Suara Mama-Mama Papua Menjaga Ruang Hidup
Wilayah-wilayah adat menghadapi tekanan Proyek Strategis Nasional (PSN) Merauke —seturut ambisi pemerintah membuka lumbung pangan dan energi skala raksasa.
Benang serta daun direntangkan, tangan bekerja, dan cerita mengalir pelan. Demikian lintasan suasana media gathering 'Mama Merajut, Mama Bercerita' dalam rangkaian Pesta Pinggiran 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (25/1).
Perempuan-perempuan Papua melantai sambil merajut, sementara para jurnalis, kreator konten, dan
aktivis meriung membentuk lingkaran. Dalam agenda yang diinisiasi Project Multatuli ini, perempuan-perempuan Papua berbagi kisah perjuangan, mulai dari penolakan terhadap perampasan
wilayah adat, hingga kerja-kerja merawat ruang hidup, identitas, dan masa depan.
"Kalau hutan sudah digusur, bambu, rotan, daun obat, dan makanan mau dapat di mana? Nanti kita
semua susah, anak cucu menderita," kata Mama Alowsia, perempuan adat Suku Yei.
Bagi Mama Alowsia, hutan bukan sekadar bentang alam. Ia adalah ruang hidup. Di sela rajutan, Mama
Alowsia berkisah tentang perjuangan mempertahankan tanah adat Marga Kwipalo dari ekspansi PT
Murni Nusantara Mandiri (MNM).
Sejak medio 2024, Mama Alowsia dan suaminya, Vincen Kwipalo tegas menolak aktivitas perusahaan. Penolakan itu berujung tekanan. Orang perusahaan dan aparat kerap mendatangi rumah mereka di
Kampung Blandin Kakayo, Distrik Jagebob, Merauke, Papua Selatan.
"Kadang Mama menangis pas dengar suara backhoe tengah malam,” keluh Mama Alowsia.
Meski demikian, Marga Kwipalo tetap bertahan. Mereka pasang sasi (larangan), papan peringatan, dan
menandai batas wilayah adat dengan cat merah. Vincen Kwipalo, sebagai pemimpin marga, juga
melaporkan dugaan penggelapan tanah adat dan tindak pidana perkebunan oleh PT MNM ke Mabes
Polri pada November 2025 —didampingi Solidaritas Merauke, koalisi organisasi masyarakat sipil yang
fokus pada kerja-kerja advokasi untuk korban PSN.
Apa yang dialami Mama Alowsia bukan peristiwa tunggal. Di Papua Selatan, wilayah-wilayah adat menghadapi tekanan Proyek Strategis Nasional (PSN) Merauke —seturut ambisi pemerintah membuka lumbung pangan dan energi skala raksasa.
Proyek ini mencakup lebih dari dua juta hektare, dengan macam-macam peruntukan mulai dari cetak sawah, kebun tebu, sawit, hingga pabrik bioetanol.
Cerita perlawanan atas PSN Merauke datang pula dari Mama Rufina Gebze, perempuan adat Marind
Anim dari Kampung Onggari, Distrik Malind, Merauke. Wilayah adatnya masuk konsesi kebun tebu PT
Borneo Citra Persada (BCP) —Jhonlin Group— seluas lebih dari 50 ribu hektare.
"Kami tidak tahu PSN. Tidak ada sosialisasi. Tiba-tiba dengar dari LBH Merauke: hutan dan tanah kami masuk PSN,” ujar Mama Rufina.
Lewat musyawarah adat, warga Onggari memutuskan menolak PSN Merauke. Pada Mei 2025, mereka
pasang salib merah dan sasi adat sebagai tanda larangan masuk hutan. “Salib itu simbol agama, sasi itu kesepakatan adat lima marga. Kalau melanggar, kami serahkan pada Tuhan dan leluhur,” kata Mama
Rufina.
Pada Juni 2025, Mama Rufina —bersama Solidaritas Merauke— juga berangkat ke Jakarta guna
menyampaikan sikap warga Onggari kepada Kementerian HAM, Komnas HAM, serta Komnas Perempuan.
“Saya lakukan ini karena saya Mama. Kalau tanah dan hutan tidak ada, bagaimana anak-anak kami?”
Menjaga Hutan Terus Menyempit
Dari wilayah Papua lainnya, Mama Rosita Tecuari, Ketua Organisasi Perempuan Adat (ORPA) Namblong,
melukiskan hutan sebagai rumah, dapur, laboratorium, dan supermarket bagi orang Papua.
"Bagi orang Papua, hutan adalah hidup. Kami siap mengorbankan nyawa demi tanah dan hutan," kata Mama Rosita.
Wilayah adat Suku Namblong di Kabupaten Jayapura, Papua telah mengalami perampasan sejak era
1970-an —mulai dari proyek kebun cengkeh hingga berganti jadi area transmigrasi. Wilayah adat seluas 53 ribu hektare sudah susut. Kini, sisa hutan terancam konsesi sawit PT Permata Nusa Mandiri (PNM).
Meski izin perusahaan itu sempat dicabut pemerintah pada 2022, aktivitasnya tak pernah benar-benar
berhenti. Aksi massa, pernyataan sikap, hingga audiensi dengan pemerintah bolak-balik dilakukan.
Perlawanan perempuan Namblong tidak selalu hadir dalam bentuk aksi terbuka.
Ia juga menjelma dalam kerja-kerja perawatan. Sejak 2018, ORPA mendirikan Sekolah Budaya Namblong antara lain untuk merawat bahasa ibu.
“Bahasa (adat) kami terancam punah, karena dulu dipaksa berbahasa Indonesia,” ujar Mama Regina Bay, salah seorang pengajar.
Sekolah Budaya Namblong punya jadwal dua kali sepekan. Kurikulum yang diajarkan bersifat informal,
menyesuaikan dengan kearifan lokal. Sebagai misal, anak-anak diajak ke hutan dengan tujuan belajar
bahasa ibu sekaligus mengenal ruang hidupnya. Spirit itu juga diteruskan kepada generasi muda antara lain lewat Suara Grime Nawa (Suara Grina) —wadah jurnalisme warga dan pendokumentasian
pengetahuan adat yang berada di bawah naungan ORPA.
“Kami melakukan pendokumentasian, misalnya untuk cerita dari para nene dan tete, atau batas-batas
wilayah adat,” kata Vebbry Hembring, Koordinator Suara Grina.
Anak-anak muda ini juga melakukan patroli hutan untuk mencegah pembalakan liar dan jerat satwa.
“Lewat patroli, kami jaga hutan, sekaligus mendekatkan pemuda dengan wilayah adatnya” ujar Vebbry.
Daya tahan, perlawanan, dan kerja perawatan yang dijalankan perempuan-perempuan Papua ini
berlangsung di tengah situasi genting. Pasalnya, Papua merupakan benteng terakhir hutan alam
Nusantara. Bentang alamnya relatif lebih utuh dibanding pulau-pulau lain. Namun perampasan wilayah
adat dan ekspansi proyek skala besar terus menggerusnya.
Pemantauan Yayasan Pusaka menunjukkan adanya deforestasi seluas 761 hektare di Papua hanya dalam
kurun Januari–Februari 2024. Dengan kata lain, dalam dua bulan, Papua kehilangan hutan dengan luasan setara 1.500 lapangan sepak bola. Angka ini menegaskan urgensi suara mama-mama Papua untuk
didengarkan.
Dalam konteks itulah, Pesta Pinggiran 2026 (24–25 Januari) menghadirkan perempuan-perempuan
Papua sebagai pembuat karya sekaligus penutur cerita.
Karya foto perempuan Suku Namblong ditampilkan dalam instalasi “Rumah Mama – Voice of
Mama-Mama” —hasil kolaborasi ORPA, Suara Grina, Photovoices International, dan Alinea. Sedangkan
Mama Alowsia dan Mama Rufina dari Merauke tampil sebagai pembicara dalam Bincang Pinggiran serta
mempersembahkan senandung khas Orang Marind di Panggung Pinggiran.