Tradisi Abadi: Bubur Peca Khas Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda Lestarikan Resep Leluhur
Nikmati kelezatan Bubur Peca, hidangan tradisional khas Samarinda yang diwariskan turun-temurun di Masjid Shiratal Mustaqiem, cocok untuk berbuka puasa dan ramah pencernaan.
Masjid Shiratal Mustaqiem, masjid tertua di Kota Samarinda, dengan setia melestarikan tradisi kuliner leluhur dengan menghidangkan bubur peca bagi jamaah yang berbuka puasa. Hidangan tradisional khas wilayah setempat ini menjadi daya tarik tersendiri selama bulan Ramadan. Bubur peca adalah warisan kuliner yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat Kampung Masjid Samarinda.
Mardiyana, atau akrab disapa Alus, seorang juru masak yang telah mengabdi selama 22 tahun, menjelaskan bahwa bubur ini merupakan perpaduan unik dari nasi, santan, kaldu ayam kampung, dan bumbu rempah rahasia. Kombinasi bahan berkualitas ini menghasilkan tekstur lembut yang sangat baik untuk pencernaan setelah seharian berpuasa.
Setiap harinya, hidangan legendaris ini disiapkan dengan dedikasi tinggi, dimulai sejak pagi hari dan membutuhkan proses memasak yang panjang. Ratusan porsi bubur peca selalu ludes diserbu jamaah menjelang waktu berbuka, menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat.
Warisan Rasa dan Manfaat Kesehatan Bubur Peca
Bubur peca bukan sekadar hidangan biasa, melainkan cerminan kekayaan budaya kuliner Kampung Masjid Samarinda yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Resep otentik ini dijaga dengan cermat, memastikan setiap suapan membawa cita rasa sejarah. Juru masak Alus, yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade untuk tradisi ini, menjadi salah satu penjaga warisan tersebut.
Komposisi bubur ini terdiri dari bahan-bahan pilihan seperti nasi, santan kelapa segar, kaldu ayam kampung yang kaya rasa, serta racikan bumbu rempah rahasia. Perpaduan ini menciptakan harmoni rasa yang khas dan tak tertandingi. Keunikan resep ini menjadi rahasia di balik kelezatan bubur peca yang melegenda.
Selain kelezatannya, bubur peca juga dikenal memiliki khasiat baik untuk kesehatan, terutama bagi mereka yang baru saja berpuasa. Teksturnya yang sangat lembut membuatnya ramah di pencernaan, bahkan disebut-sebut baik bagi penderita penyakit maag. Banyak jamaah merasakan manfaat positif dari konsumsi bubur ini.
Dedikasi dalam Proses Memasak dan Distribusi Bubur Peca
Proses pembuatan bubur peca membutuhkan dedikasi dan kesabaran luar biasa dari tim juru masak Masjid Shiratal Mustaqiem. Setiap hari, pengolahan bahan dimulai sejak pukul delapan pagi, dengan adukan adonan yang konsisten selama lima jam penuh. Proses panjang ini sengaja dipertahankan untuk mencapai tekstur bubur yang sempurna dan memastikan bumbu rempah meresap dengan baik.
Antusiasme masyarakat terhadap bubur peca sangat tinggi, terbukti dari volume bahan baku yang dihabiskan setiap hari. Sebanyak 25 kilogram beras diperlukan untuk memenuhi permintaan jamaah dan warga setempat. Ini menunjukkan betapa bubur peca telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi berbuka puasa di Samarinda.
Dari total bahan yang dimasak, sepuluh kilogram bubur peca disajikan langsung di pelataran masjid bagi jamaah yang berbuka puasa di sana. Sementara itu, lima belas kilogram sisanya dibagikan kepada warga untuk dibawa pulang, memungkinkan lebih banyak orang menikmati hidangan istimewa ini. Panitia masjid juga berinovasi dengan merotasi lauk pendamping setiap hari, seperti ayam bistik, ayam suwir, hingga telur bumbu merah, agar jamaah tidak bosan.
Menjelang azan Magrib, pemandangan ratusan porsi bubur peca yang ludes diserbu jamaah menjadi hal rutin. Banyak jamaah datang dengan membawa wadah makan sendiri dari rumah, menunjukkan betapa mereka menantikan hidangan otentik ini. Tradisi ini tidak hanya melestarikan kuliner, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Sumber: AntaraNews