutung-Batas Kabupaten Tapanuli Tengah-Sibolga dengan 176 titik, serta ruas Tarutung-Sipirok dengan 55 titik. Dari 23 lokasi jalan putus, 17 titik telah difungsikan kembali, sementara satu titik Jembatan Aek Puli B tidak ditangani karena telah tersedia jembatan duplikasi. Kementerian PU akan terus memantau dan melakukan penanganan lanjutan hingga seluruh jaringan jalan dan jembatan kembali aman dan andal bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews