Sikap Tegas Inggris: Tak Goyah Soal Greenland Meski Ancaman Tarif AS Mengintai
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan sikap Inggris tidak akan mengalah terkait masa depan Greenland, meskipun menghadapi ancaman tarif dari Amerika Serikat. Simak detail ketegangan diplomatik ini.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa negaranya tidak akan mengubah prinsip dan nilai-nilainya terkait masa depan Greenland. Pernyataan ini disampaikan pada sesi tanya jawab mingguan di House of Commons pada Rabu, 21 Januari. Sikap ini muncul di tengah tekanan dan ancaman tarif dari Amerika Serikat.
Ancaman tarif AS datang setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 10 persen pada barang dari delapan negara Eropa, termasuk Inggris, mulai 1 Februari. Tarif ini dapat meningkat menjadi 25 persen pada Juni jika kesepakatan “pembelian penuh dan total Greenland” tidak tercapai. Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak akan menyerah pada ancaman tersebut.
Ketegangan diplomatik ini berpusat pada kedaulatan Greenland, sebuah wilayah otonom Denmark di Amerika Utara. Pernyataan Starmer menggarisbawahi posisi London yang teguh dalam menghadapi tekanan ekonomi dari Washington. Situasi ini menunjukkan dinamika hubungan antara kedua negara sekutu.
Ancaman Tarif AS dan Respons Inggris
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengkritik kesepakatan Inggris mengenai Kepulauan Chagos, menyebutnya sebagai “tindakan kebodohan besar”. Starmer menanggapi bahwa kritik tersebut secara khusus dimaksudkan untuk menekan dirinya dan Inggris terkait sikap London mengenai Greenland. Ini menunjukkan adanya upaya AS untuk menggunakan isu lain sebagai leverage.
Starmer juga menyoroti perbedaan antara kritik Trump saat ini dengan “kata-kata sambutan dan dukungan” yang pernah disampaikan Presiden AS itu sebelumnya. Perubahan nada ini mengindikasikan pergeseran dalam hubungan diplomatik antara kedua negara. Inggris tetap pada pendiriannya meskipun ada tekanan verbal dan ancaman ekonomi.
Ancaman tarif 10 persen yang akan berlaku pada 1 Februari dan berpotensi naik menjadi 25 persen pada Juni merupakan langkah serius dari AS. Kebijakan ini bertujuan untuk memaksa Inggris agar menyetujui “pembelian penuh dan total Greenland” oleh Amerika Serikat. Namun, Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak akan goyah di bawah ancaman tersebut.
Isu Chagos dan Kedaulatan Inggris
Dalam sesi tanya jawab tersebut, Starmer juga menekan pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch atas komentarnya terkait kesepakatan Chagos. Starmer menuding Badenoch “mendukung argumen yang dimaksudkan untuk melemahkan posisi Inggris soal Greenland”. Ini menunjukkan adanya perpecahan politik internal di Inggris terkait isu-isu kedaulatan.
Pada Mei lalu, Inggris menandatangani kesepakatan penting untuk menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius. Kesepakatan ini dicapai sebagai imbalan atas pengamanan pangkalan militer strategis Inggris-AS di wilayah tersebut. Mauritius kini memperoleh kendali atas kepulauan tersebut.
Meskipun kedaulatan Chagos diserahkan, AS dan Inggris tetap dapat mengoperasikan pangkalan militer strategis Diego Garcia selama 99 tahun ke depan. Kesepakatan ini menunjukkan kompleksitas dalam menjaga kepentingan strategis sambil menyelesaikan sengketa kedaulatan. Isu Chagos menjadi latar belakang penting dalam ketegangan mengenai Greenland.
Sumber: AntaraNews