Penyintas Bencana Longsor Aceh Tengah Harapkan Percepatan Pembangunan Hunian Sementara

Puluhan keluarga penyintas bencana hidrometeorologi di Kampung Mendale, Aceh Tengah, masih menanti pembangunan hunian sementara setelah rumah mereka rusak parah akibat longsor, mendesak pemerintah segera bertindak.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penyintas Bencana Longsor Aceh Tengah Harapkan Percepatan Pembangunan Hunian Sementara
Puluhan keluarga penyintas bencana hidrometeorologi di Kampung Mendale, Aceh Tengah, masih menanti pembangunan hunian sementara setelah rumah mereka rusak parah akibat longsor, mendesak pemerintah segera bertindak. (AntaraNews)

Puluhan keluarga penyintas bencana hidrometeorologi di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, masih hidup dalam ketidakpastian. Mereka sangat mengharapkan pembangunan hunian sementara segera terealisasi, mengingat rumah-rumah mereka mengalami kerusakan parah akibat longsor. Kondisi ini membuat 56 keluarga belum dapat kembali ke tempat tinggal mereka yang semula.

Bencana alam yang terjadi pada akhir November 2025 tersebut menyebabkan tanah longsor hebat yang menghantam puluhan rumah warga. Akibatnya, banyak penyintas terpaksa mengungsi ke rumah kerabat, bertahan di tenda darurat, atau menyewa tempat tinggal sementara. Situasi ini telah berlangsung selama beberapa waktu, menambah beban hidup mereka.

Jalimin, salah seorang penyintas bencana, mengungkapkan bahwa hingga kini baru ada enam unit hunian yang dibangun oleh sebuah lembaga kemanusiaan. Harapan besar kini tertumpu pada pemerintah agar dapat mempercepat proses pembangunan hunian sementara bagi seluruh keluarga terdampak di Kampung Mendale.

Kondisi pengungsian menjadi tantangan utama bagi 56 keluarga di Kampung Mendale yang terdampak longsor akhir tahun 2025. Sebagian besar dari mereka masih menumpang di rumah kerabat atau memilih untuk menyewa tempat tinggal, sementara beberapa lainnya terpaksa bertahan di tenda darurat. Keterbatasan akses terhadap hunian layak memperburuk situasi pascabencana.

Pembangunan hunian sementara menjadi krusial untuk memulihkan stabilitas hidup para penyintas. Jalimin menekankan bahwa keberadaan hunian yang layak akan memungkinkan mereka untuk kembali menjalani kehidupan normal. Tanpa adanya tempat tinggal yang aman, proses pemulihan psikologis dan sosial masyarakat akan terhambat.

Meskipun ada upaya dari lembaga kemanusiaan yang telah membangun enam unit hunian, jumlah tersebut masih jauh dari memadai untuk menampung seluruh keluarga terdampak. Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah cepat dan konkret dalam menyediakan hunian sementara yang dibutuhkan. Percepatan pembangunan hunian sementara Aceh Tengah sangat dinantikan.

Selain kebutuhan akan hunian, para penyintas bencana di Kampung Mendale juga sangat mengharapkan rehabilitasi kebun kopi mereka yang rusak akibat longsor. Mayoritas warga di kampung tersebut menggantungkan hidupnya sebagai pekebun kopi. Kerusakan kebun secara langsung berdampak pada hilangnya sumber pendapatan utama mereka.

Jalimin menjelaskan bahwa pemulihan kebun kopi bukan hanya sekadar perbaikan lahan, tetapi juga merupakan upaya krusial untuk mengembalikan mata pencarian masyarakat. Dengan pulihnya kebun kopi, diharapkan ekonomi keluarga penyintas dapat bangkit kembali. Ini akan menjadi langkah penting dalam proses rehabilitasi pascabencana secara menyeluruh.

Dukungan pemerintah dalam program rehabilitasi kebun kopi akan sangat berarti bagi kelangsungan hidup masyarakat. Langkah ini akan membantu memastikan bahwa para penyintas tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga memiliki sarana untuk mandiri secara ekonomi. Upaya ini akan melengkapi program pembangunan hunian sementara Aceh Tengah.

Beberapa jenis bantuan dari pemerintah telah diterima oleh para penyintas bencana di Kampung Mendale, seperti dana stimulan ekonomi, uang isi hunian, serta bantuan jatah hidup (jadup). Bantuan-bantuan ini sangat membantu meringankan beban awal yang mereka alami pascabencana. Namun, ada beberapa aspek yang masih perlu diperhatikan terkait penyaluran bantuan.

Jalimin mengungkapkan bahwa bantuan jatah hidup baru diterima untuk satu bulan, sementara tiga bulan lainnya masih belum cair. Selain itu, penyintas yang menumpang di rumah kerabat atau menyewa tempat tinggal juga belum menerima bantuan data tunggu hunian. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian dan harapan akan pemerataan bantuan.

Pemerintah diharapkan dapat mengevaluasi dan memastikan penyaluran bantuan dilakukan secara merata dan tepat waktu kepada seluruh penyintas yang berhak. Transparansi dan akuntabilitas dalam distribusi bantuan sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Percepatan penyaluran bantuan akan sangat mendukung proses pemulihan, seiring dengan pembangunan hunian sementara Aceh Tengah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi