Volume Sampah Mataram Melonjak Drastis Selama Ramadhan, DLH Siagakan Petugas
Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram mencatat kenaikan signifikan volume sampah hingga 5 ton per hari selama Ramadhan, didominasi limbah pedagang musiman. Bagaimana DLH Mataram mengatasi lonjakan volume sampah Mataram Ramadhan ini?
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, melaporkan peningkatan volume sampah harian yang signifikan selama bulan suci Ramadhan. Kenaikan ini mencapai sekitar 5 ton per hari dari rata-rata normal 250 ton per hari. Peningkatan ini menjadi perhatian utama pemerintah kota dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Lonjakan volume sampah Mataram Ramadhan ini terutama disebabkan oleh aktivitas pedagang musiman dan pedagang kaki lima (PKL) yang marak di berbagai titik. Sampah takjil dan sisa dagangan menjadi penyumbang terbesar dari peningkatan tersebut. Kondisi ini memerlukan strategi penanganan yang adaptif dari pihak berwenang.
Menanggapi situasi ini, DLH Kota Mataram telah menyiagakan petugas kebersihan untuk pengangkutan sampah secara optimal. Petugas fokus pada titik-titik keramaian PKL, terutama pada malam hari setelah pasar takjil selesai. Skema pengangkutan pagi dan malam hari tetap berjalan rutin demi menjaga kebersihan kota.
Antisipasi Lonjakan Sampah dari Aktivitas Ramadhan
Kepala DLH Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, menjelaskan bahwa rata-rata volume sampah harian di Mataram biasanya berkisar 250 ton. Namun, saat bulan puasa, angka tersebut melonjak drastis hingga tambahan 5 ton setiap harinya. Peningkatan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan sampah perkotaan.
Penyebab utama lonjakan volume sampah Mataram Ramadhan adalah menjamurnya pedagang musiman dan PKL yang menjual berbagai takjil dan makanan berbuka puasa. Sampah kemasan takjil, sisa makanan, dan limbah dagangan lainnya menjadi kontributor utama. Fenomena ini rutin terjadi setiap tahun selama bulan Ramadhan.
Untuk mengatasi hal tersebut, DLH Kota Mataram telah mengoptimalkan penanganan sampah di berbagai momen penting. Ini termasuk saat pawai ogoh-ogoh, pawai takbiran, hingga pelaksanaan Idul Fitri. Petugas bekerja ekstra keras untuk memastikan kebersihan kota tetap terjaga di tengah peningkatan aktivitas warga.
Skema pengangkutan sampah tetap berjalan rutin, bahkan ditingkatkan pada malam hari di area-area strategis. Fokus utamanya adalah titik-titik keramaian PKL setelah waktu berbuka puasa dan pasar takjil berakhir. Langkah ini diambil untuk mencegah penumpukan sampah dan menjaga estetika kota.
Harapan Normalisasi Pengangkutan Sampah dengan Landfill Baru
Meskipun terjadi lonjakan, DLH Mataram optimistis operasional pengangkutan sampah akan kembali normal pada pertengahan bulan puasa. Optimisme ini didasarkan pada informasi dari Pemerintah Provinsi NTB mengenai progres signifikan pengerjaan landfill baru. Landfill ini berlokasi di Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok di Lombok Barat.
Menurut H. Nizar Denny Cahyadi, progres pengerjaan landfill baru saat ini diperkirakan sudah mencapai 60-70 persen. Begitu pengerjaan tuntas, sampah dari Mataram bisa langsung dibuang ke TPAR tersebut. Hal ini diharapkan dapat mengembalikan ritase pengangkutan sampah menjadi normal seperti sediakala.
Selama masa pengerjaan landfill, ritase pengangkutan sampah di Mataram memang mengalami penyesuaian. Namun, dengan akan difungsikannya lahan baru, kendaraan pengangkut ditargetkan bisa kembali melayani hingga empat kali ritase per hari. Peningkatan frekuensi ini sangat krusial untuk efisiensi penanganan volume sampah Mataram Ramadhan.
Selain itu, DLH juga telah menyiapkan skema cadangan untuk mengantisipasi kendala teknis di TPA. TPS Bintaro masih disiagakan sebagai lahan antisipasi atau buffer zone. Jika ada kelebihan volume sampah yang tidak tertangani segera, sampah akan dioper atau ditampung sementara di TPS Bintaro. Sementara itu, TPS di wilayah Sandubaya sudah penuh dan tidak memungkinkan lagi untuk diisi.
Sumber: AntaraNews