Tahukah Anda? Tim SAR Bali Ubah Status Pencarian Korban Banjir Jadi Pemantauan Setelah 9 Hari, 4 Orang Masih Hilang
Tim SAR gabungan di Bali resmi mengubah **status pencarian korban banjir** menjadi pemantauan setelah sembilan hari. Empat korban masih hilang, akankah mereka ditemukan?
Tim SAR gabungan di Bali secara resmi menghentikan operasi pencarian besar-besaran terhadap korban hilang akibat banjir. Keputusan penting ini diumumkan oleh Kepala Kantor Basarnas Bali, I Nyoman Sidakarya, di Denpasar pada hari Kamis. Langkah ini diambil setelah upaya pencarian intensif selama sembilan hari tidak membuahkan hasil signifikan.
Perubahan status dari pencarian aktif menjadi pemantauan ini berlaku untuk empat korban yang masih belum ditemukan. Mereka adalah Made Suwitri di Denpasar, serta Rio Hadnar Boelan, Bewi Ratnawati Soenarjo, dan Riviere Timothy George di Badung. Total 18 orang telah meninggal dunia akibat bencana banjir besar yang melanda wilayah Bali.
Meskipun pencarian dihentikan, Basarnas Bali akan tetap melakukan pemantauan di lokasi-lokasi yang dianggap potensial. Koordinasi dengan unsur SAR di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar juga terus dilakukan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.
Status Baru Pencarian Korban Banjir di Bali
Kepala Kantor Basarnas Bali, I Nyoman Sidakarya, menjelaskan bahwa penghentian pencarian ini telah diresmikan. "Sore tadi Kamis, secara resmi menghentikan pencarian terhadap seluruh korban banjir di wilayah Bali," kata Sidakarya. Keputusan ini diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap upaya pencarian yang telah dilakukan.
Penggantian status menjadi pemantauan ini memiliki dasar hukum yang jelas. Hal tersebut sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. Metode pencarian secara besar-besaran kini digantikan dengan pendekatan yang lebih terfokus pada pemantauan.
Basarnas Bali memastikan bahwa pemantauan akan tetap dilakukan di titik-titik potensial. Komunikasi intensif juga telah dijalin dengan keluarga korban yang masih menunggu kabar. "Sementara itu untuk satu orang korban yang masih belum ditemukan di Kota Denpasar juga dilaksanakan pemantauan," tambahnya.
Rincian Korban dan Upaya Pencarian yang Telah Dilakukan
Bencana banjir yang melanda Bali sejak Rabu (10/9) lalu telah menimbulkan duka mendalam. "Dapat kami sampaikan bahwa hingga hari ini jumlah korban meninggal yang diakibatkan oleh bencana banjir yang melanda Pulau Bali adalah sebanyak 18 orang," ujar Kepala Kantor Basarnas Bali. Sementara itu, empat orang lainnya masih belum ditemukan hingga kini.
Korban hilang tersebut meliputi Made Suwitri (43) di Denpasar. Kemudian ada Rio Hadnar Boelan (56), Bewi Ratnawati Soenarjo (57), dan Riviere Timothy George (23) yang merupakan satu keluarga di Kabupaten Badung. Wilayah terdampak parah meliputi Denpasar, Jembrana, Badung, dan Gianyar.
Tim SAR gabungan telah mengerahkan seluruh kemampuan selama lebih dari sepekan. Berbagai metode pencarian seperti penyisiran sungai dan penggunaan perahu karet telah dioptimalkan. "Setelah kita evaluasi beberapa hari dan tidak ada tanda korban ditemukan, maka hari ini upaya pencarian dengan mengerahkan unsur SAR gabungan dan pengerahan alut kita hentikan," jelas Sidakarya.
Dampak dan Ucapan Duka Cita Basarnas Bali
I Nyoman Sidakarya menyadari betul kerugian yang dialami masyarakat Bali akibat banjir besar ini. Kerugian tersebut sangat beragam, mulai dari materi, kerusakan infrastruktur, hingga kehilangan tempat tinggal. Dampak psikologis juga menjadi perhatian serius bagi para korban dan keluarga.
Atas nama Basarnas Bali, ia mengucapkan duka cita yang mendalam kepada seluruh keluarga korban. "Untuk itu ia mengucapkan duka cita yang mendalam kepada seluruh keluarga korban," demikian pernyataan resminya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Apresiasi tinggi juga disampaikan kepada seluruh tim SAR gabungan yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini. Kerja keras dan dedikasi mereka dalam mencari korban patut diacungi jempol. Semangat kebersamaan ini menjadi kekuatan utama dalam penanganan bencana.
Sumber: AntaraNews