Fase Rehabilitasi Dimulai, 17 Korban Jiwa: Mitigasi Banjir Bali Masuk Tahap Pemulihan Penuh

Setelah banjir surut total, Mitigasi Banjir Bali kini berfokus pada rehabilitasi dan rekonstruksi. BNPB laporkan 17 korban jiwa, 5 masih hilang. Bagaimana upaya pemulihan ini berjalan?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fase Rehabilitasi Dimulai, 17 Korban Jiwa: Mitigasi Banjir Bali Masuk Tahap Pemulihan Penuh
Setelah banjir surut total, Mitigasi Banjir Bali kini berfokus pada rehabilitasi dan rekonstruksi. BNPB laporkan 17 korban jiwa, 5 masih hilang. Bagaimana upaya pemulihan ini berjalan? (Merdeka.com)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, mengonfirmasi bahwa genangan air banjir di seluruh wilayah Bali telah surut sepenuhnya. Pernyataan ini menandai pergeseran fokus pemerintah dari penanganan darurat ke fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Kondisi ini memberikan harapan baru bagi warga terdampak untuk segera kembali ke kehidupan normal.

Sebanyak 185 pengungsi dari berbagai daerah terdampak kini telah dapat kembali ke rumah masing-masing seiring dengan membaiknya situasi di lapangan. Tim gabungan terus bekerja keras untuk mempercepat pemulihan dan memastikan seluruh kebutuhan korban terpenuhi dengan baik. Upaya pencarian korban yang masih hilang juga terus dilakukan tanpa henti oleh petugas.

Banjir yang melanda Pulau Dewata ini terjadi setelah hujan deras mengguyur selama lebih dari 24 jam, dimulai sejak Selasa, 9 September. Bencana ini menyebabkan banjir dan tanah longsor di 123 lokasi yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota, termasuk Denpasar, Badung, dan Gianyar, memicu kerusakan signifikan pada infrastruktur dan permukiman warga.

Penanganan Korban dan Proses Pencarian yang Berlanjut

Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali per Jumat malam, bencana banjir ini telah merenggut 17 korban jiwa. Selain itu, lima orang lainnya masih dilaporkan hilang dan terus dalam pencarian intensif oleh tim SAR gabungan. Proses pencarian ini menjadi prioritas utama di tengah fase pemulihan Mitigasi Banjir Bali.

Kepala BNPB Suharyanto menegaskan komitmen pemerintah untuk melanjutkan pencarian korban hilang. "Pencarian korban hilang akan terus dilanjutkan. Jangka waktu emas (golden timeframe) adalah enam hingga tujuh hari," ujarnya. Koordinasi erat antara pemerintah pusat, daerah, dan berbagai mitra terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

Seluruh kebutuhan komunitas ditangani secara kolaboratif sebelum memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi skala penuh. Hal ini mencakup penyediaan logistik, bantuan medis, hingga dukungan psikososial bagi para korban. Pemerintah berupaya memastikan tidak ada warga yang terlewat dari bantuan akibat Banjir Bali.

Dukungan Pemerintah Pusat dan Pemulihan Infrastruktur

Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pemerintah untuk mempercepat upaya pemulihan pascabanjir di Bali. Arahan ini segera ditindaklanjuti dengan kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming ke pos-pos pengungsian pada Jumat sore. Kunjungan ini menunjukkan komitmen serius dari pemerintah pusat terhadap Mitigasi Banjir Bali.

Wapres Gibran mengunjungi posko pengungsian di Banjar Tohpati dan Banjar Sedana Mertha, Kota Denpasar, untuk memberikan semangat kepada warga terdampak. Ia juga memastikan bahwa rumah dan toko yang rusak akan diperbaiki melalui upaya bersama antara lembaga pemerintah dan pemangku kepentingan lokal. Hal ini penting untuk mengembalikan aktivitas ekonomi warga.

Selain itu, Gibran juga menyempatkan diri melayat ke rumah salah satu korban meninggal dunia sebagai bentuk simpati mendalam. Ia juga meninjau Pasar Badung yang masih dalam proses pembersihan sisa-sisa banjir. Pasar ini sempat terendam air setinggi hampir dua meter, menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas dan barang dagangan.

Selama proses pembersihan di area parkir Pasar Badung, dua mobil dan 43 sepeda motor berhasil dievakuasi dari genangan. Kendaraan-kendaraan ini sebelumnya terendam total, menunjukkan betapa parahnya dampak banjir di lokasi tersebut. Pembersihan menyeluruh terus dilakukan untuk mengembalikan fungsi pasar sebagai bagian dari pemulihan Banjir Bali.

Kronologi dan Dampak Awal Bencana

Bencana banjir yang melanda Bali dimulai setelah hujan deras mengguyur pulau tersebut selama lebih dari 24 jam, dimulai sejak Selasa, 9 September. Curah hujan ekstrem ini memicu peningkatan debit air sungai dan meluapnya saluran drainase di berbagai wilayah. Kondisi ini diperparah dengan topografi Bali di beberapa daerah yang rawan bencana.

Pada 10 September, BPBD mencatat banjir dan tanah longsor terjadi di 123 lokasi yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota. Daerah yang paling terdampak meliputi Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, Klungkung, Karangasem, dan Jembrana. Skala bencana ini menunjukkan betapa luasnya area yang terkena dampak.

Kerugian materiil akibat bencana ini sangat signifikan, mulai dari kerusakan rumah warga, fasilitas umum, hingga lahan pertanian. Ribuan warga terpaksa mengungsi untuk mencari tempat yang lebih aman. Upaya Mitigasi Banjir Bali kini berfokus pada pemulihan jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa di masa depan dan membangun ketahanan wilayah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi